My Name Is CORONA..

My Name Is CORONA..
Baik baik saja,padahal enggak...



Setelah berpamitan,Abrary mengantar ku pulang.Sepanjang perjalanan pulang,aku tak berbicara apapun padanya.Aku hanya menatap keluar jendela sambil sesekali menghapus air mataku yang entah kenapa terus saja mengalir.


Tak lama kemudian mobil Abrary memasuki pekarangan rumahku.


Begitu mobil terhenti,dia mengusap kepalaku yang sedang tertidur lelap di sampingnya.


Merasakan sentuhannya,aku mengerjapkan mataku dan melihat kearahnya.


"Kita sudah sampai."ucapnya perlahan dengan lembut.


"Makasih sudah mengantarku pulang."


Aku langsung bersiap untuk turun,namun tanganku di tahan oleh Abrary hingga membuatku terhenti dan berbalik arah menatapnya.


"Kamu baik baik saja ?"Tanyanya lagi.


Aku tersenyum."Tentu saja.Aku hanya kelelahan.Sebaiknya kamu juga langsung pulang dan istirahat."Ucapku yang langsung turun dari mobilnya dan melambaikan tangan padanya ketika mobilnya berlalu meninggalkan aku sendiri.


Aku berjalan perlahan menuju pintu depan rumahku.Namun ketika sampai di depan pintu,aku hanya berdiri mematung dengan kunci yang masih bertengger manis di tanganku.


"Apa perlu aku bantu untuk membuka pintunya ?"


Suara seseorang yang sangat ku kenal terdengar dari sudut rumahku hingga membuatku sadar dari lamunan.


Aku menoleh mencari arah datangnya suara.Rupanya Bima yang sedang berdiri di sana.Aku tak habis pikir bagaimana dia bisa ada di rumahku sebelum aku sampai,sedangkan yang ku tau,aku meninggalkan dirinya di pesta bersama yang lainnya.


"Kamu ?sedang apa kamu disini ?Bukannya kamu --"


"Aku kesini hanya ingin menemukan sebuah jawaban."Ucap Bima yang mulai berjalan menghampiriku.


"Jawaban ?dari siapa ?"Tanyaku yang melangkah mundur mencoba menghindarinya ketika dia semakin dekat kearahku.


"Darimu."Ucap Bima yang langsung mengurungku dengan kedua tangannya membuatku tak bisa kemana mana lagi.Langkahku terhenti ketika tersandar di dinding.


"Kenapa harus aku ?"Tanyaku yang menundukkan pandanganku karena tak berani menatapnya.


Bima tak menjawab,dia hanya memegang daguku,mengangkat wajahku hingga mendongak menatap kearahnya.


Untuk sejenak tatapan kami bertemu.Aku langsung menghindar darinya dan keluar dari kukungan tangannya.


"Pergilah dari sini.Aku tak mau kalau--"


"Abrary kembali ke sini dan melihat calon tunangannya bersama dengan orang lain."Sambung Bima yang berbalik mengikutiku.


"Apa maumu ?"


"Aku ingin bertanya satu hal padamu ?Dan aku mau kamu menjawabnya dengan jujur."


"Kenapa aku harus mau menjawab pertanyaan darimu ?"


"Harus.Karena jawabanmu yang akan menentukan arah hidupku untuk melangkah."


Bima berdiri di depanku dan memegang pundak ku.


"Kenapa kamu marah saat melihatku bersama dengan Laras tadi ?"


"Aku ?kenapa juga aku harus marah !siapa aku sampai harus marah ketika melihatmu dengan Laras ?"


"Itulah yang ingin kutanyakan padamu,siapa aku bagimu ?kenapa aku merasa kalau kau sangat terpengaruh dengan kedekatan ku dengan Laras tadi."


"Itu hanya perasaanmu saja,kalian berdua adalah temanku,aku malah senang kalau kamu dan Laras bisa jadian."


"Kenapa kamu berbohong Lia ?"


"Apanya yang bohong ?memang benar kan kalian berdua adalah temanku."


"Tatap aku dan katakan kalau aku salah tentang perasaanku,apa benar kamu hanya menganggap ku teman dan tidak lebih dari itu."


Aku memberanikan diri menatap mata Bima yang menatapku tajam hingga terasa menusuk jantungku.


"Aku hanya menganggapmu sebagai teman dan tidak lebih dari itu."


Kekecewaan dan kemarahan terpancar dari wajah Bima.Aku menggenggam tangan Bima.


"Bim,aku tau kalau kamu sangat merindukan kekasihmu,dan itu lebih terasa saat kamu bertemu denganku karena wajah kami mirip.Tapi bukan berarti kalau kamu tidak bisa move on darinya.Biarlah kenangan kalian hidup selamanya di dalam hatimu.Kamu bisa memulai kehidupan barumu dengan membuka hati untuk orang lain.Tapi bukan denganku karena aku adalah tunangannya Abrary,dan aku sangat sayang padanya."


"Andai saja kamu tau yang sebenarnya Corona."Batin Bima dengan menatap lekat kedalam bola mataku.


Bima tak berkata apa apa lagi.Dia meninggalkan rumahku dengan sepeda motornya.


Sepeninggalnya Bima,aku menangis sejadi jadinya dengan duduk di lantai depan rumahku.Aku sendiri tak tau apa yang terjadi dengan diriku.Melihat Bima seperti itu membuatku tersiksa dengan sendirinya.


Abrary menyaksikan kejadian itu tanpa bersuara sedikitpun.Sebenarnya dia kembali ingin mengembalikan ponselku yang tertinggal di mobilnya.Tapi setelah melihat kejadian itu dia mengurungkan niatnya.Kemudian dia pulang sebelum aku mengetahui kedatangannya.


💔💔💔💔


Hari ini malasnya setengah mati.Mood ku untuk masuk kampus, ambles.MALAS! Mataku sembab karena masih sangat mengantuk.Semalaman aku tak bisa tidur memikirkan semua hal yang terjadi belakangan ini.


"Hai,Li."Laras melempar tasnya ke meja.


Laras sibuk menekan nekan nomor telpon."Ughhh ! Sebel banget,kenapa sih nggak bisa nyambung ?"


"Kenapa sih ?"Mataku sibuk mencatat tugas yang tak sempat ku kerjakan semalam.


Laras tak menjawab,dia masih sibuk menekan nekan tombol telepon mencoba menghubungi Bima yang tak kunjung datang.


"Bima udah datang ?"Tanya ku tiba tiba.


"Kangen, ya ?"Laras balik bertanya.


Jantungku bagaikan tertikam.Kenapa juga Laras nanyanya begitu.


"Kok bengong gitu ?Muka kamu panik gitu,Lia ."


"Cuma nanya aja,emang nggak boleh ?"


"Itu juga yang aku kesalin dari tadi,aku coba menghubunginya tapi nggak bisa bisa,kemana sih 'tu anak?"


"Mungkin bentar lagi dia datang."Ucapku santai di mulut tapi cemasnya minta ampun di hatiku.


"Ngomongin aku,ya ?"Suara Bima tiba tiba membuatku kaget,perutku langsung mules.Aku pura pura serius dengan catatanku,tapi jantungku berdegup kencang sewaktu telapak tangan Bima menyentuh bahuku.


"Kita jalan jam berapa ?"Tanya Bima.


"Secepatnya."Jawab Laras sambil menatap lurus kearahku yang sedang sibuk dengan tugasku.


Aku tercengang,sudah sejauh itukah hubungan mereka berdua ?bahkan Bima nggak merasa canggung untuk ngajak Laras ngedate depan aku.


Aku merasa seperti orang bodoh,aku sampai begadang semalaman memikirkan dirinya yang sudah berhasil mengobrak Abrik hatiku dan saat ini seenaknya dia ngajak jalan Laras di depanku.


Apa yang sedang terjadi denganku ?bukankah aku sendiri yang menasehatinya agar move on dan membuka hati untuk orang lain ?tapi mengapa hatiku sangat sakit melihat ini semua.Seharusnya sebagai teman, bukankah aku harus mendukungnya ?


Aku kaget ketika Laras mengambil pulpen yang ada di tanganku,dia segera merapikan buku yang tadinya berserahkan dan mengisinya di dalam tasku.


"Laras !Kenapa --?"


"Jangan banyak tanya."


Aku memandang Bima seakan meminta penjelasan dari perbuatan Laras saat ini,tapi Bima hanya diam dengan senyuman di bibirnya.


Setelah selesai merapikan mejaku,Laras menarik tanganku dan mengajakku keluar kelas diikuti Bima di belakang kami berdua.


"Kita mau kemana sih ?"tanyaku penasaran.


"Nanti juga kamu bakalan tau."Ucap Laras


Dalam perjalanan menuju parkiran,Laras berhenti ketika ponselnya berdering.


Dia berjalan sedikit menjauh untuk menjawab panggilan telpon yang ternyata dari sang bunda.


Hanya hening yang tercipta antara aku dan Bima.Perasaanku langsung tak karuan ketika mendapati Bima sedang menatapku tanpa berkedip sekalipun.Tatapan kami bertemu untuk sesaat.


"Maaf ya lama"Ucap Laras yang tiba tiba datang diantara kami.


Kami melanjutkan perjalanan menuju parkiran.


"Kita mau kemana sih ? dan ini mobil siapa ?"


Tanyaku yang merasa kalau aku sedang dalam aksi penculikan.


Tapi yang anehnya,kali ini yang akan di culik mau aja menuruti permintaan sang penculik.


Sebelum pertanyaanku mendapatkan jawaban,ponselku berdering.Setelah melihat nama siapa yang terpampang di layar,aku langsung melihat ke arah Laras dan Bima secara bergantian.


"Dari siapa ?"tanya Laras ketika menyadari aku belum menjawab ponsel yang berdering sekian lama.


"Jawab aja."pintanya begitu melihat nama Abrary yang muncul.


Aku menuruti perkataan Laras.


Mataku membelalak begitu mengetahui kalau Abrary meminta Laras dan Bima menemaniku memilih baju pertunangan.Aku menatap Bima yang duduk di bangku sopir dengan tetap fokus mengendarai lajunya kendaraan agar tetap stabil dengan wajah yang datar tanpa senyuman sedikit pun.


Sehabis menerima telpon dari Abrary,aku tak tau harus bagaimana bersikap.


"Sekarang kamu sudah tau kita mau kemana.Jadi jangan banyak tanya tapi tersenyumlah.Karena sebagai teman yang baik,kami berdua yang akan membantumu tampil cantik malam ini."Ucap Laras.


Aku memaksakan tersenyum walau terasa kaku.


Sesampainya di butik,aku tak bersemangat memilih baju,aku hanya mencuri pandang wajah Bima yang sesekali tertawa menyembunyikan kesedihannya.


Sebuah gaun berwarna merah darah saat ini sedang ditatap Bima ambil menungguku mencoba beberapa potong gaun yang disarankan Laras.


Saat keluar dari kamar pas,mataku menncari keberadaan Bima,rasanya aku ingin kalau Bima yang mengomentari gaun yang akan ku pakai.Namun aku tak menemukannya di sana.


Dua buah kantong belanjaan sudah berada di tanganku.Begitu keluar dari sana,aku melihat Bima masih memandangi gaun merah itu.


"Laras,kamu pulang aja duluan sama Bima,aku mau ke toilet sebentar."


"Nggak apa apa Lia,aku akan menunggumu."


"Nggak perlu,Abrary tadi telpon.Katanya dia akan menjemputku untuk membeli cincin pertunangan.Jadi kamu nggak perlu menungguku."


"Baiklah kalau begitu."


"Sampaikan juga terima kasihku pada Bima dan jangan lupa untuk datang malam ini.Aku akan sangat senang kalau kalian berdua bisa datang bersama."


"Baiklah,akan aku sampaikan."Ucap Laras Kemudian berlalu dari hadapanku.


Aku mengintip kepergian Laras dari balik tembok.Ketika dia mengajak Bima pulang,aku melihat Bima sempat menengok kebelakang mencari keberadaanku.


Bahkan ketika sorot matanya hampir saja melihatku,aku langsung sembunyi di balik tembok.


Setelah mereka benar benar lenyap dari pandanganku,aku menghampiri pelayan butik dan memintanya mengambilkan gaun merah yang di lihat Bima tadi.