My Name Is CORONA..

My Name Is CORONA..
Berangkat ke Jepang...



Bunda mempersilahkan Bima untuk duduk bersama kami dimeja makan.Kayaknya malam ini aku nggak akan bernafas dengan normal.Apalagi saat kak Ryan bergabung bersama kami,selalu ada saja yang dia lakukan untuk membuatku merasa malu di depan Bima.Kali ini kak fya nggak ikutan makan bersama kami karena dia sedang keluar bersama dengan Lidia temannya.


"Bim,kamu suka main basket nggak..??"Tanya kak Ryan sambil mengunyah makanannya.


"Suka kak.Kalau ada waktu senggang,aku dan kak Bara sering main basket bareng depan rumah."Kata Bima sambil menyendok sup yang ada di depannya.


"Coro juga suka main basket loh..Malahan dia jagoannya saat di SMP dulu."Kata kak Ryan sambil melihat kearahku yang sedari tadi hanya diam saja karena jadi kaku di depan Bima.


Mendengar ucapan kak Ryan yang memujiku.Aku langsung tersedak sampai batuk batuk.Bima langsung meraih gelas berisi air dan langsung memberikannya padaku.Melihat itu,ayah sama bunda saling pandang dan tersenyum.


"Makasih Bim."Jawabku pelan sambil melirik ke arah Bima yang menatapku lekat.


"Benarkah..??"


"Kapan kapan,ajak coro maen.Supaya kamu bisa tau sampe mana jagonya..."


"Apaan sih kak.."Kataku setengah malu.


"Percaya nggak bim.Aku saja bisa main basket karna diajari sama Corona loh."Kata kak Ryan sambil melirik kepadaku dengan tatapan meledek.


"Masa iya,kak.Jadi nggak sabar nih pengen diajak duel."Kata Bima sambil melirik kearahku.


Kalau saja bunda nggak menghentikan bualan kak ryan.Aku nggak tau sampai kapan akan di ledekin sama kak Ryan.


Selesai makan,bunda dan ayah segera kekamar mereka.Sedangkan kak Ryan aku sama Bima duduk diruang tamu.


Tapi beberapa saat kemudian,kak Ryan meninggalkanku dengan Bima sendiri karena dia harus menerima telpon dari temannya.Atau lebih tepatnya gebetannya kak Ryan.Awalnya kami hanya diam karna tak tau harus ngomongin apa.


kenapa juga jadi canggung.Padahal sebelumnya kami baik baik saja.Sampai akhirnya,Bima yang memulai percakapan.


"Gimana keadaanmu,apa sudah lebih baik..??"


tanya Bima sambil menatapku.


"Seperti yang kamu lihat.."


"Aku ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu.Karena melihat sampulnya tidak menjamin isinya..."


"Aku baik baik saja.Bahkan sangat baik dari hari sebelumnya.."


"Syukurlah kalau begitu.Jadi aku tak perlu mengkhawatirkanmu lagi."


"Makasih sudah menjagaku selama di rumah sakit,dan maaf karena sudah membuatmu tesinggung waktu itu."


"Aku yang seharusnya minta maaf karena meninggalkanmu bahkan saat kamu sedang meringis kesakitan. Aku pikir kamu hanya bercanda."


"Emang becanda sih,awalnya.Tapi ternyata langsung sakit beneran...Mungkin kualat kali yah karna bo'ong.."kataku sambil tertawa.


"Eh...Apa benar kalo kamu jago basket??"


"Jago sih enggak.Tapi kalo bisa main,emang bener..."


"Kalo gitu,kapan kapan kita main bareng yah."


"Boleh."


Akhirnya suasana jadi nggak canggung lagi.Kami berbicara seperti sebelumnya.Candaan yang sering Bima lakukan membuatku bisa melupakan semua masalah yang ku hadapi saat ini.Sampai akhirnya Bima pamit untuk pulang karena jam didinding rumahku sudah menunjukan pukul sembilan malam.Lagipula aku harus cepat tidur karena besok aku akan mengantar ayahku ke bandara untuk pergi ke Jepang mengurus bisnisnya disana.


 


\=\=\=\=\=\_\=


Suasana sekolah hari ini sangat ramai.Tapi hari ini,Adel nggak ceria seperti biasanya.Dia lebih banyak diam karena dia tau kalau saat ini aku bakalan berangkat ke Jepang.Bahkan,candaan si kembar pun tak bisa membuat Adel tertawa.


"Del...kamu kenapa sih...??"Tanya Raka sambil melahap bakso yang ada dihadapannya.


"Iya,nih.Nggak biasanya kamu diem.Biasanya juga kayak petasan mulutnya nggak bisa diam."Tambah Reno sambil menyeruput es jeruk yang tinggal setengah.


"Kamu sakit Del??"Tanya Raka kembali sambil meletakan tangannya di dahi Adel dan membuat Adel menepis tangannya.


"Innalillahi wa innailaihi rojiun.Semoga amal ibadahnya diterima sama Tuhan yang Maha Esa."Kata kedua saudara kembar itu bersamaan.Dan itu membuat mata Adel melotot karena geram.


"Siapa yang meninggal...??"Tanya Bima yang langsung gabung duduk bersama mereka.


"Lia....Bim.Makanya aku nggak mau jadi orang baik.Karna yang pasti,orang baik itu cepat dipanggil sama Tuhan.Buktinya saja Cornelia...Karna terlalu baik makanya cepat almarhum."


"Siapa yang bilang kalo Lia meninggal..?Semalam dia baik baik aja."Kata Bima heran.


"No kata si Adel,Lia nggak bisa bareng kita lagi...Apa coba,maksudnya kalau bukan koit "Kata raka sambil memandang Adel yang menatap sikembar seperti akan melahap mereka berdua saking kesalnya.


"Aduuuuuh...Kalian berdua tu yah...Kalo oon jangan kebangetan dong...Siapa juga yang bilang kalau Lia meninggal.Aku kan cuma bilang kalau Lia nggak bakalan bareng kita lagi.Karena hari ini,dia akan berangkat ke Jepang dan sekolah disana."


"Dari mana kamu tau semua ini Del..??"Tanya Bima


"Dari Lia sendiri..Kemarin sore aku datang kerumah nya,dan dia bilang padaku. Emangnya dia nggak bilang apa apa sama kamu...??Karna yang aku tau,dia yang akan bilang sendiri padamu."


"Kapan dia akan berangkat...??"Tanya Bima yang kelihatan tegang.


"Kalo nggak salah sih,pagi ini jam sepuluh."


Bima melihat jam tangannya.Waktu masih menunjukan jam setengah sepuluh,jadi dia masih punya waktu setengah jam untuk pergi ke bandara.


Secepat kilat Bima berlari ke parkiran tanpa mempedulikan bara yang sedang memanggilnya.Jalanan yang macet tidak membuat Bima mengurangi kecepatan motornya yang ngebut karna dikejar waktu.


Terdengar cacian dan makian dari para pengendara yang lain yang harus ngerem mendadak karena hampir menabrak Bima yang lewat didepan mereka dengan tidak menaati lalu lintas.


Semua itu tidak dihiraukan bima.Yang terpenting baginya adalah cepat tiba di bandara agar bisa menemui ku yang katanya akan berangkat ke Jepang.


Sesekali Bima melirik jam tangan yang menunjukan waktu hampir pukul sepuluh.


Akhirnya Bima sampai di parkiran bandara.Setelah memarkirkan motornya,Bima berlari ke dalam bandara seperti orang gila karena berteriak teriak memanggil namaku.


Begitu banyak orang yang mengumpat Bima karena ditabrak oleh Bima.Tapi Bima tak peduli...


Bima tersungkur di depan pintu landasan karena ditahan oleh petugas karena dia berusaha masuk tanpa tiket...Para petugas itu berkata kalau pesawat yang menuju ke Jepang sudah lepas landas.


Bima menangis seperti seorang anak kecil yang sedang terpisah oleh ibunya.


Kak Ryan yang melihat kerumunan orang banyak ,Ikutan menghampiri.


Sekejap timbul rasa usil didalam dirinya.Dia ingin mengerjai Bima kali ini.Karna baginya memalukan bagi seorang laki laki kalau harus menangisi seorang wanita.Walaupun sebenarnya dia senang karena Bima begitu perhatian padaku.


"Bima,sedang apa kamu disini..??"Tanya kak Ryan.


Begitu melihat kak Ryan,Bima langsung bertanya tentangku.Apa benar kalau aku berangkat ke Jepang saat ini.


Sebenarnya kak Ryan ingin tertawa dan memberitahu Bima kalau yang akan berangkat itu ayah kami.Tapi dia ingin sekali mengerjai Bima saat ini.


"Kak Ryan.Apa benar Corona pergi ke Jepang??"Tanya Bima sambil memegang tangan kak Ryan menanti jawaban yang akan keluar dari mulutnya.


"Emangnya coro nggak pamit sama kamu..??Tanya kak Ryan dengan tampang yang meyakinkan walaupun sedang bo'ong.


Bima tak mengatakan apapun.Dia meninggalkan kak Ryan yang masih terpaku disana sambil menahan tawanya.


Bima memacu motornya dengan cepat dan berhenti di pinggiran tebing.Melihat sebuah burung besi yang terbang diatas kepalanya dibawah langit biru dan silaunya cahaya mentari yang menusuk matanya.


"Aaaaaaaahhhhhhhh.....Kenapa Corona...??Aku bahkan belum sempat memberitahumu kalau aku sangat mencintaimu..!!Kenapa kau meninggalkanku...??"


Teriakan Bima menggema di dasar tebing yang curam.Dia seakan merasakan kembali saat dia kehilangan ibunya.


Setelah puas melepas rasa kehilangannya.Bima pulang kerumah karena yang pasti dia nggak mungkin kembali ke sekolah.


Saat sampai di depan gerbang rumahku.Bima menghentikan motornya dan melihat sekeliling rumahku.Bima terkejut melihatku yang sedang main basket di halaman samping rumah.Tapi baginya,sekarang dia hanya sedang berhalusinasi karena begitu ingin aku ada di sini.


'kamu tau Corona...bahkan aku sampai berhalusinasi melihatmu masih ada disini.'Batin Bima dalam hati..