My Name Is CORONA..

My Name Is CORONA..
Kembali menjadi teman....



Abrar ingin sekali melerai pelukan Bima terhadapku,tapi tangannya langsung di cekal oleh Kenzo,hingga membuat Abrar mengalihkan pandangannya dari ku, menatap ke arah Kenzo dengan heran,yang hanya di balas Kenzo dengan menatap Abrar memohon agar jangan merusak moment sepasang kekasih yang baru saja bertemu.


"Aku tau kamu akan kembali padaku.Jangan tinggalkan aku lagi.Aku mohon !"Ucap Bima yang melepas pelukannya kemudian menatapku dengan masih memegang bahuku.


"Siapa kamu ?"tanyaku menatap kedalam mata Bima yang memancarkan banyak cinta disana.


"Jangan bercanda,Corona."


"Siapa Corona ?"


Walaupun ingin menyangkal kejadian ini,Abrary sadar cepat atau lambat,dia akan menyaksikan kejadian seperti ini.Makanya Abrar menekan keras rasa cemburunya dan rasa takut kehilangan.


"Ada apa denganmu ?"tanya Bima.


"Brar,jelaskan padaku,ada apa ini ? siapa pria ini ?"tanyaku sambil melihat kearah Abrar.


"Siapa kamu ?apa aku mengenalmu ?"tanyaku melihat ke arah Bima.


Semuanya diam,seketika kepalaku pusing,beberapa bayangan dan kejadian melintas dikepalaku membuatku terhuyung ke belakang.


Bima ingin membantuku dengan mencoba memegang ku agar tidak jatuh.Tapi aku segera menepis tangannya sembari berjalan setengah berlari keluar dari restoran.


Abrary mengejarku sebelum tadi sempat minta maaf atas kejadian yang terjadi.


"Lia,,,,,,,tunggu aku."Ucap Abrary dengan langkah semakin cepat.


Bima pun ingin mengejar kami karena nggak mau kehilangan aku lagi.Cukuplah selama tiga tahun terakhir ini dia seperti orang gila menanti kedatanganku.


Bara menahan lengan Bima membuat Bima marah.


"Lepasin aku kak.Aku nggak mau kehilangan dia lagi."Ucap Bima dengan tatapan wajah memohon.


"Berikan dia waktu Bim,apa kamu nggak lihat bagaimana reaksinya terhadap kamu tadi."Balas Bara mencoba memberi Bima penjelasan.


"Benar Bim,benar yang kak Bara bilang.Corona yang sekarang sangat berbeda,dia bahkan tidak mengenali kita."Tukas Kenzo.


"Pasti telah terjadi sesuatu padanya sampai dia tidak mengenali kita,makanya dia nggak pernah kembali pada kita."


"Kalian benar.Aku harus mencari tau kebenarannya."Ucap Bima.


"Aku akan bicara dengan Abrary,siapa tau dia mengetahui sesuatu tentang Corona."Ujar Kenzo.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Siang itu,suasana di kantin kampus sangat ramai.Laras duduk di sudut kantin bersamaku,kami menunggu pesanan yang belum juga diantar oleh pemilik kantin.


Bima yang baru saja masuk kampus setelah berhari hari bolos,mencari keberadaan diriku di antara penghuni kantin.


Mang Didin datang memegang sebuah nampan berisi dua porsi bakso yang asapnya masih mengepul karena masih panas.


Kebiasaan mang Didin yang suka becanda,mengundang gelak tawaku dan Laras pecah.


"Ini pesanannya neng cantik,kalau kurang sesuatu,panggil mamang aja.Asal jangan kekurangan cinta,bisa bahaya atu neng."Ucap mang Didin sembari meletakkan satu persatu mangkok bakso yang masih penuh buatku dan Laras.


"Makasih mang Didin yang baik hati dan tidak sombong."Kataku dengan seulas senyuman.


"Kalo soal cinta,kayaknya udah full abis deh mang,yang jadi masalah sebenarnya itu,kalo kekurangan duit,hidup bisa berabe.Bener nggak mang ?"Ujar Laras mencoba mengimbangi candaan mang Didin.


Mang Didin berpikir sejenak kemudian tertawa cengengesan sambil memeluk nampan yang udah kosong.


"Didiiiiiiinnn,,,,,,cepetan !"Teriak mbak Darsih istrinya.


"Iyaaaaa,,,,,"jawab mang Didin."Itu tu ciri ciri salah satu orang yang kekurangan cinta,maunya dekat Mulu sama mamang."Bisik mang Didin terkekeh.


"Ya udah mang,cepetan pergi.Entar cintanya habis lagi,karena terus dikurangin sama mamang"Ucap Laras lagi.


Aku hanya tertawa mendengar candaan dari dua orang yang gemar bercanda.


Setelah mang Didin pergi berlalu dari hadapan kami,muncul seseorang lagi yang berdiri di sampingku.


Aku menghentikan gerakan ku yang sibuk mencampur kuah bakso dengan kecap dan saos.


Aku mendongak ke atas ingin melihat siapa yang sedang berdiri di samping ku.


Aku mendapati seorang Bima yang menatap tajam ke arahku.Dengan berani aku beradu tatap dengannya.Kami diam,sampai Laras menyadari kehadiran Bima dan memecah keheningan dengan candaan khas nya seorang Laras.


"Bim,tumben kamu masuk kampus ?rindu yah sama aku ?"Celetuk Laras asal.


"Iya,,,,,aku rindu sama kamu."Ucap Bima tanpa menyadari kalau kata kata yang dia maksudkan untukku di tanggapi oleh Laras dengan hati berdebar.


Bima menjawab pertanyaan Laras tanpa memalingkan sedetikpun sorotan matanya dariku.


"Aku boleh gabung disini nggak ?"Ucap Bima lagi dengan masih menatapku tajam hingga membuatku menundukkan pandanganku lebih dahulu.


"Boleh,,,,silahkan "Ucap Laras salting.


Bima menarik kursi dan duduk di sampingku,aku jadi tak berselera untuk makan karena dia terus menatap kearahku.


"Udah,,,,,sebelum kamu mengenalku !"Jawab Bima yang masih saja menatapku sampai membuat aku jadi gugup entah kenapa.


"Haaaa,,,,,benarkah ?dimana ?"Tanya Laras lagi penasaran.


Aku sendiri pun penasaran dimana Bima mengenalku,padahal baru tadi malam aku bertemu dengannya dan aku pun menganggapnya orang aneh.


------------------------🌼🌼🌼----------------------------


Kejadian Semalam......


Aku berlari keluar dari restoran sambil menahan langkahku agar tak terjatuh,karena jujur aku mendadak pusing seketika muncul sebuah bayangan yang melintas samar di ingatanku.


Langkahku sempat terhenti dan bersandar pada tiang depan pintu sambil memegang kepalaku yang terasa sangat sakit.


Untung saja ada Abrar yang memapahku ke dalam mobil dan mengantarku pulang.


Didalam mobil,aku dan Abrar tidak berbicara perihal apapun,kami hanya diam karena aku sengaja memejamkan mataku agar Abrar tak berkata apapun padaku yang hanya akan menambah sakit kepalaku.


Setelah mengantarku pulang,Abrar kembali lagi ke restonya Kenzo dan mencari tahu kebenaran tentang masa laluku.


Begitupun dengan Bima yang tak sabar menanti kedatangan Abrar untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi padaku setelah kecelakaan tiga tahun yang lalu.


Abrar menceritakan apa bahayanya apabila aku dipaksa mengingat kembali masa laluku.Ingatanku akan hilang sepenuhnya,bahkan bisa menyebabkan geger otak apabila merasa terlalu tertekan.


Kenzo mengajak ketiga sahabatnya itu memasuki ruang kerjanya agar lebih leluasa untuk berbicara.


"Brar,dimana kamu mengenal Corona ? eh,maksud aku Lia !"Tanya Kenzo.


"Aku tau,cepat atau lambat,aku pasti akan kehilangan dia.Tapi aku hanya ingin dia bahagia."Ucap Abrar dengan wajah tertunduk lesu.


Hanya Kenzo yang dapat memahami yang dirasakan Abrary saat ini,karena dia tau kalau Abrar sangat mencintai Lia yang tak lain adalah Corona yang kehilangan ingatannya.


Namun Kenzo juga tak bisa mengabaikan perasaan Bima yang sangat mencintai Corona,bahkan saking cintanya,Bima hampir saja dimasukan ke rumah sakit jiwa karena depresi kehilangan Corona.


Kenzo menepuk pundak Abrary pelan seakan ingin memberinya kekuatan untuk tetap semangat.


Abary menceritakan semua hal yang dia ketahui tentangku kepada mereka.Dimulai dari awal pertemuan kami hingga saat ini.


Menurut dokter yang menangani ku,ingatanku akan kembali dengan sendirinya.Tapi kapan ?dokter sendiripun tak menentukan pastinya.


Mereka berempat sepakat akan membantuku mengingat kembali tanpa menceritakan masa laluku.


"Bagaimana jika Corona bertanya padamu tentang yang terjadi malam ini ?"Tanya Kenzo.


"Benar,ini pasti sangat mengejutkan buatnya ?"selah Bima.


"Penjelasan apa yang akan kau berikan padanya ?"Tambah Bara.


Mereka terdiam sejenak untuk mencari alasan.


--------------------------🌼🌼🌼---------------------------


Di kantin kampus,,,,


"Udahlah,nggak penting.Maaf yah soal kejadian semalam."Ucap Bima dengan senyuman.


Laras lebih menatap heran sama Bima.


"Nggak apa apa,lagian Abrar juga sudah cerita ke aku semuanya.Justru seharusnya aku yang minta maaf,karena wajahku mirip dengannya hingga membuat kamu kembali bersedih."Ucapku dengan ikut merasakan kesedihan yang Bima rasakan.


Rupanya,mereka bertiga sepakat akan mengatakan padaku kalau kekasih Bima yang telah tiada mempunyai wajah yang sangat mirip denganku.Itulah sebabnya Bima tiba tiba memelukku semalam,karena dia mengira kalau aku adalah kekasihnya yang telah tiada.


"It's okey.Lagian,itu juga masa lalu.Aku akan berusaha menerima dengan ikhlas.Bukankah hidup harus terus berjalan ?"Ucap Bima sambil tertawa .


"Syukurlah kalau kamu mau move on dari masa lalumu,aku yakin kamu pasti bisa,suatu saat akan ada seseorang yang akan mengisi kekosongan hatimu tanpa mengambil tempat spesial di hatimu yang telah lama diisi oleh kekasihmu yang telah tiada."Ucapku menatap Laras dengan senyum.


"Kalian ini lagi ngomongin apaan sih ? aku nggak ngerti deh."Sela Laras yang hanya menyimak pembicaraan kami tanpa tau apa maksud dibaliknya.


"Ngapain kamu nanya,dasar kepo."Ucap Bima menatap Laras sekilas."Oh ya,kenalin,aku Bima.Kita kan belum sempat kenalan semalam."Ucap Bima mengulurkan tangannya kearahku mengajak berkenalan.


"Aku Lia."Jawabku menjabat tangan Bima dengan erat sambil senyum.


"Jangan ngambek,nanti aja aku ceritain dari A sampai Z."Ucapku pada Laras yang memasang wajah cemberut akibat ucapan Bima barusan padanya.


"Ngapain juga dia harus tau ?"


"Emangnya kenapa ?aku sama Lia kan sahabat.Dan sahabat akan saling berbagi dalam hal apapun,termasuk juga tentang cerita barusan."


"Tapi,ini kan tentang aku,ngapain juga kamu harus tau ?"


"Bodoooo,,,,,"Ucap Laras semaunya.


Aku hanya tertawa melihat mereka berdua seperti ini,tapi disaat ingatanku kembali sebagai Corona,apakah aku akan sebahagia hari ini saat melihat mereka ?