
Bima tak menyia nyiakan kesempatan untuk mendekatiku.Setelah mata kuliah berakhir,dia mendekatiku dan Laras yang memang duduk bersama didalam kelas.
"Li,,,,,kamu punya acara nggak sepulang kampus ?"tanya Bima yang sudah duduk di depanku dan Laras.
Aku menatap Laras bergantian dengan Bima.
"Emangnya kenapa ?"tanyaku sambil memasukan buku catatan ku kedalam tas.
"Kamu mau nggak temani aku ke suatu tempat ?"
"Kemana ?"
"Nggak bisa,Lia ada janji sama aku."selah Laras sambil melihat kearah Bima.
"Kemana ?"tanya Bima.
"Aku akan menemani Laras ke sekolah adiknya untuk menghadiri acara pameran seni di -"
Aku mencoba mengingat nama tempat yang akan kami kunjungi sambil memejamkan mataku dengan jari telunjuk yang ku ketok berulang kali di pelipisku mencoba untuk mengingat.
"Di SMA TARUNA BANGSA."Sambung Laras.
"Ah,,,iya benar.Di SMA TARUNA BANGSA."Kataku mengikuti ucapan Laras.
Betapa bahagianya hati Bima begitu mendengar nama tempat yang akan kami tuju.
Bima juga berencana ingin mengajakku ke sana,dengan harapan kalau aku akan mengingat kembali moment bersamanya di sekolah itu.
"Maaf ya Bim,aku nggak bisa menemani kamu."Ucapku merasa tak enak.
"Nggak apa apa.Tapi,apa boleh aku ikut kalian kesana ?"
"Ngapain ?"tanya Laras.
"Ayolah,aku juga ingin melihat pameran seni.Lagian itu adalah sekolahku dulu,dan bukannya sekarang kita berteman ?"Ujar Bima kelihatan memohon.
"Sudahlah Laras,bukankah lebih asik kalo kita berangkat bareng,biar lebih seru."Ucapku dengan senyum memelas menatap Laras.
"Ayolah Ras,aku ikut yah,,,??"rengek Bima yang langsung memegang tangan Laras dan mengguncangnya pelan meminta persetujuan.
"Baiklah."Jawab Laras dengan wajah merona sambil tertunduk.
Sebenarnya,Laras senang jika Bima ikut bersama mereka,sudah sejak lama Laras menaruh hati pada Bima,bahkan jauh sebelum Bima menyadari kehadiran Laras didekatnya.
Aku dan Laras naik taksi menuju ke SMA TARUNA BANGSA,sedang Bima mengikuti kami dengan sepeda motornya.
Setibanya ditujuan,aku berdiri didepan gerbang sekolah sambil memandang sekeliling.
Bima menghampiriku setelah memarkirkan motornya di dalam pelataran sekolah.
"Kenapa nggak masuk ?"tanya Bima.
"Ini juga baru mau masuk."Balas Laras.
"Pak,gimana kabarnya?lama nggak ketemu,bapak makin keren aja "Ucap Bima pada pak satpam yang sudah menjadi temannya saat masih sekolah di sana.
"Bima ?Ngapain ke sini ?kamu kan udah lulus"
tanya pak satpam.
"Emang kalo udah lulus nggak boleh maen kesini ?"jawab Bima seadanya.
Pak satpam nggak menggubris perkataan Bima,dia malah terfokus dengan keberadaanku yang berdiri tak jauh dari Bima.
"Neng Lia ?"lanjut pak satpam kaget melihatku bareng dengan Bima.
Aku terkejut begitu namaku disebut,seketika aku menoleh dan tersenyum pada pak satpam.
"Iya pak,ini aku.Lama nggak ketemu."Sapaku dengan seulas senyuman.
Pengakuanku pada pak satpam membuat Bima terhenyak nggak percaya,apalagi Laras.
Pasalnya,dia merasa baru pertama kali mengajakku ketempat ini dan aku sudah bercengkrama dengan pak satpam yang baru aku temui.Bahkan tadi saja aku sempat lupa nama sekolah ini.
"Syukurlah neng baik baik saja."
"Iya pak,,,,kalo gitu kami masuk dulu."Ucapku memohon pamit sambil mengapit lengan Laras yang masih kelihatan bengong.
"Sekarang kamu harus jaga neng Lia baik baik,jangan sampe ilang lagi."
"Beres pak."Balas Bima sambil mengacungkan jempolnya dan mengikuti kami masuk kedalam pekarangan sekolah.
Saat berjalan menuju ke tempat pagelaran,Laras mengajukan pertanyaan yang membuat langkah kami terhenti,begitupun dengan Bima yang mengikuti kami dibelakang.
"Li,,,,kamu kenal sama pak satpam tadi ?"
"Enggak "
"Terus ngapain kamu sok kenal sama pak satpam ?"
"Nanti aja aku ceritain lengkapnya sama kamu."
Laras yang bengong tak menyadari ketika bola basket melayang di kepalanya hingga membuat dia jatuh tersungkur kelantai.
Tampak salah seorang siswa berlari ke arah kami dan meminta maaf,tapi kami nggak terlalu mempermasalahkannya.Apalagi ini hanya kecelakaan dan bukannya di sengaja.
Aku menyuruh Bima membopong Laras mengikutiku keruang UKS.
Aku berjalan didepan sebagai penunjuk jalan menuju ke ruang UKS,seakan aku tau seluk beluk sekolah ini
"Baringkan Laras di sana "titah ku pada Bima sambil membantunya membaringkan Laras di ranjang.
Dengan sigap aku mengambil kotak p3k dan mencari minyak kayu putih dan menggosoknya di pangkal hidung Laras.
Bima duduk di ranjang yang satunya dan menatapku lekat mengamati aksi penyelamatan yang kulakukan pada Laras.
"Lia,,,kenapa tadi kamu berbohong sama pak satpam.Kamu tau betul kalau yang pak satpam maksud itu adalah -"
"Pacar kamu.Aku hanya merasa senang aja melihat senyum di wajah pak satpam tadi.Lagian,berbohong untuk kebaikan itu kan nggak apa apa.Bener nggak ?"
Beberapa saat kemudian Laras sadar,sehingga percakapan kami tak diteruskan lagi.
"Iya,hanya puyeng dikit,tapi sekarang udah mendingan,kalo gitu kita harus cepat keruang AULA sekolah,Lily sudah menungguku disana."
"Baiklah,Bim bantuin Laras berdiri dong."
"Nggak usah,aku nggak apa apa"
Laras berdiri dari ranjang dan merapikan pakaiannya,kami melangkah menuju ruangan AULA.
Sesampainya disana,Laras mencoba menghubungi Lily untuk menanyakan keberadaannya,sedang aku merasa takjub dengan berbagai barang kerajinan tangan yang di pajang dan ditata rapi oleh para siswa.
"Kak Laras,,,,,sebelah sini."Teriak Lily begitu dia melihat sosok Laras berkutat dengan ponselnya.
Laras mencari sumber suara yang meneriakkan namanya.
"Li,,,,itu Lily disana,ayo kita kesana."Ajak Laras menarik tanganku hingga membuatku terkejut.
"Ayo Bim,kita ke sana."Ajakku yang juga menggenggam tangan Bima dan menariknya mengikuti Laras.
Bima tak menggerakkan langkahnya sedikitpun,dia hanya terfokus menatap tanganku yang sedang menggenggam tangannya.
Merasa tak ada pergerakan dari Bima membuatku berhenti dan berbalik menatapnya.
"Kenapa berhenti ?"tanya Laras sembari berbalik melihat ke belakang.
"Ada apa Bim ?ayooooo,,,,"Ajakku lagi dengan seulas senyuman.
Bima mengangguk dan membalas senyuman ku,ia melangkah mengikuti kami mencari keberadaan Lily.
"Kakak kok lama banget sih ?"Ucap Lily begitu bertemu dengan Laras.
"Maaf,,,kenalin,ini Lia dan ini-"
Belum sempat Laras memperkenalkan,Lily menarik Laras sedikit menjauh dari mereka.
"Kak,,,apa kakak tau siapa dia ?"tanya Lily yang melihat sekilas ke arah Bima.
"Siapa ?"
"Itu kak Bimantara Indrawan,alumni sekolah ini."
"Iya,,,kakak tau.Terus kenapa ?"
"Kakak kenal sama dia ?"
"Iya,,,,kamu ini kenapa sih ?"Laras mulai senewen dengan kelakuan Lily yang menginterogasinya kayak penjahat.
"Eeeee,,,,jangan marah dulu.Kakak tau nggak,dia itu adalah lulusan terbaik di sekolah ini,dia juga sangat disukai dikalangan siswa perempuan,teman satu kelas aku aja sampai nempel fotonya didinding kamarnya saking ngefans nya sama kak Bima."
"Hahahaha,,,,,,,,yang bener ?terus dia punya pacar nggak ?"
"Nah,itu dia masalahnya.Selama ini dia itu terkesan cuek dengan yang namanya cinta.Jangankan punya pacar,senyum aja dia nggak pernah."
"Masa sih ?"
Aku menghampiri Laras dan Lily.
"Ada apa,Laras ?"
"Nggak ada apa apa.Kenalin,ini adikku Lily."Ucap Laras.
"Aku Lia,teman sekampusnya kakak kamu."Ucapku seraya menjulurkan tangan pada Lily dan disambutnya hangat dengan senyuman.
"Bim,kesini."Panggilku pada Bima yang sedang mengamati beberapa lukisan yang terpajang di dinding.
"Lily,,,,kenalin,ini Bima,teman satu kampus kita."
Mata Lily membelalak mengetahui kalau Bima satu kampus sama Laras kakaknya.
"Aku Bima."Sapa Bima sambil mengulurkan tangannya pada Lily lengkap dengan seulas senyuman yang baru pertama kali Lily lihat.
Lily menyambut uluran tangan Bima dan terpana menatap senyuman Bima yang seperti menghipnotis dirinya.
Aku dan Laras saling menatap dan tertawa melihat reaksi Bima yang tak kalah bengong melihat wajah Lily yang sudah kayak kepiting rebus.
Gimana Lily nggak terpana melihat Bima,sudah setahun dia mengenal Bima,tak pernah dia melihat senyumannya seorang Bima.
Tapi kali ini,Bima berdiri dihadapannya dengan sebuah senyuman yang hanya dikhususkan untuknya.
Bisa bayangkan nggak bagaimana perasaannya Lily saat ini.
Para siswa mulai berdatangan menghampiri kami begitu menyadari keberadaan Bima.
"Itu kak Bima."kata Luna teman Lily.
"Lihat,dia tersenyum."sambung Kila.
"Ganteng banget"Ucap sari yang memang ngefans sama Bima sejak Bima masih jadi kakak kelasnya.
"Tapi,kok bisa yah dia kenal sama lily?"tanya Luna pada ketiga sahabatnya itu.
Percakapan para siswa terdengar sampai ditelingaku membuatku mengulum senyumku.
"Bim,,kamu terkenal juga disini."Ucapku sambil menyikut lengan Bima sembari tersenyum.
"Li,Bim.Kalo kalian ingin lihat lihat sekitar,silahkan aja.Aku masih mau disini membantu Lily."
"Baiklah,kami kesana bentar yah."
Aku dan Bima berjalan perlahan mengitari ruangan AULA yang begitu luas.
Tiba tiba langkahku terhenti begitu melihat sebuah lukisan yang terpajang di antara beberapa lukisan lainnya.
Bima mulai memperhatikan perubahan bentuk raut wajahku,aku merasa heran,kenapa lukisan itu bisa sama dengan lukisan yang ku buat.
Sebuah lukisan tentang pertemuanku dengan Bima pertama kali di sebuah taman di negeri sakura.
Kepalaku tiba tiba pusing sampai aku terhuyung ke belakang,untung saja Bima dengan cepat menahanku hingga aku masih bisa berdiri tegap di kedua kakiku.
"Ada apa ?apa kamu sakit ?"Tanya Bima sambil membantuku mencari tempat duduk yang kebetulan berada tak begitu jauh dari tempat kami berdiri.