My Name Is CORONA..

My Name Is CORONA..
Bertemu setelah berpisah.....



Laras duduk bersama dengan Bara di sebuah kafe.


Seperti permintaan Barata kepada Laras tempo hari,Bara ingin menemui ku secara langsung untuk memastikan kejanggalan yang tertanam di otaknya.


Segelas kopi capucino yang ada di atas meja terus diaduk oleh Bara sambil sesekali melihat ke arah jam tangan yang melekat di pergelangan tangannya.


Bara tak sabar untuk segera menemui ku.


Aksi tak sabaran yang di lakukan Bara terus di perhatikan oleh Laras sambil menyeruput es jeruk yang ada di tangannya.


"Sabar aja kak,bentar lagi dia bakalan datang kok.Lia itu nggak pernah telat,dia selalu on time."Ucap Laras yang langsung disambut Bara dengan senyuman.


Sebelum berangkat dari rumah,Bara menjemput Laras di rumahnya dengan sepeda motor.


Mereka tiba di kafe lima belas menit lebih awal dari waktu perjanjian,dan itu sudah sangat membuat Bara gelisah karena menunggu.


Seperti kata Laras,aku datang on time,bahkan kurang semenit dari perjanjian waktu ketemu pukul lima sore.


Laras mengangkat tangan dengan sebuah senyuman di bibirnya menyambut kedatangan ku yang baru saja memasuki pintu depan kafe.


Bara yang duduk berlawanan arah dengan Laras,tiba tiba menjadi diam,dia sampai tak berani melihat kearahku saking deg degan.


Padahal sedari tadi dia tak bisa tenang dan selalu saja menatap ke arah pintu masuk yang berada di belakangnya menunggu kedatanganku.


Aku yang berdiri tepat di belakang Bara hanya mematung sambil mengangkat kedua alisku seakan bertanya dengan isyarat siapa lelaki yang sedang duduk bersama dengan Laras saat ini.


Laras tersenyum menatapku dan kak Bara bergantian.


"Kak,kenalin.Ini sahabatku Lia."Ucap Laras sambil mempersilahkan aku duduk di kursi kosong yang berada tepat di antara mereka.


Aku tersenyum sambil menjulurkan tanganku ke arah kak Bara yang langsung berdiri kaget tepat di saat aku mendaratkan pantatku di kursi.


Bara terperangah melihatku ada di depannya,membuatku melihat ke arah Laras dengan senyuman yang mulai memudar kemudian mendongak menatap kak Bara yang sedang berdiri di depanku.


"Kak,,,,kak Bara.Ini sahabatku Lia."Ulang Laras lagi membuyarkan lamunan Bara.


"Oh,,,,maaf.Aku Barata temannya Laras."Ucap Bara menyambut uluran tanganku yang sempat di biarkan sedari tadi mengambang di udara kemudian duduk kembali.


"Pacar kamu ya,Ras ?"Godaku sambil tersenyum.


"Asal kamu,,,, ! Ini kakaknya Bima.Lelaki yang aku ceritain sama kamu waktu itu."Timpal Laras.


"Apa benar kamu bukan Lia yang ku kenal ? Kenapa dia tak mengenali aku ?Tapi kamu benar benar mirip,bahkan sangat mirip."Batin Bara tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari wajahku.


"Ada apa kamu ngajak ketemuan ?"tanyaku sambil membenarkan posisi dudukku.


"Kak,aku yang katakan atau kakak yang akan katakan sendiri ?"


Bara berdehem mengatur tingkat keterkejutannya dan mengendalikan saltingnya karena aku mulai menatapnya menunggu dia ngomong.


"Gini,aku dengar dari Laras kalo kamu jago dalam melukis."


"Bisa aja kamu,Ras."Wajahku menunduk.


"Loh,,,,emang bener kan.Bahkan hasil lukisan kamu dipajang di Mading kampus karena sangat mirip sama aslinya."


Wajahku langsung merona mendengar pujian dari Laras.


"Terus apa hubungannya sama kakak ?" tanyaku sambil menatap ke dalam mata kak Bara yang sedari tadi tanpa henti melihatku, membuatku sampai salting.


"Aku ingin kamu melukis sebuah foto,aku akan menghadiakan sebuah lukisan kepada adikku yang akan berulang tahun, karena dia juga sangat suka melukis, tapi tak ada satupun lukisan gambar dirinya yang di buat."


"Aku tak bisa kak,aku masih belajar.Aku takut kalo nanti hasil lukisanku akan mengecewakan." Tolakku halus agar tak menyinggung perasaan kak Bara.


"Ya ampun Lia,di coba aja dulu.Masalah bagus atau enggaknya kita lihat aja nanti setelah lukisannya jadi.Gimana ?"


"Aku mohon "Pinta Bara memelas.


"Baiklah,akan aku coba."Ucapku dengan sebuah senyum menatap Laras.


Bunyi dering ponsel terdengar di dalam tas salempang yang tergeletak di atas meja.


Aku membuka tas dan mengaduk isinya mencari ponselku yang sedari tadi bergetar.


Aku tersenyum lebar ketika membaca nama siapa yang muncul di layar ponselku.


"Halo,,,"


"......."


"Kapan ?"


"......"


"Dimana ?"


"......"


"Nggak usah di jemput,kita ketemuan aja di sana,sampai nanti malam"


Aku meletakan ponselku di atas meja begitu selesai menelpon.


"Ada apa Lia ?siapa yang telpon ?"tanya Laras ingin tahu.


"Abrar,dia ngajak aku dinner malam ini,katanya ada resto Jepang yang baru buka,jadi dia pengen ngajak aku ke sana."


"Romantis banget si Abrar,jadi pengen punya pacar kayak gitu."


"Bisa aja kamu.Eh,,,,maaf kak.Kami berdua jadi cuekin kakak."


"Nggak apa apa.Jadi gimana nih,bisa nggak kamu buatin lukisannya ?"


"Entar aku coba deh kak.Tapi aku nggak janji loh hasilnya bakalan kakak suka."


"Pasti bagus deh,percaya dong Ama kamampuan Lo sendiri."Ucap Laras menyemangati.


"Baiklah,aku nggak akan menyita waktumu,ini fotonya,"Kata Bara sembari menyodorkan sebuah amplop diatas meja di depanku yang langsung ku ambil dan menaruhnya di dalam tas ku.


"Kapan akan di ambil ?"tanyaku


"Seminggu dari sekarang."Jawab Bara singkat.


"Ok,kalo gitu aku permisi yah,aku masih punya janji.Sampai ketemu seminggu lagi."


Pamit ku pada Bara dan Laras.


Aku memeluk Laras dan berjabat tangan dengan Bara kemudian meninggalkan mereka yang masih setia duduk menatap kepergian ku.


🌻🌻🌻


"Kakak aja yang pergi,aku nggak mau .Sampaikan aja salam ku padanya."Ucap Bima yang masih bergelut dengan kuasnya yang dia gores kan pada sebuah kanvas putih di depannya.


"Kalo kakak jadi kamu,kakak nggak akan pernah melepaskan kesempatan ini."


"Kesempatan ?"


"Percaya deh sama kakak,kamu nggak akan menyesal datang ke sana."


"Emang ada apa disana ?aku nggak tertarik lagi dengan apapun."


"Jangan gitu,Sesekali kamu harus hadir di acara seperti itu untuk menikmati hidupmu.Ayolah Bim,kakak nggak mau pergi sendiri.Kalo kami nggak pergi,kakak juga nggak mau."


"Jangan gitu kak,apa kata Ken kalo kita nggak datang."


"Makanya,untuk sekali ini saja kamu ikut kakak ke sana,sekalian refresing dikit."


"Baiklah.Jam berapa acaranya ?'


"Jam delapan malam ini.Dari sekarang kamu harus siap siap,ini udah jam tuju lewat."


"Bentar lagi,ini juga udah mau selesai."


"Ok,kakak siap siap dulu."


Bima hanya mengangguk tanpa sedikitpun membuyarkan konsentrasinya pada kuas dan kanvasnya. Sedangkan Bara meninggalkan Bima untuk kembali ke kamarnya.


Bara sengaja memaksa Bima agar mau ikut ke acara pembukaan resto karena dia tau kalau aku akan datang.


🌻🌻🌻


Sebuah mobil memasuki halaman tempat parkir sebuah Restoran Jepang yang baru saja di buka.


Dua orang pemuda tampan turun dari dalam mobil mengenakan pakaian yang sedikit formal,mereka menjadi bahan perbincangan para kaum hawa yang ada disekitar parkiran karena begitu terpesona dengan kharisma yang terpancar dari wajah keduanya.


Mereka melangkah masuk mencari keberadaan Kenzo.


"Kak Bara,Bima.Aku pikir kalian nggak bakalan datang."Sapa Kenzo begitu melihat kedatangan Bara dan Bima.


"Mana mungkin kami nggak datang,Ken."Balas Bara yang memeluk Kenzo sambil menepuk pundaknya.


"Gimana kabar kamu, Bim ?"Sapa Kenzo sembari bergantian memeluk Bima sambil menepuk pundaknya.


"Aku baik.Kamu sendiri ?"


"Seperti yang kamu lihat.Aku baik,bahkan sangat baik."Ucap Kenzo.


Kenzo mengajak Bara sama Bima bergabung sama rekannya Kenzo yang tak lain adalah Abrary.


"Kenalin,ini Abrary.Teman sekantor aku.Brar,ini sahabat aku"


"Abrary"sapa Abrar sambil mengulurkan tangannya.


"Barata"balas Bara menyambut uluran tangannya.


"Aku Bima."


Setelah sepuluh menit berbincang,Bima merasa gerah dan pamit keluar sebentar cari udara segar.


Bima duduk disebuah taman dekat parkiran yang menghadap langsung ke jalanan.Dia merasa bosan terlalu lama di dalam.


Dia mengamati setiap mobil dan pejalan kaki yang berlalu lalang di hadapannya.


Sebuah taksi berhenti tepat di depan pintu masuk Resto.


Entah mengapa,Bima penasaran dengan siapa yang akan keluar dari dalam taksi.


Seorang wanita mengenakan dress berwarna kuning gading turun dari taksi dengan rambut yang tergerai indah diterpa angin malam.


Mata Bima membulat sempurna begitu melihat ku tersenyum kepada sopir taksi yang mengantarku dengan selamat sampai tujuan.


Nafasnya seakan terhenti,detak jantungnya berdentum cepat,Bima bangkit dari duduknya begitu melihatku.


Aku berjalan masuk kedalam resto sebelum tadi sempat berdiri sejenak di depannya sambil menarik nafas.


Tanpa kusadari,Bima berjalan mengikuti langkahku yang sudah beranjak masuk ke dalam restoran.


Didalam ruangan,aku menyapu pandanganku mencari keberadaan Abrar.Tak butuh waktu lama aku menemukannya diantara tumpukan para tamu undangan yang tidak terlalu banyak.


Aku menghampiri Abrar yang sedang asik ngobrol dengan dua orang.


"Selamat malam,,,apa aku telat ?"Ucapku begitu tiba diantara para lelaki ganteng.


Kenzo menganga,dia tak percaya dengan apa yang di lihatnya.Aku berdiri di depannya dengan senyum yang sama dengan tiga tahun yang lalu.


Berbeda dengan Barata yang sudah bertemu denganku tadi siang.Dia hanya tersenyum menyambut kedatanganku.


"Hai,,,,"Sapa Barata.


"Kak Bara ?kakak juga ada disini ?"tanyaku heran.


"Kamu udah kenal Bara ?dimana ? kapan ?"tanya Abrar tak kalah heran.


"Kalo nanya itu satu satu,,,jadi bingung aku jawabnya."ucapku dengan seulas senyum


"Aku kenal Lia karena bakatnya melukis,dia satu kampus sama Bima dan teman aku Laras.Kami baru aja kenal tadi siang."Jelas Bara.


"Ohhh,,,,,!Lia,kenalin,ini rekan kantor aku sekaligus sahabat aku yang pernah aku ceritain sama kamu."


"Kenzo ?bener kan ?"Sapaku sambil menjulurkan tanganku ke arah Kenzo yang hanya terdiam menatapku seperti melihat hantu.


"Ken !"ucap Abrar sambil menyenggol lengan ken agar tersadar dari diamnya.


"Ah,,,,maaf.Aku Kenzo,,,kamu ?"


"Aku Lia,tunangannya Abary."


Dalam aksi perkenalan yang terlalu banyak keterkejutan,yang satu ini malah membuat jantungku hampir loncat keluar dari tempatnya.


Bima tiba tiba datang dan langsung memelukku dengan erat membuatku kesulitan untuk bernapas.Tapi anehnya,aku tak menghindari pelukannya,aku malah terbuai dan merasa nyaman.


Sebuah pelukan yang selalu ku rindukan untuk dirasakan,tapi tak pernah kurasakan saat Abrar memelukku.


Bara dan Kenzo hanya diam terpaku melihat Bima memelukku,lain halnya dengan Abrar yang kelihatan nggak suka melihat tunangannya di sekap oleh orang lain di depan matanya.