
Hari ini perasaan aku nggak karuan.Kenapa juga aku harus merasakan sesuatu yang aneh terhadap Bima.Mana sebentar lagi aku akan meresmikan hubunganku dengan Abrary.Jadi buat apa aku harus punya perasaan yang aneh aneh pada Bima.
Aku menepati janjiku pada kak Barata yang tidak lain adalah kakaknya Bima.Gambar wajah Bima yang ku lukis,masih bertengger manis diatas ranjangku.
Aku menghubungi kak Bara untuk mengajak bertemu sore ini di tempat pertama kali aku mengikrarkan janjiku padanya perihal lukisan Bima,karena pagi ini aku harus ke kampus.
Selain ada mata kuliah,aku juga harus menghadap bapak rektor.Ada urusan apa ?aku sendiri pun masih bertanya tanya.
Di kampus,aku hanya duduk diam saat menerima materi kuliah,begitupun dengan Bima.
Kami tidak seperti biasanya,sering bercanda,bahkan saling mengejek tentang Laras.Bahkan saat jam istirahat,hanya aku dan Laras yang bareng ke kantin.
"Kamu kenapa sih,Lia ?"
"kenapa apanya ?"
"Kamu berantem sama Bima ?"
Aku mendelik."kok nanyanya begitu ?"
Alis Laras naik turun nyebelin.Kalau jahilnya sedang kumat,Laras asli nyebelin.
"Abis udah beberapa hari ini kalian berdua diam diaman gitu.Biasanya kita sering jalan bareng bertiga.Sekarang Bima pun udah jarang ngobrol sama aku.Kamu apain dia ?"
"Kok aku ?tanya aja sama dia.Aku sama dia biasa biasa aja kok.Mungkin dianya udah malas kali jalan Ama cewek."Kataku menahan tawa mengingat aku pernah mengatainya homo.
Sedang asik ngobrol sama Laras,Bu Hanifa datang dan mengajakku pergi ke ruang rektor Katanya ada hal penting yang mau disampaikan.
Aku menatap Laras yang sama bingungnya dengan aku.
Aku mengikuti Bu Hanifa menuju ke ruangan rektorat.Sesampainya di depan ruang rektor,Bu Hanifa meninggalkan aku menunggu diluar,sementara dia masuk ke dalam ruangan.
Sementara menunggu,mataku membelalak melihat Bima berjalan ke arahku.
"Kamu ngapain ke sini ?"tanyaku begitu Bima berhenti tepat di depanku.
"Ngikutin kamu.Habis aku nggak tahan jauh jauh dari kamu."
JLEEBB,,,,,
Jantungku rasanya ingin meloncat keluar,perkataan Bima membuat rona merah di pipiku kian merekah.Kenapa juga aku harus malu begini ?mengherankan.
"Jangan mulai lagi,,aku nanyanya seriusan."
"Aku juga jawabnya serius.Kapan aku pernah main main sama kamu."
"Bimaaaaa,,,,,,,,"aku teriak tertahan.
"Apaaaaaaa,,,"Bima pun menjawab dengan mengulum senyum.
Akhirnya kami berakhir dengan tawa sampai bu Hanifa membuka pintu dan menyuruh kami masuk.
Wajah yang tadinya sumringah menjadi tegang saat berhadapan dengan bapak Danang Santoso yang merupakan kepala rektor kampus.
"Masuk,,,,dan silahkan duduk."
Aku dan Bima saling pandang dan menuruti perintah untuk duduk di tempat yang telah ditunjuk.
"Apa kalian tau kenapa kalian berdua dipanggil ke sini ?"
"Tidak pak."Jawab kami bersamaan.
"Kalian berdua akan keluar kota ?"
"Kalian ? maksudnya ?"tanya Bima menatap penuh tanya pada pak Danang.
"Saya sama Bima ,pak ?"tanyaku menunjuk Bima yang belakangan ini mengganggu pikiranku.
"Iya,,,,kalian berdua,kamu sama Bima .Dan kalo kalian ingin tau alasannya kenapa,dengerin baik baik."Bapak Danang menyodorkan sebuah berkas yang lebih mirip sebuah undangan dari kampus lain untuk kompetisi melukis.
" menurut Bu Hanifa,kalian berdua punya bakat yang luar biasa dari yang lainnya.Makanya kalian berdua mendapat kehormatan mewakili kampus kita untuk ikutan kompetisi di Jogyakarta.Kalo bisa lolos,kalian bisa berangkat ke jepang untuk mengikuti acara finalnya.Gimana?"
Aku dan Bima saling bertatapan,alangkah bahagianya aku saat ini mendapat kesempatan mengikuti kompetisi besar yang sudah aku idamkan dari dulu.
Tapi rasa senang yang terpancar di wajahku seketika memudar,dan Bima menyadari hal itu karena sedari tadi dia selalu menatapku.
Aku berpikir,bagaimana mungkin Abrary akan mengijinkan aku mengikuti kompetisi ini,apalagi bersama Bima selama berbulan bulan.
"Kami nggak bisa memutuskan ini sekarang pak,kami harus memikirkannya dulu."Ucap Bima mewakili aku yang masih terdiam dengan lamunanku sendiri.
"Baiklah,waktu kalian tidak kurang dari tiga hari.Pikirkan baik baik,kesempatan tidak datang dua kali."
Aku dan Bima permisi untuk keluar ruangan beserta berkas yang masih menempel ditangan kami masing masing.
Laras yang menunggu di taman kampus dengan deg degan, berlari mendekat ketika melihat aku dan Bima berjalan keluar dari gedung rektorat bersamaan.
"Kalian kok bisa barengan ?"Laras menatapku dan Bima secara bergantian."kertas apaan ini ?"Laras merebut kertas yang bertengger di tanganku.
Setelah membacanya,Laras memelukku dan berteriak sekencang kencangnya karena senang aku terpilih sebagai perwakilan kampus.
Kupingku saja serasa ingin meledak mendengar teriakannya.Apalagi Bima yang memasukan jari telunjuknya ke kuping untuk menghindari teriakan Laras yang melengking.
Teriakannya berhenti ketika melihat raut wajahku yang bertampang biasa saja.
"Kamu kenapa ?kok kelihatan nggak senang ?"
"Entahlah,Ras.Aku sendiri bingung,apa harus pergi atau tidak ?"
"Andai saja aku bisa."gumam ku pelan.
"Yang aku tau,menjadi perwakilan kampus harus dua orang.Siapa pasanganmu ?"
Aku menatap Bima.
"Jangan bilang kalo kamu berpasangan sama Bima ?"Tanya Laras yang mengalihkan pandangannya menatap Bima yang sedari tadi hanya diam menatap tingkahku yang sama sekali tidak bahagia dengan kabar ini.
Laras cepat mengerti ketika melihat Bima yang juga memegang kertas yang sama denganku.
"Jadi kalian berdua yang terpilih.Aku bahagia banget,,,, sekaligus sedih sih."kata Laras yang mulai tertunduk lesu.
"Kamu kenapa, Ras."tanyaku melihat perubahan pada raut wajah Laras.
"Kalo kalian berdua pergi,aku bakalan sendirian di kampus ini."
"Dasar oon,,,,kamu pikir,orang orang yang lalu lalang dari tadi di sekitaran kamu ini hantu,"Ujar Bima
"Tapi nggak ada yang kayak kalian berdua."
Seketika Laras sadar,di balik kebahagian yang dia rasakan akan bersamaan dengan kesedihan karena harus kehilangan kedua sahabat yang sangat di sayangnya.
Laras berlari meninggalkan kami sambil menyapu air mata yang menetes dengan punggung tangannya.
Entah dia merasa kehilangan kami sebagai sahabat,atau sebenarnya dia akan merasa kehilangan Bima yang sudah merasuk ke dalam hatinya.
Sepeninggalnya Laras,aku masih duduk mematung tanpa suara.Bima pun hanya mampu menatapku tanpa sedikitpun mengeluarkan suaranya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Seperti janjiku,aku bersiap menemui kak Bara di tempat kami bertemu pertama kali.
Langkahku melambat ketika memasuki kafe,sekelabat bayangan seseorang sedang duduk bersama dengan Bara,yang baru ku ketahui adalah Kenzo.Rekan kerjanya Abrary.
"Hai kak,aku nggak telat kan ?"tanyaku sambil meletakan kan bungkusan berbentuk persegi pesanan kak Bara.
"Tentu saja enggak."Kak Bara mempersilahkan aku duduk.
"Mau minum apa ?kamu juga Ken,sejak tadi kamu belum pesen minum."Tawar kak Bara yang melihat ke arah kami bergantian.
"Segelas jus stobery."Jawab kami bersamaan.
Kak Barata terkejut mendengar pesanan kami.
Begitupun aku,seketika aku menatap ke arah Kenzo.
"Ternyata minuman favorite kamu masih sama. "Gumam Kenzo.
"Apaaa,,,?"aku sedikit mendengar ucapan Kenzo yang melintas ditelingaku walaupun pelan.
"Ah,enggak.Aku hanya bilang,rupanya kita sama sama suka sama stobery."
"Aaahh,,,iya."Aku tersenyum.
Menunggu pesanan datang,,,
"Bar,,apa ini ?"Tanya Kenzo.
"Ini hadiah untuk Bima.Aku meminta tolong Lia untuk membuatnya."
"Apa kak Bara nggak mau melihat dulu,"
"Nggak perlu,aku yakin sama kehebatan kamu."
Aku tersenyum mendengar pujian kak Barata padaku."kakak bisa aja "
"Ken,aku ingin membuat kejutan untuk Bima.Kamu mau bantu aku nggak ?"
"Bantuin apa ?"
"Aku ingin buat pesta kejutan.Dan aku ingin meminjam salah satu kafe mu besok malam .Boleh nggak ?"
"Boleh aja.Nanti aku hubungi karyawan ku buat bantuin kamu."
"Makasih banget Ken,tapi Bima jangan tau dulu."
"Ok,tenang aja.Semua bisa di atur."
"Aku boleh ikutan bantuin nggak ?"tanyaku menawarkan bantuan.
Ken sama Bara bertatapan."Tentu saja boleh,kalo nggak merepotkan pastinya."Ujar Bara senang.
"tentu aja nggak merepotkan,lagian aku sama Bima berteman baik di kampus.Jadi aku akan sangat senang bila dapat membantu memberikan kejutan untuknya"
"Andaikan kamu tau Corona.Hadiah terbesar dalam hidup Bima adalah kehadiran kamu."Batin Ken dengan tersenyum.
"Kalo gitu,aku mau permisi pulang dulu."pamitku lalu segera berdiri.
"Apa boleh aku mengantar kamu pulang ?dan kumohon jangan menolak."Ucap Kenzo memaksa dengan mimik wajah memohon.
Aku sampe tak enak menolak dan terpaksa mengiyakan.Entah apa yang ada di pikiranku saat ingin membantu mempersiapkan kejutan untuk Bima.
Dan kenapa justru keinginan membantu mempersiapkan kejutan untuk Bima malah membuat hatiku berdebar tak karuan.