My Name Is CORONA..

My Name Is CORONA..
Kebenaran tentangku...



Mataku masih terpejam saat mendengar pertengkaran yang tidak seharusnya ku dengar.


"Mau apa kamu ke sini ?belum puas kamu merusak hidupku."


Kata kata yang ku dengar berasal dari seseorang yang ku kenal,itu suara bundaku.Tapi dengan siapa bunda berbicara,siapa yang sudah merusak hidupnya ?Aku ingin membuka mataku dan melihat orang yang sudah membuat bundaku marah.


Tapi aku tak bisa,rasa ingin tahu membuatku bertahan dengan posisi memejamkan mataku,agar mereka mengira aku masih tidur.


"Maafkan aku Nayara,aku kesini hanya ingin melihat keadaan Onaka,aku tak akan berbuat macam macam.Lagipula,aku sudah membayar semua kesalahan yang kulakukan dulu dengan terpisah dari anakku selama bertahun tahun.Itu sudah cukup membuatku menderita selama ini."Ucap seorang wanita yang sedang bersama bunda.


"Pelankan suaramu,,,Corona ada disini.Dia bisa mendengar omong kosongmu."Pinta bundaku dengan nada yang sedikit berbisik tapi sangat menusuk di telingaku.


Kenapa namaku disebut,apa hubunganku dengan pertengkaran bunda dan wanita ini.Anak siapa yang mereka bicarakan ?


Aku membuka mata dan mengintip wajah wanita yang sudah membuat bundaku marah,tapi yang kulihat hanya bagian belakangnya saja.


"Apa yang kau takutkan,bukankah selama ini kalian sudah berhasil menjauhkan dia dariku,dan tak pernah sedikitpun dia tau tentangku."


Kata kata wanita itu semakin membuatku penasaran.


"Dia tak perlu tau tentangmu,selama ini dia bahagia walaupun kamu ada atau tidak.


Pertengkaran bunda dan wanita ini membuat kondisi ayah memburuk,ayah mulai kejang kejang,nafasnya mulai tidak normal.Percaya ataupun tidak,walaupun mata ayah terpejam,dia mungkin bisa mendengar pembicaraan bunda dan wanita ini.


Teriakan bunda menggema di dalam ruangan,mungkin ini saatnya aku untuk mengakhiri sandiwara ku yang pura pura tidur hanya untuk menguping pembicaraan mereka.


"Dokteeeeeer,,,,,tolong suami saya "Pinta bunda dengan wajah yang pucat dan menegang.


Aku bangun dari sofa dan mendekati bunda,memeluknya dan mengusap bahu bunda sambil menatap wanita yang sedang berdiri di samping ranjang ayah.


Mendengar teriakan bunda,Dokter dan para suster masuk kedalam ruangan,kami disuruh keluar dari ruangan untuk memberi mereka ruang dalam menangani pasien.


Sekarang ini kami bertiga berada di koridor rumah sakit,sesekali aku menatap ke arah wanita yang sedang terciduk melihat ke arahku dengan tatapan kesedihan bercampur rasa haru dimatanya.


Aku memperhatikan wajah wanita ini dengan seksama,aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat,tapi aku lupa dimana.


"Halo Corona,,,,aku Kania.Aku teman bunda dan ayah kamu saat masih kuliah dulu.Benar kan Nayara ?"Ujar Kania sambil menatap kearah bundaku seakan meminta dengan paksa agar membenarkan ucapannya.


Bunda hanya mengangguk dalam diam begitu aku memandang wajah bunda meminta pembenaran dari kata wanita itu.


"Aku Corona,Tante.Senang berkenalan dengan Tante."


"Kamu sangat cantik sayang,andaikan putri Tante masih ada,dia akan secantik dirimu."


"Makasih,,,Tante juga tak kalah cantiknya.Emangnya putri Tante kemana ?"


"Dia tinggal bersama ayahnya.Tante sangat merindukannya."


"Kalo Tante mau,Tante bisa menganggap aku seperti putri Tante.Bukankah Tante adalah sahabat bunda sama ayah,Jadi aku juga sudah menganggap Tante seperti orang tuaku sendiri."


Kata kataku membuat bunda tercengang,namun berhasil membuat Tante Kania menitikkan air mata,entah mengapa kakiku melangkah ke arahnya dan memeluknya seperti ada sebuah dorongan yang memaksaku harus melakukan itu.


Dia membalas pelukanku dengan erat seakan aku benar benar adalah putrinya.Bundaku tak bisa melarang walaupun dia ingin,dia takut kalo aku akan curiga dan berpikiran yang macam macam.


Mungkin bagiku ini hanyalah sebuah pelukan biasa,tapi tidak bagi Kania.Rasa rindunya selama bertahun tahun terasa terobati dengan sebuah pelukan dari sang buah hati yang sangat dinantikannya selama ini.


"Naya,gimana keadaan Onaka ?"Tanya Boby yang tiba tiba muncul disana dan merasa sangat terharu dengan pertemuan ibu dan anak ini.


"Dia masih ditangani dokter didalam,karena tadi sempat kejang."


"Tenanglah,Aku tau Onaka itu orang yang kuat,dia akan melewati ini semua."


"Makasih Bob,"


Dokter yang menangani ayah keluar dari dalam ruangannya,katanya tak ada hal serius yang perlu untuk dikhawatirkan.Kondisi ayah sudah lebih baik.


Kami semua mengucap syukur,bunda mengucapkan terima kasih pada dokter sebelum dokter itu pergi meninggalkan kami.


Om Boby dan Tante Kania ikut masuk kedalam ruangan dan menjenguk ayah dengan memberikan semangat dan dorongan supaya ayah cepat sembuh.Kemudian mereka pamit pulang karena tak ingin mengganggu waktu istirahat pasien.


"Pergilah dari sini dan jangan pernah kembali lagi,aku tak mau kamu merusak hidup Corona."Ucap Nayara dengan sorotan mata tajam.


"Apa kamu lihat tadi Nayara.Dia tadi mau memelukku"


"Itu karena dia kasihan padamu dan menganggapmu orang lain.Tapi jika dia tau kalo kamu sudah membuangnya,dia akan membencimu."


"Aku tak pernah membuangnya,kalian yang sudah merebutnya dariku.Kita lihat saja siapa yang akan dia benci,bila dia mengetahui kejadian yang sebenarnya.Sekarang aku tak mau tinggal diam,akan aku pastikan kalo putriku akan kembali bersamaku,dan kamu ataupun Onaka tidak akan bisa untuk melarang ku ataupun mengancam ku seperti dulu."Balas Kania dengan tatapan serius seakan bukan Kania yang mereka kenal dulu.


"Sudah,,,,jangan bertengkar,ini Rumah sakit,suara kalian bisa didengar oleh Corona."


Ucap Boby menengahi.


"Bawa wanita ini pergi dari sini Boby,aku tak mau melihatnya lagi."Suara bunda semakin meninggi.


Kakiku gemetar hampir tak bisa menopang berat badanku,Air mataku keluar dengan sendirinya dari pelupuk mataku,aku membekap mulutku sendiri agar suara tangisku tak bisa didengar oleh mereka,sedari tadi aku sudah berdiri dibalik pintu untuk menuntaskan rasa penasaran yang sejak tadi masih menggantung di pendengaran ku.


Sekarang aku ingat pernah melihat Tante Kania dimana,dia wanita yang aku lukis saat itu,wanita yang aku temui di warteg malam itu,wanita yang membuat ayahku resah sampai dia hampir mengirimku ke Jepang supaya aku tak bisa bertemu dengan wanita itu.


Jadi selama ini aku bukan anak kandung bunda,kalo Tante Kania adalah ibu kandungku lalu siapa ayahku ? sejak tadi aku tak mendengar perihal ayah kandungku.


Mereka tetap membicakan masalah ini walaupun ada om Boby disana,berarti dia juga tau tentang masalah ini.Aku tak boleh mengungkap pada mereka kalo aku sudah tau semua ini, kebenaran ini masih menggantung buatku,aku harus bisa mengendalikan diriku,aku akan tetap diam sebelum mendapatkan semua informasi tentang siapa aku sebenarnya.


Namun tak bisa aku pungkiri kalo aku sangat terpukul dengan apa yang baru saja kudengar.Saat ini aku sangat merindukan Bima,aku ingin dia ada bersamaku untuk membagi kesedihanku.


Bunda kembali masuk ketika mereka pergi,dia memelukku,aku sampai tak bisa nafas karena pelukan darinya.


"Kenapa bunda tiba tiba memelukku ?"


"Bunda hanya ingin saja.Bunda sayang sama kamu,nak."


"Coro juga sayang sama bunda."Kataku dengan senyuman.


Aku bisa tau kekalutan yang bunda rasakan saat ini,makanya aku mencoba untuk menghiburnya.Biar bagaimanapun,dia yang sudah merawatku dari kecil seperti putrinya sendiri,memberiku kasih sayang berlimpah sehingga aku tidak bisa percaya kalo dia bukan ibu kandungku.


Tiba tiba ponselku berdering,aku melepaskan pelukanku dari bunda dan mengambil ponselku dari dalam saku celanaku.


Bima mengabariku kalo di sudah berada di area tempat parkir rumah sakit,aku ingin secepatnya menemuinya dan menceritakan hal yang baru saja ku dengar tadi.


"Siapa yang telpon,sayang ?"


"Bima Bun,katanya dia sudah berada di area tempat parkir.Coro ingin menjemputnya.Boleh kan Bun ?"


"Tentu saja boleh.Pergilah."


Aku berjalan setengah berlari karena tak sabar untuk bertemu dengan Bima.


Rasa senang menyelimuti hatiku begitu melihat Bima memasuki pintu rumah sakit,tapi Bima membelokkan langkahnya menuju kantin rumah sakit yang ada disamping,sepertinya dia akan menemui seseorang.Dengan cepat aku mengikutinya,tapi tiba tiba langkahku terhenti,aku melihat Bima sedang adu mulut dengan Om Boby dan Tante Kania,atau lebih tepatnya dengan ayahnya dan ibu kandungku.


"Selamat,,,,karena sekarang kamu sudah berhasil mendapatkan apa yang kamu mau,,ibuku sudah nggak ada,jadi kamu sudah bisa tinggal bersama dengan papaku dan anak hasil perselingkuhanmu itu."


Plaaaakkkkk...


Sebuah tamparan keras mengenai pipi Bima,saat ini mereka bertiga menjadi tontonan seisi ruangan.


"Jaga ucapan kamu,cepat minta maaf."Bentak Boby dengan suara keras.


"Minta maaf,,,,,aku tak mau minta maaf sama orang yang sudah menyebabkan ibuku mengakhiri hidupnya.Dan satu hal lagi,jangan pernah muncul lagi di hadapanku,atau aku akan membuatmu menyesal."Kata Bima dengan amarah di wajahnya sambil menunjuk ke arah Tante Kania kemudian berlalu dari sana.


Aku sembunyi di balik dinding ketika Bima berjalan melewati ku,saat ini aku masih terlalu syok dengan apa yang baru saja ku dengar.Dalam waktu yang singkat aku harus mendengar kenyataan pahit tentang siapa diriku.


Dua kenyataan yang menghantam diriku dengan begitu menyakitkan.Aku harus dihadapkan pada kenyataan kalau aku bukan anak bundaku dan kemungkinan terbesarnya kalo aku dan Bima adalah saudara sedarah.


Ya Tuhan,,apa yang harus aku lakukan....


Kemana aku harus mencari pembenaran tentang siapa diriku tanpa menyakiti siapa pun...