
Camelia terlihat senang sekali menikmati sore harinya bersama Vino di Menara Eiffel. Bahkan saking senangnya, Camelia asyik berlarian kesana kemari meninggalkan Vino yang masih setia berada di belakangnya. Selama 23 menit Camelia memuaskan diri dengan berlarian, dia memutuskan untuk membeli es krim rasa matcha kesukaannya. Tak lupa, ia membelikan 1 es krim vanilla untuk Vino.
"Lo keliatan seneng banget hari ini?" tanya Vino sambil menyantap es krimnya.
"Tentu dong... Jarang-jarang gue bisa keluar rumah sama temen." balas Camelia.
Vino keliatannya sedikit terkejut mendengarkan Camelia mengucapkan kalimat 'Keluar rumah sama temen' berarti selama ini Camelia bener-bener diperhatiin tingkah lakunya oleh Tuan Erda dan Nyonya Jasmine.
"Sebenarnya sih, gue dibolehin aja keluar sama temen. Tapi..."
"pasti waktu pulang, gue sama ortu bakalan berantem kalo gak gitu saling cuek."
Mendengarkan hal itu, Vino merasa iba pada Camelia. Beruntung dia tidak dilahirkan dalam keluarga yang terkenal akan kekayaannya itu.
"Gak papa Mel, gue janji selama gue ada disamping lo, gue bakalan ngajakin lo ke tempat-tempat yang pastinya bikin lo bahagia. Gue janji enggak bakalan bikin lo nangis." Ucap Vino percaya diri.
"Janji?" ujar Camelia sambil menyodorkan jari kelingkingnya.
"Janji." ucap Vino sembari menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Camelia.
Mereka kini saling melempar senyuman terbaik mereka dengan jari kelingking yang saling bertemu. Terlihat sangat bahagia. Bahkan ada beberapa pengunjung melihat mereka seperti kakak-beradik yang harmonis. Hal ini tentu saja karena Vino yang masih memakai dress selututnya.
Entah apa yang membuat Vino tiba-tiba melupakan kekesalannya pada Camelia. Hingga saat ini, mereka tengah berjalan keluar dari kawasan Menara Eiffel.
Awalnya Vino mengajak Camelia untuk mencoba naik ke atas Menara Eiffel, namun di tolak oleh Camelia. Dengan alasan "Gue capek pengen bobok." Vino yang penurut itu pun akhirnya mengikuti Camelia pergi.
○•○
Camelia dan Vino kini berada di halte bus, mereka mendudukkan tubuhnya yang lelah. Bahkan kedua telapak kaki Camelia nampak memerah dan lecet-lecet, mungkin karena efek samping sepatu barunya itu.
Vino sudah membujuk Camelia agar ia gendong, tetapi Camelia tidak ingin terlihat seperti wanita lemah. Oleh karena itu, ia tetap berjalan menuju halte dengan keadaan kakinya yang kurang bagus.
Camelia dan Vino menunggu bus, ada beberapa orang yang ikut menunggu di halte tersebut dan beberapa diantara mereka ada yang melihat ke arah Camelia dengan ekspresi kasihan sekaligus kagum. Hingga akhirnya ada seorang nenek yang duduk di samping Camelia.
"Votre jambe ne vous fait-elle pas mal?" -Apakah kakimu tidak sakit?
Nenek berbaju pink dengan motif bunga-bunga menyentuh pundak kiri Camelia dengan lembut, kedua matanya tak lepas dari kaki Camelia yang kini mulai mengeluarkan darah walaupun hanya sedikit.
Camelia menengadahkan kepalanya yang sedari tadi menunduk, ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. Setelahnya ia menjawab pertanyaan yang diberikan oleh nenek tadi.
"Je vais bien, merci de t'inquiéter pour moi" -Saya tidak apa-apa, terimakasih karena sudah mengkhawatirkanku.
"Ini baru pertama kalinya saya melihat seseorang menangis tetapi tetap terlihat cantik."
Camelia tersenyum kecut atas pujian yang diberikan oleh nenek tersebut.
"Terimakasih."
"Panggil aku Oba-chan." -Oba-chan \= nenek
"Oui, apa Anda berasal dari Jepang?"
"Wouw... Hajimemashite!" ucap Camelia sembari sedikit membungkukkan badannya. -senang bertemu dengan anda
"Kamu bisa bahasa Jepang? Hebatnyaa." ujar Oba-chan sembari bertepuk tangan.
"Aih... saya hanya tau dasarannya saja."
"Terimakasih Oba-chan. Hmmm kalau begitu saya permisi dulu, busnya juga sudah datang."
Camelia dan Vino berbalik menghadap sang Oba-chan yang masih duduk ditempatnya, dengan sopan Camelia dan Vino membungkukkan badannya dan berpamitan.
"Tunggu sebentar, pas sekali aku membawa hansaplas. Pakailah."
Nenek itu memberikan sebungkus hansaplas kepada Camelia.
"Terimakasih Oba-chan, sungguh saya tidak apa-apa."
Camelia menolak, ia tak mau merepotkan orang lain.
"Tak apa pakailah. Lihatlah kedua kakimu! Itu pasti sangat menyakitkan untuk dibuat berjalan."
Dengan ragu Camelia mengambil bungkusan hansaplas itu lalu dipasangkan oleh Vino.
"Terimakasih. Aku berharap bisa bertemu denganmu lagi."
Setelahnya Camelia dan Vino masuk ke dalam bus dan meninggalkan Oba-chan yang masih duduk di halte itu.
○•○
Camelia mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu, sedangkan Vino sudah masuk ke dalam kamarnya. Kini merema kembali tak menemukan seseorang pun di dalam rumah. Biasanya jam segini Bibi Min sedang sibuk membersihkan rumah.
Camelia mengambil ponselnya yang tadi ia letakkan di atas meja, ia berencana menelfon Paman Jae.
"Paman Jae, apa Bibi ada bersama Paman?"
"...."
"Siapa yang meninggal? Saya turut berduka cita ya Paman, semoga amal ibadah adik Paman di terima di sisi-Nya."
"...."
"Paman, apa Paman akan pulang nanti?"
"...."
"Iya, baiklah Paman. Kami akan menunggu."
Camelia mematikan panggilannya, ia beranjak menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Tbc.