My Life Is Confusing

My Life Is Confusing
Permulaan



**Bukan kesalahan yang membuat kita kesal


kepada diri sendiri, tapi kecenderungan


untuk membuat kesalahan yang sama


○•○


>.< happy reading** >.<


Camelia perlahan mengerjapkan matanya, sinar matahari sudah masuk melewati celah celah ventilasi, ia melirik sekilas jam dinding. Camelia mengucek matanya berkali kali memastikan kalau dia masih bernafas.


“Mel, ayo turun. Sarapan bareng yuk!!!”


Camelia langsung bangur dan mandi secepat kilat daripada ia harus ketinggalan sarapannya. Gak usah pakai make up, takdirnya orang cantik apalagi blasteran ya gini. Mau diapa-apain tetap cantik.


Ya sekarang adalah hari Minggu, hari paling santuy bagi Camelia. Dimana ia bisa mengisi waktu dengan rebahan seharian.


Camelia buru buru untuk turun dan ikut sarapan dengan orang tuanya. Sekarang pukul 07.25, sungguh wow Camelia bisa bangun sepagi ini di hari Minggu.


Camelia berhenti di meja makan, semua sarapan sudah tertata rapi. Pasti mamanya dan Bibi Bell yang memasak sekaligus menyiapkan sarapannya. Sementara satu satunya anak gadis di rumah besar keluarga Tuan Erda Purnama ternyata baru saja bangun.


“Mel, habis ini siap siap ya. Setelah sarapan kita ke rumah Uti.” Kata Tuan Erda.


“Siap ya, Camelia sudah gak sabar ingin ketemu Uti.” Ucap Camelia.


“Oh iya Yah, pasti ke rumah Uti mau bacain surat wasiat Almarhum Kakek kan? Pasti semua keluarga besar dateng kan? Termasuk Kak Noval?” tanya Camelia.


“Iya, makanya nanti dandan yang cantik. Tunjukkin bahwa kamu pantas.” Kali ini bukan Tuan Erda yang menjawab, tetapi Nyonya Jasmine.


Kali ini suasana sarapan lumayan tenang, semua orang fokus pada makanan mereka dan tidak ada yang berbicara. Hanya ada suara dentuman sendok dan garpu, sesekali juga Aldo sempat menceritakan pengalamannya di Los Angeles.


Setelah selesai sarapan, Camelia dan yang lain bersiap menuju ke rumah Uti Camelia.


○•○


Disinilah Camelia dan keluarganya berada, mereka semua telah sampai di rumah Uti Camelia.


Terlihat banyak mobil mewah terparkir rapi di garasi rumah Uti Camelia. Rumah Uti Camelia ini adalah rumah terbesar di keluarga Purnama. Karena disini terdapat banyak sekali kamar, tentunya satu kamar untuk satu orang anggota keluarga Purnama.


Dari pintu gerbang, Camelia dan keluarganya sudah disambut dengan hormat oleh para security penjaga rumah Uti Camelia.


Camelia dan keluarganya berjalan dengan santai, tetapi tetap tidak menghilangkan aura keanggunan dan keangkuhan mereka. Kini mereka sudah berada di dalam rumah milik Uti Camelia. Semua anggota keluarga Purnama menyambut mereka bahagia. Maklum, karena keluarga Purnama


berkumpul seperti ini hanya sekitar 3 kali dalam setahun. Itupun jika sempat.


Tiba-tiba Camelia mendengar suara langkah kaki dari belakang.


***Tap tap tap...


Tap tap tap***...


Dan langkah tersebut semakin mendekat dan...


“Lo tambah gendut ya?”


Ish sumpah tampangnya pen gua gaplok langsung pakai spatu.



Herannya lagi Camelia sampe terkejoet gini, liatin manusia nyebelin di muka bumi.



Detik berikutnya juga Camelia hanya nyengir, “Bodoamat, penting gue kyud.”


Ternyata, yang tadi mengejek Camelia itu adalah Noval, kakak sepupu yang lahir kedua dari paman pertamanya. Pahamkan? Noval ini juga termasuk pewaris utama kedua sebelum Camelia. Selama ini dia tinggal di rumah halaman ibunya, Surabaya.


“Val, sudah. Jangan ganggu adikmu.” Ucap Uti kesayangan Camelia.


Mendengar perkataan Utinya itu, Noval segera pergi menjauh dari Camelia sebelum dia dimarahi lebih kejam lagi.


Setelah kepergian Noval, akhirnya Camelia bisa bernapas lega. Ia segera menemui Uti, paman, bibi, om dan tantenya, hanya untuk sekedar salim.


Tetapi tidak untuk Uti, bibi, dan tantenya, mereka pasti akan memeluk bahkan sampai mencium pipi chubby Camelia. Hal ini memang sudah biasa untuk Camelia dan ia hanya bisa pasrah menerima semuanya.


Setelah puas dengan Uti, bibi dan tantenya, sekarang saatnya Camelia berkumpul dengan saudaranya.


Pertama, ia harus bertemu dengan Angga dan Noval selaku kakak sepupunya sekaligus


pewaris utama keluarga Purnama. Mereka berdua termasuk Camelia terpilih menjadi pewaris karena memang mereka adalah cucu tertua di keluarganya. Selain itu, mereka juga punya alasan tersendiri untuk terpilih. Selisih umur Camelia dengan Noval sekitar 2 tahun, sedangkan selisih umur Camelia dengan Angga sekitar 5 tahun. Nanti akan diulas, tenang ajaa 😁


“Hai kakak kakaknya Camelia yang paling ganteng urutan ke 108 dihatinya Camelia.” Sapa Camelia dengan cengiran khasnya sambil menyalimi kedua kakak sepupunya.


“Hm.” ucap kedua kakak sepupunya dingin.


“Eh.. dek, kok jantung gue dag dig dug gini sih? Nanti kalo wasiatnya minta gue buat nikah sama bunglon bagaimana dong?” ujar Noval ke Angga nyeleneh. Nah, meskipun Angga adalah cucu tertua tapi Noval tetap memanggilnya “Adik” karena ayah Angga merupakan anak ke 2 keluarga Purnama.


“Ya elah kak, gini ya. Pemikiran Kakek itu masih waras walaupun beliau sakit. Enggak mungkinlah, lo dijodohin sama bunglon.” Ucap Angga mulai geram.


“Nah, lagian ya kak. Memang bunglonnya mau nikah sama Kak Noval?” ujar Camelia yang sontak membuatnya dan Angga tertawa keras.


“Sa ae lo kutil kuda. Gue ini ya, meskipun kulit gue rada-rada item. Gue itu tetap direbutin banyak cewek di sekolah.” Kata Noval tak mau kalah.


Malahan hal ini, membuat Camelia dan Angga tertawa lebih keras seperti tidak percaya. Karena Camelia terlalu lelah untuk tertawa, akhirnya ia pergi menuju Anggun kakak sepupu perempuan kesayangannya. Anggun ini adik kandung Angga.


Tbc.