My Life Is Confusing

My Life Is Confusing
Pembacaan Pertama



“Kak Anggun!!!” ucap Camelia sengaja membuat kakaknya terkejut. Tapi, ternyata yang dikejutkan tidak terkejut.


“Eh... dek Camelia. Sini dek.” Ujar Anggun sembari menepuk sofa agar Camelia duduk disebelahnya.


“Ngapain kak?” tanya Camelia.


“Biasa dek, liatin Likee, siapa tahu ada videonya BTS.”


“Wah.. ikutan dong kak!!!”


“Ya sudah sini sini. Tadi aku nemu video rotinya Jungkook sama Jimin. Bentar tak cari lagi.”


“Mana kak?"



Yang ARMY tau kan? Itu waktu BTS ngadain konser "Love-Yourself" di Chicago


"Wah... daebak!!!”


Kira kira begitulah percakapan Camelia dengan Anggun. Saat mereka bertemu, mereka pasti akan bertukar video tentang idol Kpop favorit mereka. Saking serunya, mereka bahkan tidak terusik oleh suara tawa dari arah ruang tengah dimana semua keluarganya berkumpul.


Sampai suatu suara memanggil mereka untuk berkumpul, siapa lagi jika bukan Uti mereka.


“Ayo nduk, tole. Surate habis ini dibacain.”


Setelah mendengar perkataan Utinya, mereka semuanya berkumpul. Di ruang tengah, kini sudah ada pengacara yang akan membacakan surat wasiat Almarhum Kakeknya. Sebelum pembacaan, seperti


biasa Tuan Yudi Purnama selaku anak ke 3 Tuan Purnama akan mengabsen kehadiran anak-anak dan keponakannya. Siapa tahu jika nantinya ada 1 atau 2 anak yang hilang. Lah, malah nge do’a in.


Menurut pengamatan Camelia dan kedua kakaknya, terlihat ada 3 anak asing seusia mereka. Setahu Angga mereka bertiga bernama Ayu, Shafira dan Vino. Sebenarnya Camelia sangat penasaran dengan kehadiran mereka bertiga karena mereka bukanlah anggota keluarga mereka tetapi mereka malah ikut mendengarkan pembacaan surat wasiat ini. Ia ingin bertanya kepada Utinya, tetapi karena pengacara sudah mulai bersiap, ia harus menyimpan pertanyaannya nanti.


Setelah dirasa semua orang sudah berkumpul di ruang tengah. Semua orang di ruang tengah itu juga terlihat sangat khusyu’ menanti surat wasiat itu dibacakan.


Pengacara sudah mulai membaca surat wasiat itu. Surat wasiat ini terdiri dari dua surat. Surat pertama adalah surat tulisan tangan dari Almarhum Kakek. Surat kedua adalah surat wasiat tentang ahli waris dan pastinya surat ini memiliki nilai hukum.


Surat wasiat pertama berisi :


“*Teruntuk keluargaku tersayang.


Belum tamat pengacara membacakan surat itu, terdengar tangisan Uti yang mulai pecah. Bukan hanya Uti, terlihat keluarga Purnama yang lainnya juga hampir ikut menangis. Tapi, mereka masih menahannya agar Uti tidak khawatir. Para mama juga sudah mulai menenangkan Uti agar pengacara dapat melanjutkan pembacaan surat wasiat itu.


“*Bapak tahu, kepergian Bapak ini pastinya membuat kalian terpukul. Bapak harap kalian


semua bisa terus akur, terutama Erda sama Yudi. Jangan kelahi terus, kasian Ibumu, nak. Jangan lupa Bimo sama Joko juga, tanggung jawab kalian sebagai kakak tertua juga berat.


Jika ada kesalahan sedikit pun sama cucu cucu kesayangan Bapak! Dani, jangan khawatir.


Bapak masih inget sama kamu kok nak, gak mungkin bapak lupa. Dani anak bungsu lima


Pandawanya Bapak. Satu pesan buat Dani, jangan takut buat negur abang abang kamu kalau


mereka salah ya nak?


Buat menantu menantu Bapak, Bapak harap kalian selalu ngasih pendidikan, kasih sayang, tata krama, makanan dan semua hal yang baik untuk cucu-cucu Bapak. Bapak harap pundak kalian juga bisa jadi sandaran keluh kesahnya Ibu. Janji sama Bapak ya nak?


Terakhir, buat semua cucu Kakek. Selalu buat Uti dan orang tua kalian bangga, jangan sakiti hati mereka. Kakek akan selalu mengawasi kalian. Semoga kalian semua bisa buat Uti bahagia ya nak.


Terimakasih dan maaf jika selama ini Bapak selalu ngerepotin kalian. Sampai jumpa.


Blitar, 06 September 2013


Purnama*.”


Setelah pembacaan surat wasiat pertama itu, tangisan semua orang sudah tak bisa terbendung


termasuk Camelia. Ia merasa sangat terpukul, ia sangat ingat. Waktu dia masih kecil, dia selalu menunggu kakeknya pulang kerja. Begitupun Tuan Purnama, walaupun belum melepas sepatu


kerjanya, Tuan Purnama selalu berteriak mencari Camelia. Tanpa menghiraukan jika dia lelah, Tuan Purnama selalu mengajak Camelia pergi jalan jalan terlebih dahulu sepulang kerja. Tuan Purnama sangat menyayangi Camelia karena Camelia merupakan satu satunya cucu perempuan di keluarga Purnama saat itu. Walaupun selang 2 tahun Anggun lahir, tetapi tetap saja yang menjadi kesayangannya adalah Camelia. Tidak hanya Tuan Purnama saja, Camelia juga sangat menyayangi Kakeknya itu. Dia selalu ingin menjadi yang terbaik agar Kakeknya bahagia melihatnya.



Foto masa kecil Camelia dan Anggun.


Tbc.