My Name Is CORONA..

My Name Is CORONA..
Rasa penasaran...



Saat bel berdentang menandakan jam pelajaran telah usai,Dinda datang dan mengingatkan kami soal pertemuan kelompok yang akan diadakan dirumahnya sore ini sesuai dengan kesepakatan kami bersama kemarin.


"Li,entar sore jadi kan kerumah aku ?"Tanya Dinda meminta kepastian.


"Kalo aku sih pasti,coba kamu tanya ke yang lain apa mereka bisa ato nggak ?"Kataku sambil memasukan buku dan alat tulisku ke dalam tas.


"Ken,pertemuan kita entar sore jadi nggak ?"Tanya Dinda lagi kepada Kenzo.


"Siiip,,pasti."jawab Kenzo dengan acungan jempol.


"Kalo gitu,aku tunggu yah.Nanti aku SMS alamat rumahku."


"Din,kamu kok nggak nanya sama aku mau datang ato enggak,kita kan satu kelompok !"


Ujar Raka kesal karena merasa di abaikan.


"Maap,aku lupa."Jawab Dinda sambil cengengesan.


"Tega banget sih "seru Raka sedih campur kesal.


"Ya maap,namanya saja lupa"Kata Dinda dengan wajah bersalah.


Semenjak habis pelajaran olahraga tadi pagi,Adel sepertinya membatasi dirinya untuk ngobrol denganku.Biasanya dia yang paling bisa membuatku tertawa dengan candaan khas Adelia yang membahana.Tapi entah kenapa dia kelihatan tak bersemangat.


"Del,kamu kenapa ?sejak tadi kok diam aja.Kamu sakit ?"tanyaku sedikit khawatir dengan keadaan Adel saat ini.


"Aku nggak apa apa."Jawab Adel seadanya.


Tiba tiba Bima datang dan mengajakku


pulang bersamanya.


"Lia,ayo kita pulang ?"ajak Bima yang sudah berdiri di depan mejaku sembari melirik kearah Kenzo yang menatapnya santai.


"Bentar Bim,kayaknya Adel kurang sehat deh.Aku mau pulang bareng Adel aja,sekalian ngantar Adel ke rumahnya.Aku takut terjadi apa apa sama dia di jalan."Kataku sambil menatap Adel dengan tatapan khawatir.


Melihat perhatianku padanya,Adel merasa bersalah dalam hatinya,masa hanya gara gara seorang laki laki yang baru dikenalnya,dia sampai menjaga jarak dengan sahabatnya yang sudah bertahun tahun bersamanya yang sudah jelas jelas sangat sayang padanya.


Apalagi bukan salahku kalo sampe Kenzo nggak bisa membalas perasaanAdel.Emangnya cinta bisa dipaksakan?


"Kamu pulang aja bareng Bima,biar aku yang ngantar Adel pulang !"Tawar Kenzo yang membuat Adel tersenyum lebar selebar daun kelor.


"Beneran Ken ?"tanyaku yang hanya dibalas Ken dengan anggukan kepala dan kedipan mata.


"Terus kamu pulangnya gimana ?"Tanyaku lagi khawatir karena ken baru dua hari berada di Indonesia.


"Dia bukan anak ingusan yang tak bisa pulang sendiri."Sambung Bima ketus yang merasa jengkel dengan perhatianku yang berlebih pada Ken.


"Bener tuh apa kata pacar kamu,tenang aja.Tapi makasih atas perhatiannya"Ucap Kenzo yang mebuat semua orang terdiam menatapnya,terlebih Bima.


"Sama sama kencha.Kalo gitu makasih ya,tolong dijagain sahabat aku yang paling cantik sejagat raya ini."Kataku sambil melirik Adel dengan mengedipkan sebelah mataku.


Adel sangat senang begitu mengetahui akan pulang bareng Kenzo,semangat dalam dirinya seketika kembali menggebu.


Sementara Adel dan kenzo menunggu taksi datang,aku sama Bima lewat didepan mereka,Bima menarik tanganku supaya merangkulnya,tampaknya dia sengaja untuk membuat Kenzo cemburu.Karena Bima tau kalau Kenzo menyukaiku.Padahal kelihatan dengan jelas kalau dialah yang sering cemburu pada Kenzo.


***


Bima masih hilir mudik di kamarnya sendiri dengan sangat gelisah,tidak ada yang bisa dia perbuat untuk bisa mencegahku pergi ke pertemuan kelompok di rumah Dinda.


Bukan masalah pertemuan kelompok yang Bima cemaskan,tapi dikarenakan dia tau kalau aku akan pergi berdua sama kencha.Menurut pikiran Bima,Ken tidak akan membuang buang kesempatan untuk mendekatiku,apalagi saat ini Ken dan aku hanya jalan berdua dan Bima tak ada bersamaku.


Disaat yang sama,Bara baru keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.Ketika akan turun ke dapur untuk mengambil air,Bara melihat Bima yang mondar mandir kayak setrikaan didalam kamarnya,kerena saat ini pintu kamar Bima terbuka dengan lebar.


"Apa yang kamu pikirkan,Bima ? kamu kelihatan gelisah banget,ada apa ?"Tanya bara sembari menghampiri Bima dan menatapnya dengan serius.


Bima sedikit terkejut mendengar suara Bara yang berbicara kepadanya,seketika matanya teralihkan melihat bara yang berdiri di depannya dengan rambut yang masih basah dan sedikit berantakan.


Namun rasanya mulutnya kelu tak ingin menyampaikan apa yang mengganjal didalam hatinya,dia takut kalo nanti Bara akan menertawakan dirinya karena sikapnya,tapi dia juga tak punya pilihan lain,saat ini dia butuh sebuah pasokan ide yang cemerlang karena otaknya tak mampu untuk berpikir saat ini.


"Ada apa ?Siapa tau aku bisa bantu"Kata Bara menawarkan diri.


Untunglah Bima belum menceritakan apapun pada Bara,kerena sepertinya Tuhan berada dipihak Bima saat ini.


Suara Guntur menggelegar di langit,disusul dengan cipratan cahaya kilat yang menyala bagaikan blits kamera.Cuaca seketika mendung dan tak lama kemudian turun hujan lebat.


Bima berteriak kegirangan sambil melompat kesana dan kemari,tanpa harus melakukan apapun,Tuhan sudah memberi jalan keluar dari masalahnya.


Kayaknya Bara yang saat ini sedang dalam masalah,dia merasa khawatir dengan tingkah Bima yang membuatnya bingung.


Baru saja beberapa saat yang lalu dia melihat Bima gelisah,tapi sekarang Bima tertawa kesenangan seperti orang gila.


Bara meninggalkan Bima dengan aksi konyolnya,dia berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum.


Bima mengambil ponselnya dan mencoba menelpon ku hanya sekedar untuk memastikan kalo aku jadi pergi atau tidak,sambil senyum senyum sendiri dia duduk diatas sofa dekat tempat tidurnya menunngu jawaban dariku.


Rasa kesal mulai menggantikan rasa senangnya karena sudah berkali kali dia menelpon namun tak ada jawaban dariku.


ketika akan mengakhiri panggilan telepon,terdengar suara orang menjawab dari seberang telpon Bima,tapi yang menjawab bukan diriku,melainkan suara seorang laki laki yang tidak lain adalah Kenzo.


"Bima sampai melihat layar telpon yang sejak tadi menempel ditelinganya hanya untuk memastikan kalau dia nggak salah pencet nomer.


Begitu dia mendapat kepastian kalo itu beneran nomor teleponku,keningnya mengkerut dan mulai penasaran dengan orang yang sedang menjawab panggilannya.


"Siapa ini ? bukankah ini ponselnya Corona !?"Tanya Bima penasaran.


"Ini aku,Kenzo.Ponsel Corona ketinggalan dikamarku.Ini baru mau aku kembalikan padanya."Jawab Kenzo dengan menyunggingkan sebuah senyum di bibir nya seolah dia menang.


"Kenapa ponsel Coro bisa ada di kamar Kenzo ?Apa Coro dan kenzo berada di satu kamar yang sama ?"Batin Bima dalam hatinya berharap apa yang dipikirkannya itu salah.


"Coro,ponsel kamu ketinggalan di kamar aku,dan ini Bima lagi telpon."Kata Kenzo dengan memberikan ponselku dengan nama Bima yang terpampang jelas di layar depan ponselku.


Sebenarnya aku nggak senang dengan sikap Kenzo yang berani melanggar privasiku,berani sekali dia menjawab panggilan teleponku,apalagi ini dari Bima.Aku nggak tau deh apa yang bakalan Bima pikirkan tentang aku sekarang.


"Hallo,,iya Bim ada apa ?"Tanyaku berusaha senatural mungkin menjawab padahal jantungku sudah mau copot karena takut Bima akan berpikiran yang macam macam.


"Kamu jadi nggak pergi ke rumah Dinda ?"tanya Bima berusaha menyembunyikan rasa penasarannya mengenai ponsel ku yang ketinggalan di kamar Kenzo.


Menurut Bima,dia akan bertanya langsung kepadaku saat bertatap muka,karna tak baik membahas masalah seperti ini lewat telepon.


"Nggak tau nih,habis hujannya deras banget.Tapi kalo nggak jadi datang,kasian dinda,pasti dia udah buat persiapan."


"Kamu mau nggak aku antar pake mobil ?"Tanya Bima menawarkan diri untuk membantuku.


Dengan adanya alasan supaya bisa terus bersamaku seharusnya membuat Bima senang,tapi kenyataannya tidak. Bima lebih dipusingkan dengan rasa penasaran mengenai ponselku yang tertinggal di kamar Kenzo.


Kalau ponselku sampai tertinggal di kamar Kenzo,itu berarti aku pernah masuk di kamar Kenzo.Tapi buat apa and kenapa ? Itu yang harus Bima cari tau saat ini.