
Keberangkatkan kami tetap pasti sesuai dengan jadwal walaupun Cuaca saat ini sedang tak begitu bersahabat,sekacau suasana hati yang sedang kurasakan saat ini.
Di dalam pesawat,aku duduk bersama Bima,sedangkan Tante Kania dan Kenzo duduk secara terpisah.
Aku mencoba mencairkan suasana hati Bima yang sempat memburuk saat masih di bandara tadi,walaupun sebenarnya hatiku kecewa melihat sikap Bima terhadap ibu kandungku yang bisa dikatakan kurang sopan.
"Bim,kamu masih marah yah sama aku ?Aku minta maaf deh !"Bujukku sambil memasang muka memelas di hadapannya.
Bima mencoba cuek dan memasang tampang sok jual mahal dengan tak menerima permintaan maaf ku.
"Kok kamu tega sih sama aku,please,,,,,maafin aku yah ?"Kataku dengan kedua tangan yang mengatup sempurna di depan dada seraya memohon.
"Siapa sih yang bisa tahan marah lama lama sama kamu !Gemesin deh."Ucap Bima dengan senyumannya sambil mencubit hidung dan pipiku sehingga membuat aku meringis kesakitan.
"Jadi aku di maafin kan ?"Ujarku sambil mengusap pipiku yang sedikit sakit.
"Dengan satu syarat !"
"Apa ?"jawabku manyun.
"Kamu harus masakin aku makan malam spesial,tanpa bantuan siapa pun.Bisa nggak ??"
"Kalo itu mah,,,kecil.Nanti begitu kita sampe di rumah.Aku akan buatin makanan favorit kita berdua.NASI GORENG SEAFOOD ala Corona."
Kami tertawa bersama,sejak hari itu kami memutuskan kalo yang menjadi makanan fave kami berdua adalah nasi goreng ala Corona.
"Aku ke toilet sebentar yah "Kataku sambil bangkit dari tempat duduk meninggalkan Bima yang masih tertawa dan menjawab ku hanya dengan anggukan kepala.
Sampai di depan toilet,pintu masih terkunci.
Jadi aku menunggu sambil berdiri.
Tiba tiba terdengar suara bising yang menggema di seluruh ruangan diikuti suara protokol dari pramugari untuk tetap tenang.
Aku sudah tak minat lagi untuk masuk ke dalam toilet,begitu aku ingin berbalik pergi dari sana,tiba tiba sosok pria berdiri di depanku ketika pintu toilet terbuka.
"Lia,,,"Ucap Abrary saat melihatku terpaku menatapnya.Rupanya,Abrary satu pesawat dengan ku,pria yang tadi bertemu denganku waktu kami berada di bandara.
Seorang pramugari yang berlari panik menyambarku dari belakang sehingga aku masuk kedalam pelukan pria itu.
Suasana menjadi kacau ketika pesawat mulai oleng.Gemuruh petir terdengar sahut sahutan,aku dan Abrar saling pandang kemudian mengalihkan pandangan melihat kegaduhan yang terjadi di dalam pesawat.
Gubraaaaaakkkkk.......
Bunyi dentuman keras bagaikan sebuah bom terdengar jelas di telingaku.Pesawat yang kami tumpangi meledak pada bagian sayap kanan.Aku merasakan kalau tubuhku didekap oleh Abrar agar aku tak terlempar keluar karena pintu pesawat tiba tiba terbuka.
Aku mendengar teriakan seseorang memanggil namaku,aku sangat mengenal suara itu.Itu suara Bima,dia tak bisa menjangkau diriku yang berada terlampau jauh darinya.Bima melepaskan sabuk pengaman yang terpasang di bagian perut.Mencoba berjalan mendekat kearahku dengan berpegangan pada sederetan bangku penumpang yang berjejer rapi di sepanjang koridor pesawat.Tubuhnya terlempar kesana dan kemari mengikuti alunan gelombang pesawat yang mulai terguncang saat menghantam awan tanpa keseimbangan.
"Bertahanlah Corona,aku akan menyelamatkanmu."Ucap Bima dengan langkah kaki yang tertatih.
Tak hanya Bima,bahkan Kenzo yang awalnya berpegangan pada tangan kursi karena goncangan berusaha menyeimbangkan diri bertumpuk pada kedua kakinya begitu melihat Tante Kania atau lebih tepatnya ibu kandungku berusaha mencari keberadaanku.
Walaupun sempat terhempas ke dinding pesawat,tak menggoyahkan tekadnya yang bulat ingin segera menemui ku agar bisa melindungi anaknya.Maklumlah,naluri seorang ibu emang seperti itu,tak pernah mempedulikan dirinya sendiri selain keselamatan anaknya.
Kenzo yang melihat Tante Kania didepannya,berusaha menarik tubuh wanita paruh baya itu,menyembunyikannya dan melindunginya dengan punggungnya begitu sebuah ledakan terdengar disamping kiri pesawat.
Api mulai berkobar di bagian sayap pesawat yang terkena kilatan cahaya petir.Semua orang mulai berteriak panik sambil sibuk menyelamatkan diri walau terpontang panting ke sisi kiri dan kanan pesawat karena ketidak seimbangan pesawat yang mulai goyah seperti seekor burung jatuh ke bawah akibat di ketapel.
Awalnya para penumpang tenang dengan arahan sang pramugari yang membagikan parasut satu demi satu kepada para penumpang sebagai langkah pencegahan diri bila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.Tapi karena suasana yang mencekam dan beberapa kali terdengar bunyi ledakan membuat para penumpang panik dan saling berebut untuk menyelamatkan diri masing masing.
Untunglah,pramugari yang tadi menabrak ku tadi sempat menyodorkan perasut padaku.Dengan sigap,Abrary berusaha memakaikan parasut padaku tanpa melepasku yang sesekali melayang ke udara karena kuatnya dorongan angin yang melemparkan satu persatu benda yang ada di dalam pesawat melayang bebas di udara.
Aku tak dapat menghindari terjangan sebuah benda yang menghantam kepalaku sebelum terbang keluar pesawat.
Pandanganku mulai kabur dan seketika semuanya menjadi gelap gulita,cairan kental berwarna merah pekat mengalir melalui sela rambutku dan membasahi wajahku.
Abrary mulai panik melihatku yang sudah berlumuran darah.Untuk menghindari serangan benda lainnya yang akan melayang ke arah kami,dia melepaskan pegangan tangannya yang sedari tadi dia tautkan pada salah satu tiang pesawat,memeluk tubuhku yang sudah tak sadarkan diri,kemudian nekat terjun keluar dari pesawat dengan modal keyakinan menyelamatkan diri menggunakan sebuah parasut yang hanya terpasang pada tubuhku.
Kami melayang di udara bersama para penumpang lainnya yang sudah terlebih dahulu terjun bebas menyelamatkan diri.
Parasut yang hanya di desain untuk mengangkut berat badan satu orang tak mampu menahan berat kami berdua,ditambah lagi dengan derasnya hujan yang lebih menambah beban semakin bertambah.
***
Sejak pagi hingga siang nampak para sukarelawan,warga,tim SAR bersama prajurit TNI melakukan evakuasi korban di lokasi dan pencarian korban lainnya yang hilang.
Bima mengusap air mata dengan punggung tangannya,terus melangkah menekan gemuruh yang berputar dahsyat di kepalanya.
Tubuhnya lunglai menahan rasa sakit pada tangan kanannya yang sedang terluka.Begitu susah payah dia menegakkan tubuhnya.
Tapi siapa yang bisa mengalahkan kekerasan hatinya untuk tetap mencariku diantara puing puing bangkai pesawat yang sudah porak poranda.Adakah aku diantara tumpukan bangkai manusia yang bertebaran didepan matanya ?itulah yang terngiang di benak Bima saat ini.
Air matanya makin menderas,begitu hebat gemuruh nya sehingga dia tak bisa menahan rasa sakit di hatinya.Bima meraung hebat,seluruh persendiannya patah dan lunglai,ia terjerambab dengan tubuh kehilangan daya.Mungkin hanya dirinya sendiri yang bisa memahami sikapnya.
Tak hanya Bima,seedari tadi Ken juga mencari kesana dan kemari berharap menemukanku di antara para korban lainnya yang sudah mendapat perawatan dari tim medis.
Bima terus menyeret kakinya dengan langkah yang semakin melata.Seluruh sendi sendi kakinya bergetar,merambat ke engsel tubuhnya.Tapi Bima tak mau mengalah pada keadaan tubuhnya.Ia melangkahkan kaki dengan sisa tenaganya sampai dia kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah.
"Ayolah Bima,,istirahatlah sejenak.Badanmu sudah terlalu letih,sebentar lagi sepertinya hujan akan turun dan hari sudah mulai gelap,besok kita akan mencarinya lagi."
Ajak Kenzo sembari bangkit ingin membantu Bima berdiri,namun Bima tak bergeming sedikitpun dari tempat duduknya.
"Nanti saja,aku harus menemukan nya.Aku belum lelah.Nanti aku akan istirahat bersama dengan tenggelamnya waktu."Ucap Bima lirih.
"Bima,,,aku mengerti dengan kesedihan yang kamu rasakan,karena aku juga merasakan hal yang sama denganmu.Aku yakin di suatu tempat,Corona akan baik baik saja karena dia wanita yang kuat.Apa kamu pikir,dia tak akan sedih melihat sikap keras kepalamu ini.Kamu harus sabar dan semangat demi dirinya.Gimana kamu bisa mencarinya dengan kondisimu yang seperti ini."Ucap Kenzo panjang kali lebar dengan kondisi badannya yang penuh luka tak kalah banyak dari Bima.
Mendengar ucapan Kenzo Bima tertawa sejadi jadinya sehingga membuat Kenzo keheranan.
"Bahkan disaat seperti ini kau lebih mengenal dirinya dibanding aku,,Ken.Aku memang tak pantas di cintai,semua orang yang ku sayangi pergi meninggalkan aku.Pertama mama ku,dan sekarang Corona pergi dariku..Aaarrrgggg....!"
Bima berteriak dengan kencang mengeluarkan beban yang ada dihatinya dengan derai air mata yang membasahi pipinya,sedang Ken meneteskan air mata haru melihat begitu besar cinta yang diberikan Bima padaku.
Kenzo mengikrarkan janji dalam hatinya,apabila aku ditemukan,dia akan mengalah dan melepaskan ku untuk Bima.