
Ambil waktu untuk melakukan apa yang membuat lo merasa bahagia.
______________________________________________
KRIIINGGG...
Pukul 06.30
“Eggghhhh” erangan seorang gadis dibalik selimut tebalnya itu, Camelia pun bangun setelah melihat jam di mejanya dan beranjak bangun menuju kamar mandi untuk bersiap pergi ke sekolah barunya
“Sudah rapi, sudah cantik, sudah keren ini hari pertama gue sekolah di Lycée Louis-le-Grand” gumamnya didepan cermin dan beranjak dari kamar menuju meja makan untuk sarapan.
“Eh Non Camelia sudah siap Non? Baru saja Bibi mau bangunin Nono, rupanya Non sudah siap” ucap Bibi Min.
“Iya dong Bi, namanya saja hari pertama sekolah. Liat saja besok mungkin telat.” Ucap Vino
“Buruan sarapan entar telat lho, ini hari pertama Anda masuk sekolah.” Titah Bibi Min sebelum perang dingin dimulai.
“Iya.”
Sarapan berlangsung khitmad. Mereka makan berempat layaknya sebuah keluarga.
Vino mengelap mulutnya dengan tissu, lalu berdiri.
"Aku berangkat duluan ya, Bi, Paman, Mel.”
Pamit Vino.
“Hati hati den bawa mobilnya.” Pesan Bibi Min
“Hati hati Vin.” Ujar Camelia seadanya.
“Iya.” Balas Vino, lalu segera bergegas menuju sekolahnya.
Lima menit setelah kepergian Vino, kini Camelia yang berpamitan menuju ke sekolahnya.
“Camelia berangkat, Bi, Paman.” Camelia berdiri dari duduknya.
“Iya. Anda enggak saya antar saja Non?” tanya Paman Jae.
Vio menggeleng pelan, “Enggak usah Paman, Camelia tahu kok sekolahnya yang mana.”
Setelah berpamitan, gadis berseragam rapi tersebut berjalan meninggalkan ruang makan
◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾
Setelah beberapa menit terlewati, kini mata coklat Camelia menemukan gerbang yang menjulang tinggi dengan tulisan Lycée Louis-le-Grand.
Ia memacu mobilnya melewati gerbang tersebut. Matanya mengintimidasi sekitarnya, mencari parkiran.
Camelia mematikan mobilnya setelah terparkir sempurna, mengambil tas ranselnya yang berada di kursi sebelahnya. Sebelum ia keluar ia mencabut kunci mobilnya terlebih dahulu.
Entah memang keberuntungan berpihak kepadanya atau bagaimana, yang jelas ketika ia keluar dari mobil putihnya, angin langsung menerpa wajahnya.
Beberapa murid memerhatikannya. Saling berbisik, menanyakan siapa dirinya. Decakan kagum terdengar di indra pendengarannya.
‘Eh, siapa itu?’
‘Gilaaa. Cantik banget.’
‘Murid baru ya?’
‘Ciptaan Tuhan mana lagi yang Kau dustakan?’
‘Cantik banget sih.’
‘Mukanya kayak orang Asia.’
‘Ih, cantik banget. Iri deh.’
Ia mengabaikan pujian dari segelintir murid, matanya memerhatikan sekitar dengan wajah datarnya.
Dengan perlahan kaki jenjangnya melangkah meninggalkan halaman parkir, langkahnya seperti penuh perhitungan ketika berjalan dikoridor. Mata tajamnya terus mengamati.
Tanpa sengaja, netra coklatnya melihat tiga orang cowok yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya, sesekali mereka tertawa karena tingkah konyol dari salah satu mereka.
Camelia berhenti tepat dihadapan ketiga cowok tersebut. Membuat keempat pemuda itu ikut menghentikan langkahnya.
Mereka memandang bingung ke arahnya.
“Kenapa lo?” tanya salah satu dari mereka, setelah lama menghening.
Camelia mengabaikan, ia melihat penampilan mereka yang jauh dari kata rapi. Dua kancing atas tidak dikaitkan membuat kaos yang mereka kenakan terlihat. Dasi yang dipakai asal, kemeja seragam dikeluarkan, almamater yang tidak dikancing dan digulung hingga siku.
Cowok yang tadi bertanya pada Camelia semakin bingung karena tidak mendapatkan jawaban.
“Minggir deh kita mau lewat.” Ujarnya lagi. Camelia menoleh, menatap orang yang bertanya padanya dengan wajah datar.
“Ruang kepala sekolah dimana?” tanya Camelia tak bernada
“Lo anak baru ya?” sahut salah satu diantara mereka.
Camelia berdehem, mengiyakan. “Ruang kepala sekolah dimana?” ulang Camelia malas. Terlalu basa basi menurutnya.
“Lo lurus, entar kalo ketemu perempatan belok kanan, terus lo lurus lagi, lo noleh ke kiri ada tulisan Salle du Directeur, nah itu ruang yang lo cari.” Jelas orang yang berada tepat didepan Camelia.
Camelia mengangguk pelan, paham. “Merci.” Tanpa menunggu balasan, ia langsung beranjak pergi, melewati ketiga murid tersebut.
Tanpa ketiganya sadari, mereka memerhatikan Camelia yang mulai menjauh.
“Sudah woy! Jangan liatin mulu.” Ujar murid yang tadi memberitahu Camelia, menyadarkan.
“Ayo ke kelas, nanti telat.” Lanjutnya.
Pemuda yang berdiri di sebelahnya, menoleh, lalu berujar. “Dih, biasanya juga telat.”
“Sekali kali, sudah ayo!”
Mereka pun bergegas ke lantai dua, menuju kelas mereka.
◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾
Tok...Tok...Tok...
Camelia mengetuk pintu ruangan yang sedari tadi ia cari.
“Masuk.” Mendengar sahutan dari dalam, Camelia mendorong pintu berwarna coklat dihadapannya.
Pria paruh baya yang tengah duduk dikursinya, menatap ke arah Camelia.
“Silahkan duduk.” Ujarnya.
Tanpa menjawab, Camelia langsung duduk.
“Kamu cucunya Tuan Purnama yang dari Indonesia itu, ya?”
Camelia mengangguk.
“Nama kamu sapa? Saya lupa.” Tanyanya lagi.
“Camelia Putri Purnama.” Jawab Camelia.
Pria paruh baya tersebut menatap Camelia sedikit tercengang, “Nama kamu itu lho, singkat sekali.” Gumamnya.
Camelia mengernyit, “Kenapa, pak?”
“Eh, enggak.” Jeda sebentar, “Baiklah, Camelia.” Pria paruh baya yang menjabat sebagai Kepala Sekolah di Lycee Louis le Grand mengambil sesuatu dalam laci. Ia mengeluarkan almamater, dan menyodorkannya ke murid baru. “Ini almamater kamu. Silahkan dipakai.”
Camelia menurut, ia mengambil almamater tersebut lalu memakainya.
“Ayo saya antar ke kelas kamu.” Keduanya beranjak.
______________________________________________