
Aku menggenggam tangan Bima dan berjalan mengitari taman.Aku mengayunkan tangan kami yang saling bertaut dengan senyuman yang mengembang sempurna di bibirku.
Tampak Bima juga tak kalah dengan senyum menawannya.Kami memutuskan untuk jalan jalan berdua tanpa mengajak Ken.
Dengan sendirinya,Ken harus mengalah karena sudah dipastikan kalau saat ini aku lebih memilih bersama Bima dibanding dirinya.
Kami berencana ingin menyusun sebuah kenangan terindah di negeri yang mempertemukan kami untuk pertama kali.
Mulai dari memilih menu makanan yang akan menjadi favorit kami bersama.dan hal hal yang lain yang hanya terkait antara aku dan Bima.
Aku berhenti didepan sebuah toko yang menjual sovenir pernak pernik lucu bagi para wisatawan yang berkunjung.
Memilih sebuah gelang berwarna senada dengan Bima,gelang yang terbuat dari benang katun berwarna setengah hitam dan setengah putih.Kami saling mengikat tangan masing masing dengan janji kalau ikatan gelang benang ini akan mengikat hati kami untuk bersama selamanya.
Kami melalui hari ini dengan gembira,membuang jauh jauh semua beban yang ada di hati,merasakan kebahagiaan seakan dunia tempat kami berpijak adalah milik kami saja.
Nasib manusia memang susah di prediksi.Jika boleh memilih,aku lebih ingin percaya dengan adanya keajaiban.
Dimana secara ajaib aku bisa hidup sendirian tanpa adanya gangguan meski hanya sebentar.
Merasakan ketenangan dan jauh dari semua penat yang selama ini terus mengusik hidupku.
Kalau boleh meminta,aku ingin merasakan kebahagiaan tanpa harus ada imbalan kesedihan yang kurasakan setelahnya.
Namun apa memang benar keajaiban itu ada didunia ini ? Atau hanya sekedar cerita dalam dongeng belaka ?
***
Aku duduk sendirian di sudut kafe bandara menunggu kedatangan Bima dan Kenzo.Kami sepakat bertemu di bandara setengah jam sebelum keberangkatan.Tapi kayaknya mereka bakalan terlambat.
Mataku menoleh ke arah luar jendela,terdiam sambil menatap sedih rintik hujan yang mulai membasahi bumi.
Sebenarnya aku datang sama kak Ryan yang mendapat mandat dari ayah untuk mengantarku sampai ke bandara,tapi sekarang,dia sedang pergi ke toilet karena kebelet pipis.
Karena bosan menunggu,Aku melangkahkan kaki ke konter Coffee dan menyebutkan pesananku.
Kali ini,aku mau minum kopi panas karena pas dengan cuaca saat ini yang mulai terasa dingin.
"Two hot capucino,please."Tutur ku kepada sang barista sambil tersenyum.Aku sengaja memesan dua karena ingin kuberikan satu pada kak Ryan.
Ketika aku hendak berbalik,seorang pria yang sibuk memainkan ponselnya tidak sengaja menabrak ku.
"Sorry,,,,,,are you okey ?"Ucapnya begitu melihat satu kopi yang ku pegang jatuh kelantai dan yang satunya dengan cepat kuletakan di atas meja.
"Eeee,,,maaf.Kamu nggak apa apa ?"
Aku reflex menyentuh tangan pria itu yang terkena cipratan kopi yang ku bawa,ini membuatku merasa sedikit bersalah.
Walaupun tanganku juga terasa perih karena terkena tumpahan kopi.
Pria itu langsung mengambil beberapa lembar tisu dan mengusapkannya ke tanganku.
"Apa kamu baik baik saja ?"Ulangnya,lantaran aku tak kunjung menjawabnya tadi.
"Iya,,nggak apa apa !"Jawabku yang kemudian mendongak menatap ke arah pria itu.
"Aku Abrary."Tuturnya seraya menjulurkan tangannya ke arahku.
"Aku Lia"Ucapku sembari menyambut uluran tangannya.
"Gimana kalau sebagai permintaan maaf,aku traktir kamu kopi sebagai ganti kopi kamu yang tumpah.Dan jangan menolak !"Pintanya ketika melihatku yang hendak menolak tawarannya.
"Eeeemmm,,,,nggak usah,makasih."Tolakku secara halus.
"Kenapa ?"seketika wajahnya merengut.
Aku menunjuk kearah Bima dan Kenzo yang baru saja datang,sementara keduanya mengerjap bingung melihatku menunjuk kearah mereka.
"Aku sedang ditunggu."Jawabku.
Aku hanya mengangguk sambil membalas senyumannya.Abrary berlalu dari hadapanku yang sedang memandang punggungnya yang terus menjauh dariku.
Aku memalingkan wajahku dengan cepat karena menyadari kekonyolan diriku yang mengagumi karisma pria yang baru saja berlalu dari hadapanku.
"Siapa pria tadi ?"Tanya Bima yang mulai lagi dengan pertanyaan begitu aku sampai dihadapan mereka berdua.
"Bukan siapa siapa "Jawabku seadanya dan langsung duduk di kursi.
"Bukan siapa siapa kok akrab banget ?"
tambah Ken yang tak kalah penasarannya dengan Bima.
"Kalian berdua ini kenapa sih ?Apa semua orang yang akrab satu sama lain harus punya satu hubungan ?Dan kalo emang iya,,,berarti Abrar adalah temanku sekarang,Puaaaass ??"
Kataku judes dengan wajah kesal yang dibuat buat.
"Jadi namanya Abrar ?"Tanya Ken.
"Sejak kapan kamu cepat berteman sama orang yang baru kamu kenal ?"Tambah Bima.
Kedua wajah mereka sangat tegang sehingga hampir saja membuatku tertawa karena merasa lucu dengan tingkah mereka berdua.
Karena tak menjawab pertanyaan mereka,membuat mereka duduk diam tanpa bersuara sedikitpun karena ngambek.Akhirnya kami bertiga hanya duduk diam sambil cuek satu sama lain sampai kak Ryan kembali dari toilet dan memecah kesunyian dengan bertanya apa yang sedang terjadi saat ini.
Hanya Kenzo yang menceritakan penyebab kami bertiga diam diaman seperti anak kecil yang lagi ngambek karena tidak di belikan permen sama ibunya.
Mendengar penjelasan Kenzo,kak Ryan malah tertawa dan membuat Bima semakin jengkel.
"Orangnya ganteng nggak,Coro ?"Tanya kak Ryan yang sengaja menggoda Bima.
"Lumayan,,,"Kataku setengah terkejut namun tetap saja meladeni kelakuan reseh kak Ryan yang memanas manasi Bima.
Bola mata Bima membulat sempurna menatapku dan kak Ryan secara bergantian,sedang Kenzo hanya menepuk nepuk pundak Bima dengan berkata sabar,tapi langsung ditepis Bima karena emosi.
"Gantengan mana sama dua kurcaci didepan kamu ini ?"Tanya kak Ryan lagi dengan pandangan menatap Bima yang sedari tadi tetap diam mendengar gurauan kak Ryan.
Aku pura pura berpikir dengan memutar bola mataku seakan menanggapi serius ucapan kak Ryan.
Nampak kedua pria yang berada didepanku sedang menahan napas menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku.
Entah kenapa,walaupun mereka tau kalau ini hanyalah sebuah lelucon kak Ryan untuk mengisi waktu karena menunggu waktu keberangkatan,namun mereka tetap meladeninya dengan memasang wajah cemberut yang menegang.
"Lebih ganteng pacar aku sih !"Ucapku melirik Bima.
Terlihat sedikit senyum disudut bibir Bima yang dia sembunyikan karena mendengar
kalau dialah yang paling ganteng dimataku.Tapi bukan kak Ryan namanya kalau nggak bisa buat orang jengkel dengan keahlian meledeknya.
"Benar juga sih,pacar kamu mana bisa dibandingkan dengan mereka bertiga ?"Ucap kak Ryan sambil mengangguk anggukan kepalanya.
Tunggu dulu !!Apa pacar yang kak Ryan maksud bukan diriku ? Apa Corona punya pacar yang lain.Itulah pertanyaan yang muncul di kepala Bima saat ini.
"Lagi ngomongin apaan sih ?Serius amat ?"Tanya Tante Kania yang tiba tiba muncul di depan kami bersama dengan Om Boby ayahnya Bima.
Wajah Bima semakin geram melihat kedatangan dua manusia yang paling dibencinya itu.Aku sempat melihat pancaran amarah yang keluar dari sorot mata Bima.
Apalagi saat melihat kak Ryan yang kelihatan tak senang dengan kedatangan Tante Kania.
"Eh,,Tante sama om ngapain disini ?"kataku sambil menyalami mereka satu persatu.
"Sejak kapan Corona mengenal Tante Kania ? Apa dia sudah tau kebenarannya,tapi kurasa tidak,karena dia masih memanggilnya Tante."Batin Ryan dalam hatinya.
"Tante akan pulang ke tanah air juga hari ini.Jadi mungkin kita akan berada di satu pesawat yang sama."Ucap Tante Kania.
Rasa canggung mulai kurasakan karena melihat begitu banyak wajah yang ditekuk saat ini.Kalau dilihat dari raut wajah kak Ryan menatap Tante Kania,aku rasa kalau kak Ryan sudah mengetahui kebenaran tentangku.