
"Nggak"
"Tunggu bentar disini yah,aku belikan kamu minum."
Aku hanya mengangguk pelan.
Setelah Bima berlalu dari hadapanku,aku mulai membandingkan hasil karya lukisanku dengan yang terpajang didinding didalam penerawangan ku.
Bunyi ponsel menyadarkan ku seketika,nama Abrary muncul di layar depan ponselku.
"Hallo"
"Lia,,,kamu sekarang dimana ?"suara Abrar terdengar sedikit khawatir.
"Aku lagi di pameran seni,emangnya kenapa?"
"Dimana ?"
"Di SMA Taruna Bangsa."
"Mau aku jemput biar pulang bareng ?"
"Nggak usah,aku belum lama nyampe,nggak enak sama Laras kalo aku pulang duluan."
"Ya udah,kalo gitu aku tunggu di rumah kamu yah,soalnya ada hal penting yang mau aku omongin."
"Penting ??"
"Iya,,,pokoknya aku tunggu."
"Kalo gitu bentar lagi aku pulang."
Pembicaraan penting yang dimaksudkan Abrary menambah beban pikiranku saat ini.
Tanpa menunggu Bima datang,aku melangkah perlahan ingin menemui Laras untuk pamit pulang duluan.
Kepalaku sedikit pusing sampai aku menjeda langkahku beberapa kali.
Teriakan orang orang mulai menggema di telingaku.
"Awas,,,,,menjauh dari sana."
"Liaaaaaa,,,,,,,awaaaas,"teriak Laras
"Corona,,,,,"Ucap Bima yang langsung melempar botol air mineral yang di pegang ya secara asal dan berlari ke arahku kemudian memelukku,dia menarikku menjauh dari terjangan lampu kristal yang terjun bebas dari atas dan jatuh persis disamping kami.
Sekelabat bayangan samar yang sama dengan beberapa tahun lalu memutar kembali di ingatanku.
Tangan Bima terluka,luka yang sama persis dengan beberapa tahun lalu saat dia mencoba menyelamatkanku dulu,tempatnya pun sama,di AULA sekolah ini.
Tapi yang berbeda kali ini,luka Bima di obati oleh Laras,bukan olehku,karena saat ini aku sedang terbaring di ranjang UKS karena belum sadarkan diri alias pingsan.
"Laras,sebaiknya kamu kembali ke ruang AULA,kasian Lily sendirian disana,pasti dia sibuk.Biar Lia,aku yang jagain sampe dia siuman."
"Beneran nih nggak apa apa kamu yang jagain,entar kamu apa apain dia lagi."Ucap Laras dengan tatapan curiga.
"Dasar otak mesum,,,,"Balas Bima.
Sepeninggalnya Laras,Bima menarik kursi yang kebetulan memang ada disana dan duduk disamping ranjangku.
Bima menatap lekat wajahku,dengan sedikit ragu ragu,dia mengusap kepalaku,membuat aku mulai mengerjap dan menggerakkan kepalaku.
Begitu mataku terbuka,yang kulihat wajah Bima yang kelihatan khawatir sedang menatapku.
Aku mencoba bangun dibantu Bima.
"Kamu nggak apa apa ?"Tanya Bima begitu aku sudah duduk.
"Bim,apa yang terjadi ?kenapa aku ada disini ?"
Aku mencoba menutup mataku dan memutar kembali ingatanku tentang kejadian tadi.
Namun seketika aku meringis kesakitan karena rasa perih yang kurasakan menyerang kepalaku.
"Kamu kenapa ?Apanya yang sakit ?Apa perlu kita ke rumah sakit ?"tanya Bima bertubi tubi karena begitu khawatir dengan keadaanku.
Aku tertawa melihat mimik wajah Bima saat ini,wajahnya memucat seakan dirinya yang saat ini sedang merasakan sakit.
"Nggak apa apa Bim,aku baik baik saja."
"Baik baik saja gimana ?kamu kelihatan kesakitan begitu."Ucap Bima.
"Beneran,,,,aku baik baik saja.Tadi aku hanya pusing sedikit,tapi sekarang sudah nggak apa apa,mungkin karena ada kamu disini"Ucapku dengan seulas senyum mencoba bercanda walau tak lucu buat Bima.
"Tangan kamu kenapa ?"
"Ah,,,ini."
"Pasti kamu terluka karena nolongin aku tadi ya ?"
"Sudahlah,nggak apa apa.Sudah diobati kok tadi sama Laras."
"Maaf ya,gara gara aku kamu jadi terluka kayak gini."
"Iya,,,yang penting kamu sekarang nggak kenapa Napa.Luka kecil begini nggak seberapa."
Kami saling pandang dan sama sama tersenyum.
Sesampainya di depan gerbang sekolah,aku berdiri memandangi jalanan menunggu datangnya taksi yang lewat.
"Aku antar,ya ?"Bima menghentikan motornya di depanku yang akan siap siap mencegat taksi untuk pulang.
Mataku menatap Bima aneh,bukannya tadi dia bilang ingin melihat pameran seni ?tapi kenapa dia juga ikutan pulang.
"Ngapain kamu ikut ikutan pulang ?"
Bima memangku helmnya dan memandang ke arahku.
"Memangnya aku nggak boleh pulang ?masa aku tega biarin kamu pulang sendiri setelah kejadian tadi."Jawab Bima.
Aku tersenyum,entah mengapa perhatian kecil dari Bima membuatku merasakan ada yang aneh dalam diriku.
"Mau ikut nggak ?"Ulang Bima.
Aku terdiam,aku jadi teringat akan Abrary yang sedang menungguku,apa yang bakal dipikirkannya saat melihatku pulang dengan Bima.Aku menimbang nimbang menerima ajakan Bima atau tetap menunggu taksi.
"Kenapa bengong,Non ?Ayo naik.Daripada kamu pulang sendirian,entar kamu kenapa Napa lagi.Gratis kok,"Kata Bima kocak.
"Kamu nyumpahin aku kenapa napa ?"Lirikku curiga tapi dengan senyum.
"Nggak mungkin lah,Lia.Aku malah nggak mau ada apa apa.Makanya,ayo cepetan naik deh,,,"Bima tertawa kecil.
Aku menerima helm yang di sodorkan Bima padaku,Okelah,,nggak ada ruginya,,,
Aku menggenggam besi belakang jok motor untuk menjaga keseimbangan,persis kayak orang naik ojek.
Jok motor Bima agak nungging,setengah mati aku menahan posisiku supaya nggak melorot ke depan.
"Pegangan di pinggang aku,nanti kamu jatuh.Emangnya tampang aku kayak tukang ojek ya ?"Ucap Bima sambil mengstater motornya.
Tanganku pelan pelan memegang pinggang Bima dengan canggung,tapi hanya ujung jaketnya.
SLEEEP !
Tangan Bima menarik tanganku agar memeluk pinggangnya.
"Jangan takut gitu dong,kita kan lagi naik motor,nggak bakalan ada yang nuduh kamu selingkuh dari Abrar.Orang naik motor kan wajar meluk pinggang.Lagi pula kalau cuman meluk pinggang doang nggak bakalan hamil kok !"Ucap Bima becanda dan langsung mendapat cubitan dariku di pinggangnya.
"Aw,,,sakit."Ringis Bima namun dengan senyuman sumringah.
Akhirnya aku menurut,benar juga yang dikatakan Bima,cowok sama cowok saja naik motor pelukan pinggang nggak pernah dibilang homo,bener nggak ???
Rupanya Abrar sedang berada diteras menunggu kedatanganku,jadi mau tak mau dia harus melihatku dan Bima tiba didepan rumah.
Aku turun dari motor,melepas helm yang kukenakan dan memberikannya pada Bima.
"Makasih ya sudah anterin aku pulang."Ucapku sambil menyelipkan rambutku dibalik telinga karena dihempas angin nakal.
"Sama sama.Eh,pacar kamu lagi liatin kita.Apa perlu aku ke sana untuk jelasin."
"Nggak usah,Abrar itu orangnya pengertian kok."
"Kali aja dia mikirnya lain sekarang."
"Nggak bakalan.Udah deh,pulang aja sana."
"Jadi aku di usir nih,,,,"
"Siap yang diusir ?"Ujar Abrar yang sudah berada di belakangku.
"Abrar,"Aku berbalik dan tersenyum.
"Ini,,,,pacar kamu,setelah aku anterin pulang,dia malah ngusir aku,katanya kamu bakalan marah kalo lihat dia jalan sama yang Laen."
Mataku melotot menatap ke arah Bima dan hanya ditanggapi Bima dengan tawa candaan.
"Kamu bisa aja Bim,Aku percaya sama Lia karena dia juga percaya sama aku."Ucap Abrar sambil mengucek pucuk kepalaku seakan memamerkan kemesraan kami di depan Bima.
Bima menahan sekuat tenaga memendam rasa cemburunya dengan tetap memasang senyuman di depanku dan Abrar,padahal hatinya seakan remuk melihatku bersama dengan orang lain.
"Kalo gitu,aku pamit pulang aja deh,nggak enak ganggu kalian yang lagi pacaran,bikin iri para jomblo aja."Ucap Bima yang bersiap untuk pergi dari sana.
Bima pun pergi meninggalkan kami yang berjalan masuk ke pekarangan rumah.
"Li,,,kamu kok bisa pulang bareng Bima ?katanya kamu tadi lagi sama Laras."Tanya Abrar begitu mereka duduk di teras depan.
"Kenapa ? kamu cemburu ya,,,??"candaku menyeringai menatap Abrar.
"Emangnya kalo aku cemburu nggak boleh ?kamu kan pacar aku,dan sebentar lagi kita akan meresmikan hubungan kita."
"Meresmikan ?maksudnya ?"tanyaku penasaran.
sebenarnya Abrar belum mau meresmikan hubungan kami,dia berencana membantu memulihkan kembali ingatanku dulu,dan menerima hasil apapun yang akan dia terima kalau saja aku mengingat kembali semuanya.
Namun karena takut kehilangan diriku,dia menerima desakan orang tuanya untuk cepat melangsungkan pertunangan kami,hal yang paling memicu keinginanya untuk cepat bertunangan adalah saat ini.
Saat dia melihat aku sudah mulai dekat dengan Bima,dia takut kalau aku akan meninggalkannya dan kembali bersama dengan Bima.
Terdengar egois dan memikirkan diri sendiri sih,tapi apa yang bisa dilakukan kalau sudah di hadapkan pada yang namanya cinta.
Semuanya bisa terjadi jika sudah di dasarkan atas nama cinta.....