My Name Is CORONA..

My Name Is CORONA..
Ciuman dadakan....



Begitu keluar dari area parkiran,aku langsung menyambar tangan Abrar dan menariknya memasuki arena tempat bermain.


Abrary hanya pasrah,padahal dia sudah membayangkan aku akan mengajaknya ke kafe romantis, menonton bioskop berdua,atau setidaknya pergi jalan jalan bareng ke mall sambil bergandengan tangan.Pokoknya yang romantisan dikit lah.


"Kita naik wahana yang mana duluan nih ?"Tanyaku sambil celingak celinguk melihat begitu banyak pilihan yang begitu menarik.


"Apa aja deh,yang penting sama kamu."Jawab Abrary.


"Kalo gitu kita naik kincir raksasa aja dulu.Kamu tunggu disini,biar aku beli dulu tiketnya."Ucapku sembari melepaskan tangan Abrary.


"Aku aja yang beli,kamu tunggu aja disini,lagian antriannya panjang banget."


"Kalo gitu aku ke toilet bentar.Kalo udah dapet tiketnya,tunggu aja di sana "Ucapku sambil menunjuk ke arah stan yang menjual minuman dingin.


"Ok"


Aku berjalan menjauh meninggalkan Abrary yang sedang berdiri panas panasan mengantri demi mendapatkan tiket masuk.


Saat berada dalam toilet aku mendengar suara seseorang yang sangat ku kenal.Aku buru buru keluar dan mendapati Laras sedang mengoles lipglos ke bibirnya yang seksi.


"Laraaaasss,,,,sedang apa kamu disini ?"


"Menurut kamu mau ngapain ?"


"Tumben tu bibir mengkilap,lagi ngedate sama pacar nih ceritanya !"ledekku sambil mengulum senyum.


"Apaan sih,,,ngawur kamu "wajah Laras semakin merona.


"Alaaaah,,,,ngaku deh.Kamu datang sama siapa sih ?"tanyaku penasaran.


"Nanti kamu juga tau."


Kami berdua keluar bareng dari toilet,Laras mencari cari keberadaan Bima yang tadi datang bersamanya,tapi Bima tak nampak dimana pun.


Abrary menghampiri kami dengan memegang dua buah tiket di tangannya.Namun raut wajahnya memancarkan kekecewaan.


"Lia,,,,,,maafin aku yah,aku nggak bisa nemenin kamu naik ini."


"Emang kenapa ?Kamu mau kemana ?"


"Aku ditelpon sama ayah,katanya rekan bisnis ayah ingin mengadakan rapat mendadak karena harus berangkat ke Singapura sore ini"


Wajah Abrar tampak kusut karena menelan kekecewaan saat ini.


"Ya udah,,,,kamu pergi aja.Aku nggak apa apa kok.Lagian sekarang ada Laras yang menemani."Kataku berusaha menghiburnya agar dia merasa bersemangat lagi.


"Maafin aku ya,sayang.Laras,aku nitip Lia sama kamu,tolong di jagain."


"Beres,,,,,,ada ongkosnya nggak ?"


"Nanti akan aku bayar,yang penting kerjanya ok "


"Udah,cepetan sana.Jangan sampe ayah kelamaan nunggu "Ucapku.


Abrar memeluk dan mengecup dahiku kemudian menepuk pundak Laras kemudian berlalu dari pandanganku meninggalkan area Taman Mini Indonesia Indah.


Dari kejauhan Bima sedang menyaksikan adegan yang membuat hatinya begitu perih.


Betapa dia sangat merindukan saat saat kebersamaan kami dulu.


"Bimaaaaa "teriak Laras begitu pencariannya berakhir setelah menemukan sosok Bima yang ternyata hanya berdiri tak terlalu jauh dari keberadaan kami.


"Bima ?"Dimana ?"Batinku yang menyapu ke segala arah mencari keberadaannya.


Mendengar namanya disebutkan,bulu kudukku berdiri semua,kenapa hanya mendengar namanya saja hatiku rasanya bahagia banget,apa yang terjadi padaku ?


Bukankah saat ini aku seharusnya bersedih karena tak jadi menghabiskan waktu bersama dengan Abrary yang sudah jelas adalah calon suamiku.


"Waaw,,,,,ada yang nggak beres nih ?Kok bisa bedua aja kesini ?lagi ngedate ya,,?Apa aku pulang aja ? soalnya takut ganggu yang lagi pedekate,,,,"Ucapku meledek Laras untuk menyembunyikan gugup ku melihat tampang Bima yang terlihat sangat keren saat ini.


"Kamu kemana aja ?"tanya Laras begitu Bima berada didepan kami.


"Kalo gitu,aku pulang aja deh,takut ganggu.Ini dua tiket buat wahana kincir raksasa.Tadinya aku pengen naik sama Abrary.Tapi dia ada urusan mendadak,makanya tiket ini buat kalian berdua aja."


Aku memberikan tiket yang sedari tadi ku pegang ke tangan Laras.


"Aku nggak mau naik,,,aku takut sama ketinggian.Bim,kamu aja yang temani Lia naik wahana itu,lagian sayang kalo tiketnya dibuang,mubazir tau."


"Tapi,,,,"


"Lia nggak bakalan mau,,,dia takut dibilang selingkuh sama pacarnya kalo ketahuan jalan bareng laki laki lain."ledek Bima.


"Siapa bilang ?Abrar nggak cemburuan kok."kataku judes.


"Kalo gitu tunggu apa lagi,cepetan sana.Biar aku tunggu disini aja."perintah Laras sambil mendorong pundakku.


Bima menarik tanganku,dan anehnya aku sama sekali nggak menolak.


Antreannya tidak terlalu panjang.Belum sampe lima menit kami sudah duduk didalam gondola berwarna biru bernomor 3.


Pelan pelan kincir itu bergerak dan gondola kami merambat naik.


"Aku selalu suka naik ini.Dari sini aku bisa melihat lampu lampu di bawah sana."Gumam ku sambil melempar pandangan ke bawah.


Awalnya Bima kelihatan baik baik saja,tapi kemudian dia mencengkram pinggiran kursi erat erat,nafasnya tersengal seperti akan kehabisan nafas.


"Lihat deh.Keren ya ?"Aku menunjuk ke sembarangan arah.


Begitu gondola berhenti sejenak diatas,wajah Bima memucat dan kelihatan tegang.


"Bim,,,,?kamu kenapa ?sakit perut ?"


Bima tak menjawab,dia malah memejamkan matanya berusaha mengendalikan dirinya.Rupanya Bima merasa trauma dengan kejadian yang dialaminya di pesawat beberapa tahun yang lalu,rasa trauma berat yang dia alami semakin terasa berat karena depresi saat kehilangan diriku.


"Kok kamu pucat gitu ?Jangan bilang mau muntah ya,,,"


Tak mendapat respon dari semua pertanyaanku,membuatku reflex pindah ke samping Bima hingga membuat gondola kami langsung bergoyang goyang.


Bima semakin kejang dan panik,aku buru buru menggenggam tangan Bima berusaha membuatnya tenang sambil menepuk pundak Bima perlahan.


Begitu membuka mata,Bima langsung memelukku dengan erat,tangisnya pecah,betapa senangnya dia melihatku berada didepannya dalam keadaan baik baik saja.


Entah kenapa melihat Bima menangis,air mataku ikutan mengalir tanpa diundang.Aku seakan bisa merasakan kesedihan yang Bima rasakan saat ini.


Jarak kami terlalu dekat,Mataku tepat menatap lurus ke bola mata Bima.Aku menahan nafas karena wajah Bima semakin dekat hingga hembusan nafasnya yang wangi menyeruap masuk kedalam penciumanku.


Apa apaan ini,,,,?Aku jelas jelas melihat Bima memiringkan kepalanya dan CUP,,,,,bibir Bima mencium bibirku.


Aku terdiam.Bukan menolak,juga tidak membalas.


Sedetik,,,dua detik,,,tiga detik,,,empat detik,,,,


Aku mendorong tubuh Bima kaget.


"Kamu ngapain sih ?"Pekik ku tertahan.


Aku ciuman sama Bima ?!bahkan Abrar saja belum pernah mencium bibirku,dan aku sekarang berciuman dengan Bima yang belum lama ku kenal.Ada apa denganku ????


Jantungku berdegup tak karuan,wajahku merona bagaikan udang rebus.


Bukankah Bima tau kalau aku adalah pacar Abrary dan sebentar lagi kami akan bertunangan.Kenapa dia tega melakukan ini padaku.


"Lia,,,so-sori,Lia,,aku,,,,"Bima berusaha merengkuh bahuku.


"Cukup "Kataku melayangkan telapak tanganku didepan Bima agar dia jangan mendekat.


Jangan tanya bagaimana perasaanku sekarang.Bukan marah,bukan senang,bukan sedih,,,,pokoknya aku sendiri pun tak tahu....


"Bang berhenti,,,"Aku berteriak ketika kincir itu berhenti berputar, aku bisa turun begitu posisi gondola kami berada di barisan bawah.Padahal putarannya masih sekali lagi.


Begitu kincir itu berhenti,aku keluar dari gondola dan berlari meninggalkan Bima yang terus mengejar sampai dia kehilangan jejakku.