
Langkah kakiku melambat begitu mendekat ke arah Abrary.Dengan senyum yang mengembang seperti bunga mawar merekah aku menatapnya dengan lirikan menggoda,sengaja mengejek kerena dia sedang bersama seseorang yang sangat cantik.
Walaupun sekarang status kami adalah sepasang kekasih,tapi aku belum sepenuhnya menerima Abrary di dalam hidupku.Entah apa alasannya aku sendiri pun tak begitu mengerti.
"Siapa gadis cantik ini ?"Tanyaku dengan seulas senyuman di bibirku.
"Kenalin,,,,ini Laras."
Laras megulurkan tangannya dengan wajah merona karena mendengar ku menyebutnya cantik.
"Aku Lia,,,senang kenalan denganmu.Eh,,,dari pada kita ngobrol disini,mending kita ke kafe dekat sini sambil ngopi"Ucapku sembari menyambut uluran tangan Laras.
"Boleh juga."
Kami bertiga mendatangi sebuah kafe yang masih berada dalam lingkungan kampus.
Aku memesan segelas jus strawbery,sedang Laras dan Abrary memesan kopi capucino.
Beriringnya waktu,aku mulai berteman dengan Laras,bahkan menjadi sahabat baik karena sama sama suka melukis dan belajar di kelas yang sama.
Sudah hampir seminggu Bima tak masuk kampus karena masih depresi dengan hal yang dianggapnya halusinasi berkepanjangan.
Hingga dia bertemu denganku di sebuah toko yang menjual alat alat melukis.
Waktu itu sehabis pulang kampus,aku dan Laras janjian untuk belanja bareng keperluan melukis.
Bima pun bertepatan datang ke sana.
Menghabiskan waktu seminggu di rumah hanya dengan melukis membuat persediaan cat air Bima habis.
Dengan langkah gontai Bima memasuki toko dan langsung memilih warna warna yang akan di beli.
Sekejap pandangan matanya melihat Laras di salah satu lorong yang berjejer rapi di dalam toko sambil memilih dan memilah barang.
Maksud hati ingin menjauh karena tak tahan dengan sikap Laras yang suka mengoceh membuat Bima ingin segera pergi dari sana dan mencari toko yang lain agar tak berpapasan dengan Laras.
Namun langkahnya terhenti begitu melihatku menghampiri Laras dan ngobrol dengannya.
Bima mematung dan memandangi kami dari kejauhan tanpa berkedip sama sekali.
Otaknya berhenti berpikir,dengan langkah yang terbata,dia terus menyeret kakinya perlahan,
sesekali senyumnya ikut mengembang di bibirnya ketika melihatku tertawa.
Sebelum semuanya terlambat,dengan langkah cepat Bima ingin segera menghampiri kami yang berada sedikit jauh dari tempat dia berada saat ini.
Saking terburu burunya, tanpa sengaja dia menabrak seorang wanita paru baya dan membuat barang yang di pegang wanita itu berserahkan di lantai.
Dengan terpaksa,Bima harus membantu wanita itu merapikan barang barangnya dengan sesekali melempar tatapan ke arah kami sambil tangannya sibuk merapikan barang wanita itu.
Begitu selesai,dia bergegas mendatangi tempat dimana dia melihatku dan Laras sedang berdiri tadi.Tapi kami sudah menghilang dari sana.
Bima menjambak rambutnya dengan kedua tangannya,pandangannya menjelajah seluruh area dan sudut ruangan toko,tapi dia tak menemukan kami di mana pun.
Senyum Bima tercetak begitu matanya menangkap sosok Laras sedang mengantri di antrean kasir.
Tanpa menunggu lama Bima berlari menghampiri Laras.
Laras yang kaget melihat Bima yang tiba tiba nongol di depannya mulai bingung karena Bima menarik Laras keluar dari antrian untuk menjauh.
"Apa apaan sih kamu."Ucap Laras ketus.
"Dimana dia ?"
"Siapa ?"
"Wanita yang bersamamu tadi.Aku mohon katakan padaku kemana dia pergi !"
"Apa yang kamu maksud itu Lia ?"
Bima mengangguk
"Sekarang kemana dia pergi,aku harus segera menemuinya."
"Dia sudah di jemput pulang sama pacarnya."
"Siapaa,,,,,,???pacar,,,,,,,???"
Tubuh Bima jadi lemas,tangan yang tadinya berada di kedua pundak Laras melorot jatuh kebawah seperti di hempas dengan keras.
Setelah mendengar kata pacar dari Laras,dunianya berputar.Ternyata sia sia penantiannya selama ini,orang yang di rinduinya selama bertahun tahun seperti orang gila tega mengkhianatinya dengan orang lain.
"Bim,,kamu nggak apa apa ?"Ucap Laras sambil menjentikkan jarinya di depan Bima.
Bima tak menghiraukan ucapan Laras.Dengan mata yang masih menerawang,dia berjalan meninggalkan Laras yang masih mematung di tempatnya berdiri dengan keranjang belanjaan yang masih setia menggantung ditangannya.
Kali ini,Laras tak mengikuti Bima seperti biasanya,dia kembali ke antrian yang sudah lumayan panjang.
🏵️🏵️🏵️
Di kantor,Abrary sedang asik ngobrol dengan rekan bisnisnya yang juga sudah dianggap sahabat selama setahun terakhir ini.
"Brar,aku dengar kamu akan tunangan dalam waktu dekat ini.Tapi sampai sekarang aku tak pernah dikenalin sama calon tunangan kamu.Kenapa,,,,,???takut yah,kalau dia terpesona sama aku !!!"ledek Kenzo.
Selama setahun belakangan ini,Abrary dan Kenzo sudah berteman baik karena sama sama mengelolah bisnis keluarga.
Setelah lulus SMA,Kenzo tak meneruskan kuliah.Dia langsung bekerja di perusahaan membantu ayahnya menjalankan bisnis keluarga.
Abrary tertawa mendengar lelucon Kenzo.
"Nggak mungkin Lia akan tertarik sama kamu,,,dia itu beda dari wanita lain.Kalo kamu mau,kamu bisa mencoba menggodanya,,,yang ada kamu yang akan tergila gila sama dia,,,,"
"Siapa tadi ?"
"Apanya ?"
"Nama tunangan kamu ?siap tadi namanya ?"
"Lia,,,kamu kenal ??"
"Enggak,aku hanya keingat wanita yang pernah ku cintai dulu,namanya sama."
Abrary diam seribu bahasa,bayang bayang tentang masa laluku yang di sembunyikan olehnya mulai menghantuinya.
Setelah kecelakaan itu,aku sempat dirawat dirumah sakit selama berbulan bulan karena cidera di bagian kepala.
Dan begitu aku sadar,aku tak mengenal siapa pun.Hanya Abrary yang selalu ada di sampingku dan meyakinkan aku kalau dia adalah kekasihnya.
Sedang mengenai keluargaku,dia mengatakan kalau kedua orang tuaku sudah meninggal.
Aku tinggal bersamanya saat pemulihan kesehatanku,tapi setelah keadaanku cukup membaik,aku memintanya mencarikan rumah kontrak karena aku tak mau tinggal serumah bersama orang yang tak punya ikatan apapun denganku,apalagi dia berstatus kekasihku.
"Brar,,,kok melamun.Lagi mikirin apa ?"
"Aaaahhh,,,nggak."
"Gimana kalo kita makan malam bareng.Kamu bisa ajak tunangan kamu,sekalian aku mau coba tantangan yang kamu berikan,,,,,,hanya sekedar ngetes aja apakah tunangan kamu itu beneran cinta Ama kamu atau masih jetalatan matanya sama cowok ganteng macam aku ini..."Ucap Kenzo dengan candaan padahal dia sendiri penasaran sama tunangannya Abrary yang bernama Lia.
"Haaaaaah,,,"
"Hahahaha,,,,,,,becanda kali Brar. "
"Ok,,,nanti aku kabarin kapan dan tempatnya dimana,yang pasti dalam waktu dekat ini."Ujar Abrar memecah ketegangan di hatinya.
"Corona,,,,kamu dimana ?aku sangat merindukanmu,andai saja Lia yang Abrar maksud adalah kamu."Batin Kenzo dalam hatinya dengan rasa sedih yang mendalam.
"Apa aku harus mempertemukan Lia dengan kenzo ?bagaimana kalau Lia yang Kenzo maksud adalah orang yang sama ?Apa Lia akan tetap bersamaku atau akan kembali dengan Kenzo ?Ayolah Abrary,,,,,,,,nama Lia bukan hanya satu di dunia ini,lagian cepat ataupun lambat mereka pasti akan bertemu saat pesta pertunangan di laksanakan."
Batin Abrar di hatinya penuh kecemasan.
🏵️🏵️🏵️
Bertemu denganku dan mengetahui kalau aku masih hidup seharusnya membuat Bima bahagia,namun justru sebaliknya,dia mengurung diri dikamar berhari hari tanpa keluar bahkan untuk meminum setetes air saja rasanya sulit untuk ditelan.
"Apakah itu sebabnya kamu tidak kembali padaku selama ini ?apakah karena dia ? tapi kenapa ?setidaknya aku harus mendengar langsung dari mulutmu kalau kau lebih memilih bersamanya di banding aku."Gumam Bima sambil tiduran meringkuk memeluk gambar diriku dengan linangan air mata kekecewaan.
Bulir bulir air mata yang jatuh tanpa diundang tak bisa Bima tahan walau dia sebenarnya tak ingin menangis mengingat dirinya seorang laki laki.
Bara yang tinggal serumah dengannya jadi khawatir dengan keadaan Bima adiknya.
Sehingga timbul pertanyaan,apa lagi yang sekarang sedang dihadapi adiknya ini.
Sehabis pulang kuliah,Bara nekat bertamu ke rumah Laras,sekedar mencari informasi perihal Bima,siapa tau Laras tau sesuatu kenapa Bima bisa jadi seperti itu.
Apa yang diharapkan Bara berujung manis.Walaupun menurut Laras dia tak bisa membantu Bima,tapi berdasarkan cerita yang Laras berikan pada Bara tentang pertemuannya dengan Bima di toko buku,Bara bisa mengerti kenapa Bima bisa jadi seperti itu.
Mendengar cerita Laras,Bara sendiri pun tidak bisa percaya kalau aku meninggalkan Bima demi lelaki lain,tapi ada satu kejanggalan yang mengusik pemikiran Bara.
Kalau memang aku hanya sekedar mencampakkan Bima,kenapa aku tidak kembali kepada keluargaku,karena seperti yang bara tau,aku sangat sayang pada keluargaku.
Kejanggalan yang timbul di otak Bara belum ingin dia ceritakan kepada Bima,dia takut kalau Bima akan kecewa untuk kesekian kali.
Bisa saja aku emang sengaja meninggalkan Bima dan sudah bertemu dengan keluargaku tanpa sepengetahuan mereka.Alibi itu sekarang yang ada di pikiran Bara saat ini.
Bahkan sekarang dia meminta bantuan Laras untuk mempertemukannya dengan Lia yang tidak lain adalah aku sendiri yang sedang hilang ingatan.
Jauh dari semua kejanggalan yang ada,tak dapat dipungkiri kalau Bara sangat senang begitu mengetahui kalau diriku masih hidup.