My Name Is CORONA..

My Name Is CORONA..
Kecemasan...



Bima mencoba menghubungiku berulang kali begitu dia melihat entah sudah berapa banyak panggilan tak terjawab dariku tadi malam.


Rasa takut mulai menggerogotinya.


Saat ini masih terlalu pagi,waktu masih menunjukan pukul lima pagi,karena tak kunjung mendapat jawaban dariku,dia bergegas bersiap lebih awal untuk berangkat ke sekolah, dengan dalih dia akan singgah ke rumahku untuk menjemputku supaya bisa berangkat bareng ke sekolah dan bertanya maksud panggilanku semalam.


Bara terkejut ketika melihat Bima yang sudah mau bersiap berangkat,padahal dia baru sampai di meja makan untuk sarapan.


"Bim,Lo udah mau berangkat ?"


"Iya kak."


"Nggak sarapan dulu ?"


"Udah.Kalo gitu aku duluan,sampe ketemu di sekolah"


Bara hanya menatap heran adiknya yang sudah menghilang dari pandangannya.Sesaat kemudian ayahnya keluar dari kamar dan menghampiri bara di meja makan.


"Mana Bima ?apa dia nggak berangkat sekolah ?"tanya Boby Indrawan yang tak lain adalah ayahnya mereka.


"Bima udah berangkat sekolah,pa."Jawab Bara sambil makan.


Boby Indrawan melirik jam yang bertengger di tangannya hanya untuk memastikan apakah dia yang terlambat bangun atau Bima yang terlalu cepat berangkat,karena dia merasa ini masih terlalu pagi.


"Bar,entar siang papa akan berangkat ke Jepang,karena dua orang sahabat baik papa


kecelakan.Om onaka sama om Kevin.Jadi papa berharap kamu sama Bima bisa jaga diri saat papa nggak ada."


"Om Onaka ayahnya Lia ?"tanya bara terkejut.


"Iya,,,,dan mungkin mereka sudah berangkat ke Jepang tadi malam."


"Terus gimana keadaan Om Onaka ?"


"Papa juga nggak tau.Makanya papa mau menjenguk dengan berangkat ke sana entar sore."


"Bara bisa ikutan nggak ,pa ?Bara khawatir sama keadaan Lia,pasti dia sangat terpukul dengan kejadian ini."


"Emangnya kamu nggak sekolah ?kamu udah kelas tiga loh,bentar lagi ujian.Kamu nggak perlu khawatir,Lia nggak sendiri,ada banyak keluarganya disana.Kamu cukup bantu aja dengan doa,mudah mudahan Ayahnya Lia nggak kenapa Napa."


Bara hanya bisa menurut dengan perkataan papanya.Tapi dia tetap saja khawatir dengan keadaanku.


"Apa Bima sudah tau dengan kabar ini atau belum yah ?"Batinnya dalam hati.


Sementara itu,Bima sudah berdiri di depan rumahku sambil menekan bel berulang kali tanpa rasa sabar.Tampak bi Nana berdiri di depan Bima begitu pintu terbuka.


"Pagi bi,apa Corona ada ?"Tanya Bima sambil menatap bi Nana dan sesekali melirik ke dalam rumah karena tak sabaran ingin masuk ke dalam.


"Den Bima masuk aja dulu,den Ryan lagi sarapan di meja makan,Aden tanya langsung aja sama den Ryan soal Non Corona."Kata bi Nana dengan wajah sedih dan mempersilahkan Bima masuk kedalam rumah.


Perasaan Bima jadi tak karuan mendengar pekataan bi Nana barusan.Apa ada sesuatu yang terjadi ?kenapa harus bertanya sama kak Ryan sedangkan bi Nana tinggal serumah denganku.Mana mungkin bi Nana tidak tau tentang ku.


"Eh,,,,,Bim.Sudah sarapan belom.Ayo sarapan bareng."Ajak Ryan begitu melihat Bima muncul di depannya.


"Makasih kak,aku udah sarapan tadi."


"Kamu kesini mau ketemu Corona ?"


"Iya kak.Semalam dia menghubungiku sampai berkali kali dan aku tak sempat menjawabnya karena ketiduran.Dimana dia ?dan kenapa rumah ini begitu sunyi ? kemana yang lainnya ?"Tanya Bima karena sejauh dia memandang tak ada siapa pun di dalam rumah kecuali bi Nana dan kak Ryan yang sedang sarapan dimeja makan seorang diri.


"Mereka semua berangkat ke Jepang semalam.Corona memintaku menyampaikan ini padamu karena dia tak bisa menghubungimu tadi malam.Dia takut kalo kamu akan khawatir padanya."


"Kenapa begitu mendadak ?"


"Ayah kami dan ayahnya Kenzo kecelakaan.Makanya mereka semua berangkat tadi malam,sedangkan aku akan menyusul begitu selesai mengurus surat izinku nggak masuk kampus sama surat izin Corona dan Kenzo selama seminggu kedepan."


Bima terdiam sejenak,dia mulai menyalahkan dirinya karena tak menjawab panggilan dariku semalam.Dia merutuki dirinya sendiri.


"Maafkan aku Corona,aku tak bisa ada di sampingmu disaat kamu membutuhkan seseorang untuk berbagi kesedihanmu."Batinnya dalam hati.


"Kapan kak Ryan berangkat ?"Tanya Bima.


"Mungkin besok.Emangnya kenapa ?"


"Aku akan ikut sama kakak.Aku mau menemani Corona disaat seperti ini."


"Bagaimana dengan sekolahmu?Dan apakah papamu Mengizinkan ?"


"Itu gampang,akan aku urus semuanya.Yang terpenting aku ingin berada di samping Corona saat ini."


"Ya sudah,,,,,nanti kita berangkat sama sama."


"Kalo gitu aku pamit dulu kak."


Bima keluar dari rumahku dan berangkat sekolah dengan sepeda motornya.Pikirannya melayang.Disaat seperti ini,dia masih saja cemburu dengan Kenzo.


Bayangan kalo Kenzo sedang berada disampingku untuk menenangkan aku selalu terngiang ngiang di kepalanya.Padahal dia sendiri mendengar tadi kalo ayahnya Kenzo juga mengalami kecelakaan bersama dengan ayahku.Jadi Kenzo juga seharusnya butuh seseorang untuk menghibur dan menguatkannya.


***


Dia mengelilingi hampir satu sekolah hanya untuk mencari adiknya itu,sampai matanya berhenti mencari begitu dia melihat Bima sedang duduk seorang diri di bawah pohon Ketapang di taman samping sekolah.Taman yang menjadi tempat pertemuanku dan Bima.


"Disini kamu rupanya,aku sudah lelah mencarimu di hampir semua sudut sekolah."Kata Bara yang kemudian duduk di samping Bima.


"Ada apa kak ?kenapa kakak mencariku ?"


"Apa kamu sudah tau kabar tentang ayahnya Lia ?"


"Sudah,aku mampir kerumahnya tadi pagi,dan kak Ryan sudah menceritakan semuanya.Aku akan menyusulnya ke Jepang."


"Hhaaaaah,,,,,Papa nggak akan mengijinkan,Bim."


"Aku nggak perduli.Entah diizinkan atau tidak,aku akan tetap menyusulnya kesana."


"Tapi bagaimana dengan sekolahmu ?"


"Aku akan minta izin selama seminggu."


"Ya udah,,,,kalo itu sudah menjadi keputusanmu.Kapan kamu akan berangkat."


"Besok."


"Kenapa nggak barengan sama papa aja.Dia akan berangkat entar sore ke sana buat jengukin ayahnya Lia."


"Aku akan berangkat bareng Ama kak Ryan."


"Baiklah,,,,sampaikan saja salamku buat Lia,,aku doakan mudah mudahan Ayahnya cepat sembuh."


"Pasti kak,,,akan aku sampaikan padanya."


Bara menepuk pundak Bima dan mengajaknya masuk kelas karena bel jam pertama sudah berdentang.Kedua kakak beradik itu berjalan beriringan menuju kelasnya masing masing.


***


Dari bandara kami langsung datang kerumah sakit,padahal aku sangat khawatir dengan keadaan bundaku.Dia kelihatan lelah,tapi dia tak mau beristirahat sebelum mengetahui keadaan Ayah.


"Bu,itu Kak Nayara sudah datang sama anak anaknya."Kata Tante Osyin adiknya ayah sambil berbisik di telinga nenek.


Bunda disambut dengan pelukan sang ibu mertua,tangis nenek pecah begitu melihat menantunya datang,pelukan nenek juga menjalar sama kak Fya,tapi tidak denganku.


Sejak awal,nenek tak terlalu senang denganku,aku juga tak mengerti dengan tingkah laku nenekku itu.Tapi aku disambut oleh pelukan hangat Tante Osyin yang sudah menganggapku sebagai putrinya sendiri.


"Corona,aku ketempat ayahku dulu.Aku mau mencari tau keadaannya."Ucap Kenzo


"Maaf ya Ken,aku nggak bisa menemani kamu."Kataku dengan nada menyesal.


"Nggak apa apa.Bunda kamu lebih butuh kamu saat ini."Kenzo menepuk pundakku.


"Kalo ada apa apa,hubungi aku yah."


Kenzo hanya mengangguk dan berlalu keluar ruangan,dia berusaha kelihatan tegar didepannku walaupun dia juga sangat terpukul sama sepertiku.


Aku menatap perih kearah bundaku yang duduk disamping ranjang ayah,memegang tangan suaminya dengan air mata yang berlinang dipipinya.


Kata dokter,ayah akan melewati masa kritis kalo dia sudah bisa sadar,karena sampai saat ini mata ayah masih terpejam dengan luka lebam di beberapa sudut wajahnya akibat benturan,kepalanya di perban dan beberapa selang bersarang didadanya untuk mengontrol detak jantungnya.


"Ibu pulang saja untuk istirahat,biar Nay yang jaga Onaka disini."Kata bundaku dengan nada yang lembut kepada nenek.


"Ayo Bu,kita pulang.Ibu juga harus memikirkan kesehatan ibu."Ajak Tante Osyin sambil memegang bahu nenek.


Kami semua menyalami nenek sebelum dia pulang bersama dengan tanya Osyin.


"Fya,apa kamu nggak mau ikut nenek pulang ke rumah ?"


"Fya masih mau disini nek,mau temani bunda."


"Pergi aja bareng nenek,kamu pasti capek.Nanti kita gantian jaga.Kamu bisa datang lagi besok kesini."Ucap bunda.


"Baiklah,kalo itu mau bunda.Coro,aku nitip bunda sama kamu "


"Iya kak,Coro pasti jagain bunda."


"Kak Nay,kabari kami kalo ada perkembangan dengan keadaan kak Onaka."Pinta Tante Osyin sambil keluar dari ruangan bersama dengan nenek dan Fya.


Sepulangnya nenek,aku mendekat kearah bunda,memeluknya dari belakang dan mencium pipinya.


"Bun,bunda istirahat aja dulu.Biar Coro yang jaga ayah.Dari semalam bunda belum istirahat.Coro nggak mau kalo bunda juga ikutan sakit.Ayah juga pasti nggak bakalan senang kalo liat bunda seperti ini."


Bunda tak mau membuatku khawatir,dia mengikuti permintaanku dengan merebahkan dirinya di sofa empuk yang tergeletak di sudut ruangan kamar ayah.


Setelah menyelimutinya,aku mengambil ponselku yang masih dalam keadaan mati,memang sengaja dimatikan saat berada di pesawat dan sampai sekarang belum sempat ku aktifkan.


Aku menyalakan ponselku untuk menghubungi Bima dan memberi tahu keadaanku.Begitu ponsel menyala,beberapa pesan langsung masuk dan ternyata itu dari Bima dan beberapa temanku yang ikut bersimpati dengan musibah yang menimpa ayahku.


Satu pesan yang membuatku sedikit terhibur di balik kesedihan yang kurasakan saat ini adalah pesan dari Bima yang menyatakan kalo dia akan berangkat kesini dengan kak Ryan Besok.