
Pagipun tiba. Jam menunjukkan pukul 05.22 waktu Paris.
Camelia keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu yang berada di bawah. Camelia melihat Bibi Min, Pak Jae dan Vino duduk membelakanginya.
“Ekhm.” Camelia berdehem
Sontak mereka berbalik dan melihat ke arah Camelia.
“Nona.” Ucap Vino.
“Mari Nona, duduk.” Ucapnya sembari berdiri mempersilahkan Camelia duduk. Camelia segera duduk di sofa sebelah Vino.
“Ehm, Nona, Kenalkan saya Jae, Anda bisa memanggil saya Paman Jae. Mulai sekarang saya yang akan menjadi sopir pribadi Anda.” Kata Pak Jae.
“Saya Bibi Min, saya istri Pak Jae. Saya yang bertugas menjaga dan merawat Nona. Senang bertemu dengan Anda.” Ucap Bibi Min.
“Sekarang giliran saya. Perkenalkan nama sa...” belum sempat menyelesaikan ucapannya, Camelia sudah memotong perkataannya itu.
“Nama mu Achmad Alvino Gyminka yang akan menjadi sekretarisku di masa depan. Benar?” ucap Camelia sembari mengangkat salah satu alisnya.
“I.. Iya Non.. Nona.” Balas Vino yang kelihatannya ketakutan sampai akhirnya suara gelak tawa menyadarkannya.
“HAHAHAHA... Ekspresi kalian sangat lucuu.. Astaga perut sakit karena tertawa! HAHAHAH.” Teriak Camelia sembari mencoba menahan tawanya.
Semua orang yang berada di ruang tengah itu kini terlihat kebingungan.
“Astagaa... tolong maafkan saya. Saya sedang mencoba menjadi pribadi yang dingin.” Kata Camelia.
“Kemarin saya sempat mendengar percakapan kalian. Tenang saja, saya nyaman kok sama kalian. Dan yaahh.. tadi itu Cuma PRANK. HAHAHAHA... Saya hanya mencoba bersikap dingin. Jadi jangan terlalu berpikir bahwa saya ini tidak suka dengan kalian. Lagian, saya akan bersikap dingin didepan orang lain saja kok, tidak dengan kalian.” Lanjutnya.
“Ya ampun Nona, saya kira Anda membenci saya.” Jujur Vino.
“Ya enggak lhaa.. kamu kan gak punya salah sama saya. Oh iya, keliatannya kita seumuran, lebih baik panggil pakai gue-lo saja biar nyaman.” Terang Camelia.
“Maaf Nona, saya tidak berani.”
“Hem.. kalo begitu, waktu sama orang lain saja panggil pakai saya-sayaan. Waktu kumpul kayak gini pakai gue-lo saja. Dan inget tidak ada bantahan!” ancam Camelia dan membuat Vino mau tak mau harus menurutinya.
“Owh.. ya Bi. Camelia laper ini..” rengek Camelia.
“Baik Non, saya ke dapur dulu ya.” Ucap Bibi Min kemudian berlalu menuju dapur.
“Oh iya Pak Jae, kapan Camelia akan sekolah? Camelia satu sekolahkan sama Vino?” tanya Camelia.
“Besok sudah bisa Nona, tapi Anda dan Vino akan ikut homeshooling dan bukan sekolah seperti biasa. Ini juga karena Nona harus lebih mengenal Prancis. Tidak apa-apa kan Nona? Nanti saat SMA baru Nona bisa sekolah seperti biasa.” Jelas Pak Jae
“Sip Pak.. Camelia gak sabar mau belajar. Ya kan Vin?”
Setelah perbincangan singkat itu, Camelia, Vino dan Pak Jae kini hanya diam dan memilih fokus pada TV yang ada didepannya.
“Nona, Pak, Den Vino. Ayo sarapan.” Ucap Bibi Min setengah teriak. Mereka pun beranjak dan segera ke ruang makan. Merekapun makan berempat.
“Bibi Min dan Pak Jae sudah tinggal disini lama?” tanya Camelia pelan sambil menatap makanannya tapi masih bisa didengar oleh Bibi Min, Pak Jae dan Vino.
“Kita berdua sudah tinggal disini selama 7 tahun Non.” Ucap Bibi Min dengan nada lembut.
Bisa dipastikan mereka sudah fasih berbahasa Perancis. Hal ini sangat menguntungkan bagi Camelia sehingga dia tidak perlu ikut kursus khusus.
“Kalo begitu, Bibi sama Paman ajari Camelia sama Vino bahasa Perancis ya? Daripada ikut kursus.” Ucap Camelia dengan senyum manisnya.
“Avec plaisir mademoiselle.” Kata Paman Jae. (translate : Dengan senang hati Nona.)
“Merci.” Ucap Camelia dengan tulus. (Translate : Terimakasih.)
“Wah... daebak! Nona, kamu sudah tahu dasarannya ya?” tanya Vino.
“Ish... kan sudah gue bilang. Panggilnya pakai gue-lo saja atau panggil nama gue. Dan yaah, gue sudah belajar dasarannya doang.” Balas Camelia.
“Hehehe... maaf Mel. Lo memang hebat.” Ucap Vino sembari mengacungkan kedua ibu jarinya.
“Sa ae lu!” kata Camelia.
“Sudah sudah... sekarang saatnya makan. Tidak boleh ada yang berbicara.” Ucap Paman Jae.
Kini mereka berempat makan dengan tenang. Tidak ada yang membuka suaranya. Mereka fokus pada makanan di depan mereka. Menu kali ini adalah nasi goreng spesial ala Bibi Min. Meskipun rasanya jauh lebih enak daripada masakan mamanya, menurut Camelia masakan mamanya adalah yang No. 1 dihatinya.
Setelah menghabiskan sarapannya, Camelia segera menuju wastafel dan mencuci piringnya.
Tentu saja hal ini dilarang keras oleh Paman Jae dan Bibi Min. Tetapi, sifat keras kepala Camelia membuat siapapun tidak ada yang berani menentangnya.
Karena semua alat makan sudah dicuci bersih oleh Camelia, sekarang adalah saatnya Camelia untuk menyiapkan semua kebutuhannya saat homeschooling besok. Tak lupa ia juga harus segera belajar beberapa materi untuk bekal homeschoolingnya besok.
“Camelia mau belajar.” Setelah mengucapan kalimat itu, Camelia berjalan menuju tangga.
Belum sempat Camelia menaiki anak tangga pertama.
“Non Camelia, besok Nona dan Vino sudah harus homeschooling. Peralatan, alat tulis, dan buku lainnya sudah Bibi taruh diatas meja belajar saat Nona sedang tidur.” Ucap Bibi Min. Camelia hanya menoleh kemudian
mengangguk dan segera melanjutkan langkahnya.
Tbc.