My Name Is CORONA..

My Name Is CORONA..
candaan berbuntut bencana...



Sang mentari pagi masuk melalui jendela kamarku tanpa permisi.Membuat udara didalam kamarku menjadi sedikit lebih hangat.Ketika aku membuka mata.Ku lihat kak Ryan sedang duduk di sofa tempat Bima tidur semalam sambil menyeruput kopi cappucino. Bima tak lagi berada disana.Aku berpikir mungkin Bima sudah pulang karena harus masuk sekolah.


"Sudah bangun...?"Tanya kak Ryan yang memandangku sekilas lalu kembali melihat ke arah bukunya yang sedang dia baca.


Aku tak mempedulikan pertanyaan kak Ryan.Tapi aku menyapu sekeliling kamar mencari keberadaan Bima.Seakan tau kalau aku sedang mencari Bima.Kak Ryan menghentikan membaca.Dia kemudian memandangku sambil tersenyum.


"Dia sedang keluar membelikanmu sarapan.Karna kakak bilang padanya kalau kamu nggak suka makanan rumah sakit.."


"Siapa juga yang mencarinya...?Kenapa kakak membuatnya repot..??"


"Kalau tidak mencarinya,kenapa kamu melirik seluruh ruangan.padahal kakak sedang berada didepanmu.."


Wajahku memerah mendengar ledekan kak ryan.Aku sampai tersedak karena melihat Bima sudah berdiri didepan pintu kamar sambil tersenyum.Mungkin bima sudah mendengar pembicaraanku dengan kak Ryan.


Melihatku tersedak,Bima meletakan kantong pastik yang berisi makanan yang dia beli diatas meja lalu berlari kearahku dan mengambil air diatas meja samping ranjang kemudian memberikannya padaku...


Aku meminumnya sambil sesekali melihat kearahnya yang menatapku tanpa berkedip.


Karena kelamaan saling menatap,kak Ryan sampai batuk batuk seakan memberi tanda bahwa ada seseorang disana.


Bima langsung memalingkan pandangannya dan mengambil makanan yang dia beli untuk diberikan padaku.Sedangkan aku mengalihkan pandanganku kearah lain.


"Kakak mau ke kampus...Hari ini kakak ada kuis dan dosennya galak.Kakak nggak mau sampai terlambat."Kata kak Ryan sambil berjalan kearahku dan mencium keningku.


"Apa kakak nggak sarapan dulu...??Ini aku sudah belikan juga buat kakak.."


Kata Bima


"Nanti aja dikampus...Kamu cukup pastikan saja kalau pasiennya makan.Supaya cepat keluar dari sini.Kecuali kalau kalian ingin berada disini lebih lama.Agar terus bisa berduaan."kata kak Ryan sambil menepuk bahu kanan Bima.


"kakaaaaak"


aku merengek manja.sedangkan Bima hanya tertunduk malu sambil tersenyum.


ketika kak Ryan meninggalkan kamar.bima mengatur makanan yang di bawa tadi di atas meja karena aku tidak mau makan diatas tempat tidur,makanya Bima membantuku untuk turun dari ranjang dan duduk di sofa yang memang disediakan untuk orang yang menjaga pasien.Karna kamarku tergolong kamar kelas satu.


Kami duduk saling berhadapan.Aku memandang Bima yang sedang memakan sarapannya.dia terlihat makan dengan lahap.


Mungkin karena dia tidak sempat makan tadi malam.


"Apa wajahku sebegitu mempesonanya.Sehingga kau tak berselera untuk makan...??"Tanya Bima yang seakan tau kalau aku sedang menatap nya.


Aku menunduk sambil bersiap untuk makan dengan raut wajah yang mulai merona.


"Kenapa kamu nggak pulang dan berangkat kesekolah...??"


"Dan meninggalkanmu disini...??"tanya Bima yang menghentikan makannya.


"Aku kan bukan anak kecil lagi yang harus terus diawasi..."Kataku lirih.


"Atau kamu memang ingin aku pergi dari sini...??"Tanya Bima dengan wajah sedikit kesal.Entah itu beneran atau hanya sengaja menggodaku.


Bima tidak melanjutkan makannya.Padahal dia sangat lapar.Ternyata Bima memang sedang tidak bercanda.Dia berdiri dan langsung mengambil jaketnya yang berada di sandaran sofa untuk bergegas pergi.Aku jadi merasa tidak enak padanya.Karena sebenarnya aku tak mau dia berada jauh dariku.Lagian,tadi itu aku hanya bercanda.Aku merasa seperti orang yang tidak tau berterima kasih.


Sudah ditolongin,dijagain,bahkan diperhatikan.Tapi aku malah ingin


mengusirnya.Tapi itu semata mata karena aku nggak mau Bima sampai nggak masuk sekolah hanya gara gara aku.Aku memikirkan cara agar Bima tak pergi meninggalkanku sendirian dirumah sakit.


"Kau mau kemana...??"Tanyaku.


"Pulang"jawab Bima datar tanpa melihatku.


"Katamu kau bukan anak kecil lagi.Jadi tidak akan kenapa Napa kalau ditinggal sendiri.Lagian ada banyak suster dan perawat disini.Jadi kalau kau butuh sesuatu,kau bisa memanggil mereka."


Aku tak bisa berkata lagi.Sampai akhirnya aku memikirkan sebuah cara yang bisa membuatnya tetap berada di sampingku.Aku berpura pura sakit.Tapi Bima terus melangkah keluar dari ruangan karena dia tau kalau aku hanya berpura pura.padahal dia juga tak berniat meninggalkanku.Dia hanya keluar untuk membeli minuman dingin dan akan kembali lagi keruanganku.


Saat menyusuri koridor.Bima tersenyum sendiri membayangkan kelakuanku yang memang masih kekanak kanakan.Tapi senyumannya menghilang ketika dia berpapasan dengan dokter Mira dan dua orang perawat yang berjalan setengah berlari menuju ke kamarku.


"Hubungi dokter andre.Pasien ini harus secepatnya melakukan operasi."Kata dokter Mira..


"Baik dok."Kata salah seorang suster.


Saat suster itu berbalik arah menuju ruangan dokter andre.Bima menahannya dan bertanya.


"Ada apa suster..??Siapa yang harus di operasi..??"


"Pasien yang bernama Cornelia onaka.Dia mengalami usus buntu.Jadi harus cepat dioperasi...Maaf,saya harus segera bergegas."


"Iya suster,silahkan."


Bima berlari kembali keruanganku.Seluruh tubuhnya seperti disengat aliran listrik bertegangan 1000 watt.Tak habis habisnya dia merutuki dirinya sendiri.


Belum sempat masuk ke dalam ruangan,pintu kamar tiba tiba terbuka dengan diikuti ranjangku yang didorong keluar ruangan oleh dokter Mira dan perawat laki laki melewati bima yang masih berada didepan pintu.


Bima mengejar dan memegang tanganku dengan mengikuti kemana arah dokter Mira membawaku.Wajahku kembali memucat.Seluruh tubuhku dingin bagaikan es.Bima tak henti hentinya menyerukan namaku.Tapi aku tak bisa mendengarnya. Mataku tetap tertutup dengan rasa sakit yang telah membuatku sampai pingsan.


Sekali lagi Bima tak diizinkan masuk kedalam ruangan oleh perawat.Dengan sigap dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi kak Ryan agar segera datang kerumah sakit karena kondisiku yang memburuk.Dan dokter meminta Bima agar menghubungi keluargaku meminta persetujuan melakukan operasi.


Perasaan bersalah menghantui bima,dia tak menyangka kalau dia tega meninggalkanku tadi walaupun aku sedang meringis kesakitan.padahal dia berjanji akan menjagaku.karna Bima berpikir mungkin aku hanya berpura pura agar dia tak meninggalkanku.


Tapi memang ku akui,awalnya aku hanya bercanda untuk pura pura sakit,hanya supaya Bima tidak jadi pergi dan tetap bersamaku.Tapi rasa sakit itu seketika muncul dengan sendirinya dan membuatku sampai tak sadarkan diri saking nyerinya yang kurasakan dibagian perutku.


Tak lama kemudian keluargaku datang.Kali ini ayah datang bersama dengan bunda.bima langsung memberitahu tentang perkataan dokter yang meminta persetujuan untuk operasi.


Ayah langsung menemui dokter sedangkan Bima berusaha menenangkan bundaku yang kelihatan sangat terpukul dengan kejadian ini.


Operasi pun segera dilakukan begitu mendapat persetujuan dari pihak keluarga.Lampu hijau di atas pintu ruangan mulai dinyalakan menandakan kalau operasi sedang berlangsung.


Bima duduk di bangku tunggu yang berada diluar ruang operasi dengan tangan yang menjambak rambutnya sendiri sambil sesekali melihat ke arah lampu yang masih tetap menyala.


Dia memandang bundaku yang duduk bersebelahan dengannya yang hanya berjarak dua kursi dari tempatnya duduk.Bunda tak henti hentinya menangis sambil bersandar di bahunya ayah.Sesekali ayah mengusap bahunya bunda hanya sekedar untuk menenangkannya.


Setelah satu jam berlalu.lampu hijau yang menyala akhirnya mati.Bima dan kedua orang tuaku berjalan ke arah pintu menunggu dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Gimana keadaan anak saya dok.??"tanya bapak sinichi onaka yang tidak lain adalah ayahku sendiri.


"syukurlah,operasinya berjalan dengan lancar.Dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.Sekarang,dia hanya butuh istirahat yang cukup agar bisa kembali sehat."


"Syukurlah kalau begitu."kata bundaku sambil tersenyum kepada dokter dengan mengusap dadanya yang sedari hampir copot karna terlalu tegang.


"Pasien akan dipindahkan kembali ke kamarnya.Jadi,kalian bisa menjaganya di snaa..??


"Makasih dok."


"Sama sama.Kalau begitu,saya permisi dulu."


Bima langsung tersenyum bahagia.Walaupun tadi dia sempat merutuki dirinya sendiri kalau sampai terjadi sesuatu padaku,dia tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.


Begitu dokter meninggalkan ruangan.Tak lama kemudian para perawat sudah mendorong ranjangku untuk segera dipindahkan ke kamarku yang sebelumnya.