
Susah ternyata kalau suka duluan sama orang. Selain sabar, juga harus siap sakit hati.
______________________________________________
Deg!
Kek gini ya nikmatnya mandang cogan dari deket awokawokawok - batin Camelia menjerit kagum.
"Sekarang rok lo udah ketutupan dan lo boleh balik ke kelas buat ngikutin pelajaran." ucap Galang sembari beranjak pergi dari sana.
Camelia menatap kagum ke arah Galang, Astaghfirullah gue udah buat masalah 2× sama dia masih aja perhatian? Boleh baper enggaaa? Amit-amit dah gue baper ama kang botak. Masih mending sama si gunung es Priya - pikir Camelia.
Bodo amat dengan keadaan sekitar, Cameliaberjalan menuju kelasnya. Sampai di depan kelas, Camelia langsung nyelonong masuk ke dalam tanpa mengucapkan salam sedikitpun, guru yang mengajarpun sedikit terganggu.
"Camelia? Ucapkan salam terlebih dahulu sebelum masuk kelas." ucap Bu Siti, selaku guru killer mapel Bahasa Indonesia yang tahun ini bakalan pensiun.
"Salam." ucap Camelia dengan malas.
"Camelia, salam itu tidak seharusnya seperti itu." tegur Bu Siti.
"Gue lagi badmood. Plis deh bu, gue capek. Capek diginiin terus."
"Susah emang punya murid legend kayak kamu. Kamu darimana? Kenapa baru masuk?" tanya Bu Siti curiga.
"Tadi saya habis dari kamar mandi bu, terus pas pulangnya ada kendala dikit. Makanya saya baru masuk kelas." balas Camelia berbohong dan tanpa bersalah ia langsung duduk dibangkunya.
"Siapa yang suruh kamu duduk?" tanya Bu Siti geram.
"Saya juga pegel kali Bu kalo disuruh berdiri terus." detak Camelia sambil memutar bola matanya malas.
"Kesini kamu." perintah Bu Siti.
Maka dengan sangat terpaksa, Camelia mendekati guru yang terkenal killer itu.
"Apa?" tanya Camelia sesantai mungkin.
"Kamu ini ya, katanya anak teladan. Tapi kok enggak ada sopan santunnya? Kamu ini cewek. Harusnya kamu bisa lebih kalem." kata Bu Siti.
Brakkk!!!
Bu Siti menggebrak papan tulis hingga membuat seisi kelas terlonjak kaget, termasuk Camelia.
"CAMELIA!!!" bentak Bu Siti.
"Yes, I am?" balas Camelia dengan senyum mengembangnya.
"Dengarkan omongan saya!!! Kamu jangan seenaknya ya sama guru!!" kata Bu Siti yang tengah mati-matian menahan gejolak amarahnya.
"Saya daritadi udah dengerin Ibu, nanti kalau saya ikut ngomong, yang ada nanti Ibu yang tambah marah. Toh apa salahnya saya membersihkan kuku saya sendiri? Daripada cuma diem ndengerin Ibu nasehatikan saya, iya kan? Lagian Bu, saya bukan seperti murid lain yang hanya menunduk kalo dinasehati. Ayah saya bilang kalau saya enggak boleh menunduk, karena saya punya mahkota yang akan jatuh jika saya menunduk. Tanpa Ibu teriak-teriak pun, saya sudah dengar, telinga saya enggak bermasalah kok Bu." ucap Camelia yang kelewat berani itu. Seluruh siswa di kelas hanya bisa diam tak ada yang berkomentar, termasuk Cleo, Firya, Rina, Zara dan Azzarah yang sedari tadi tidak berkedip menyaksikan perdebatan yang yerjadi.
Baru saja Bu Siti ingin mengeluarkan kata-kata mutiara, Camelia langsung memotong perkataan Bu Siti.
"Saya tau kalo Ibu mau ngehukum saya, iya kan? Atau malah nyuruh saya buat keluar? Oke, saya keluar dan bakal jalanin hukuman dari Ibu, hormat ke tiang bendera sampai pulang kan?" ujarnya hingga membuat Bu Siti benar-benar kelewat emosi.
"Inget ya Bu, Guru itu digugu bukan ditiru. Kalau Ibu berani nasehatin muridnya, berarti murid juga harus berani nasehatin gurunya. Kalau begitu, saya permisi." lanjut Camelia sebelum benar-benar keluar dari kelasnya.
Selepas kepergian Camelia, Bu Siti juga ikut meninggalkan kelas tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Camelia memang salah, tapi apa setiap guru harus bertindak seperti itu? Tidak bisakah beliau bersikap lebih halus? Camelia tadi juga tidak menggunakan sopan santun. Main masuk tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Namun manu bagaimana lagi, itu semua sudah terlanjur terjadi.
Dan kini, disinilah Camelia berada. Berdiri dibawah teriknya sinar matahari. Ia sebenarnya merutuki kebodohannya, terakhir kali dia membersihkan lapangan basket saat matahari saat matahari sedang terik-teriknya saja dia sudah jatuh pingsan dan penyakitnya kambuh. Apalagi sekarang, bisa-bisa peyakitnya akan kambuh dan yang paling parah dia bisa masuk ICU.
Namun, hukuman tetaplah hukuman. Apapun yang Camelia ucapkan, dia harus tetap bertanggung jawab.
Belum ada 10 menit ia berjemur, ada seorang siswa yang datang menghampirinya.
"Lo disuruh ke ruang kepsek." katanya.
"Oke." balas Camelia yang langsung pergi meninggalkan lapangan. Ia tahu apa yang membuatnya sampai dipanggil oleh Kepala Sekolah.
Tbc.
______________________________________________