
Kepastian cinta bisa kamu dapatkan dengan memejamkan mata. Jika yang muncul pertama kali adalah sosoknya, berarti memang kamu mencintainya!
○•○
Selama menunggu Camelia sampai terbangun, Galang hanya terlihat acuh dan kembali meraih susu indomilk caramelnya. Menatap lurus ke Camelia, dan diam-diam menyesali perbuatannya.
"Ehmm.... Air", ujar Camelia pelan. Namun samar-samar masih bisa Galang dengar.
"Apa lo bilang?" Tanya Galang
"Tolong ambilin air." ucap Camelia dengan nada sedikit kesakitan.
"Nih." kata Galang.
"Makasih kak" balas Camelia.
"Yaudah. Lo masih kuat kan? Kalo enggak kuat mending lo pulang aja. Nanti gue ijinin ke Pak Hamidi." kata Galang dengan senyum miringnya.
"Saya pulang aja kak. Soalnya sudah lama penyakit saya enggak kambuh. Nanti pas pulang mau langsung periksa, takutnya kenapa-napa." ucap Camelia yang akhirnga menyerah untuk pulang.
"Makanya jangan sok-sok an buat nyekip segala. Ntar tuh kulit jadi tomat saking merahnya." kata Galang.
"Salah siapa juga yang nyuruh bersihin lapangan?" sinis Camelia.
"Yang ada, seharusnya lo juga ikut kena hukuman." lanjutnya.
"Mulut-mulut siapa?" tanya Galang
"Kakak lah." balas Camelia
"Yaudah, berarti suka-suka gue dong mau ngomong apa. Ini kan mulut gue bukan mulut lo." Kata Galang.
"Tauk ish." kesalnya.
"Udahlah mending lo istirahat bentar. Gue mau ke Pak Hamidi buat ngijinin lo dulu." kata Galang sembari berjalan menuju pintu UKS.
"Kak jangan lupa ambilin tas saya dong, jangan cuma ngijinin doang." kesal Camelia sambil meminum air mineralnya.
"Gue ketos di sini. Nanti biar gue nyuruh temen lo buat beresin tas lo." kata Galang dingin.
"Matur nuwun ndoro." kata Camelia jengah.
○•○
Kurang lebih setengah jam, Camelia sudah sampai di rumahnya dijemput oleh supir pribadinya menggunakan mobil bukan sepeda motor seperti biasanya.
"Ini." kata Dokter Bisma selaku dokter yang merawat Camelia saat penyakitnya kambuh. Dokter Bisma memberikan obat pereda nyeri sesuai dosis yang dibutuhkan Camelia.
"Terima kasih dokter." ujar Camelia dengan senyum manisnya.
"Dok?" panggil Camelia setelah ia meminum obat yang diberikan Dokter Bisma.
"Hmm?"
"Apakah keadaan tubuhku yang seperti ini bisa buat penyakitku yang lain kambuh?" tanya Camelia.
"Tidak, tidak ada hubungannya dengan penyakitmu yang lain. Tapi, sepertinya ruam dikulitmu akan bertambah. Selain itu dehidrasimu bisa menyebabkan kepalamu pusing seperti berputar-putar." balasnya tanpa mengalihkan pandangannya pada resep obat milik Camelia.
Bisma menatap wajah damai Camelia. Terlihat sedikit pucat sekarang wajahnya. Sifatnya yang petakilan seperti hilang dalam sekejap.
"Banyak beban yang harus kamu tanggung. Saya sangat prihatin dengan keadaanmu." ujarnya sambil tetap memperhatikan wajah cantik Camelia.
"Semoga kamu bisa segera terlepas dari penyakit-penyakitmu." lanjutnya lagi.
Dengan keberanian penuh, Bisma menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Camelia. Sesaat sebelum ia pergi meninggalkan Camelia.
Bisma berjalan keluar rumah didampingi Pak Edi. Dirinya berniat untuk kembali ke rumah sakit.
"Non Camelia? Non Camelia pasti kesakitan?" tanya Bibi Bell.
"Udahlah bu, biar Non Camelia istirahat dulu." balas Pak Edi dan langsung meminta istrinya untuk keluar dari kamar Camelia.
"Ibu mau buatin jenang putih gula merah dulu aja ya Pak? Buat Non Camelia waktu bangun." kata Bibi Bell.
Dirinya berusaha membuat jenang putih gula merah kesukaan Nona kecilnya. Makanan yang lembut dengan saus gula merah yang manis tentunya bisa membuat Nona kecilnya itu merasa baikan.
"Apa perlu Tuan dan Nyonya tau ya? Selama ini kan Tuan dan Nyonya tidak tau kalau penyakit Nona kambuh." tanyanya pada diri sendiri.
"Enggak usah deh. Nanti Non Camelia marah besar lagi." lanjutnya dan langsung melanjutkan aktivitasnya membuat jenang putih gula merah.
○•○
"Non, bangun ya Non. Makan dulu." ujar Bibi Bell saat sudah sampai di kamar Camelia.
"Egghh iya bentar lagi dok." Balas Camelia yang mengira Bibi Bell adalah Bisma.
"Non, bangun Non. Ini saya Bibi Bell." ujar Bibi Bell.
Dengan sangat terpaksa, Camelia akhirnya bangun dan mendapati Bibi Bell sudah ada di depannya sambil membawa mangkuk.
"Bibi ngapain disini? Mana dokter Bisma?" tanya Camelia.
"Sudah kembali Non." balas Bibi Bell.
"Hah? Tapi dokter Bisma enggak bilang mama atau ayah kan bi?" tanyanya lagi
"Maaf Non, bibi enggak tau. Tadi bibi lupa enggak tanya ke dokter Bisma. Nanti saya telepon dokter Bisma." jawab Bibi Bell
"Sekarang Non Camelia makan dulu ya? Bibi udah buatin jenang putih gula merah kesukaan Non Camelia." lanjutnya
"Iya bi. Sebentar, Camelia mau cuci muka dulu di kamar mandi." kata Camelia beranjak bangun dari ranjangnya.
"Iya Non."
○•○
Terima kasih buat para readers yang udah nyempatin baca 🙏
Terus ikuti kisah Camelia yaa~
Jangan lupa comment, like and rate ya guysss biar author semangat nulis ceritanya 😁