My Life Is Confusing

My Life Is Confusing
Berangkat



Sukses itu bukan soal umur, bukan juga soal modal besar, atau bahkan pintar di kelas. Karena sukses datang dari kerja keras, jaringan pertemanan, dan hubungan keluarga.


○•○


Di dalam mobil, Camelia menatap sendu sekolahnya. Sekolah impiannya. Kini ia dan keluarganya harus segera menuju bandara. Keadaan di mobil pun hanya diselimuti keheningan. Sementara Camelia, ia sekarang sedang tertidur pulas. Mungkin karena ia terlalu lelah menangis.



“Semuanya sudah siap Mel? Enggak ada yang ketinggalan kan?” tanya Nyonya Jasmine pada Camelia dan dibalas gelengan kepala.


Kini di bandara memang sudah berkumpul semua anggota keluarga Purnama, termasuk ketiga anak yang nantinya akan menjadi sekretaris mereka dimasa depan dan tak ketinggalan supir yang akan mengabdi kepada mereka selama di luar negeri.


Dan akhirnya, terjadilah menangis berjamah pt. 2, tapi ini pasti yang lebih membekas bagi Camelia.


Kali ini dia harus meninggalkan keluarganya selama 10 tahun. Sementara Angga hanya sekitar 4-5 tahun dan Noval sekitar 7-8 tahun. Hal ini pasti berat bagi Camelia, tapi dia sudah tidak sabar segera menuju Paris.


“Hati hati di sana ya!”


“Inget, cari teman yang baik-baik!”


“Jangan lupa makan yang teratur!”


“Olahraga terus!”


“Jangan terlalu stress”


“Have fun!”


Ucapan-ucapan keluarganya tersebut, mengantarkan Angga, Noval, Camelia beserta sopir dan casekre mereka menuju pesawat tujuan mereka masing masing. Sebelum berpisah, Angga dan Noval berhenti untuk memeluk Camelia. Mereka merasa sedikit takut menghadapi kerasnya kehidupan.


Tapi mereka akan tetap berjuang.


Setelah puas berpelukan, kini mereka berjalan menuju tujuan masing masing. Berpencar sembari menggerakkan tangan mereka mengucapkan selamat tinggal.


○•○


Kini Camelia, Vino (casekre), dan Pak Jae (sopir) sudah berada di dalam pesawat yang akan mereka tumpangi. Camelia memilih untuk duduk sendiri di dekat jendela. Memang pesawat yang mereka tumpangi adalah pesawat kelas A, dimana yang mampu manaiki pesawat ini hanyalah orang orang kaya. Merasa ada yang menjanggal, Camelia segera mengecek ponselnya. Sesuai dugaannya ia belum memberi kabar Priya jika ia harus berangkat hari ini. Tanpa pikir panjang ia pun mengirim pesan kepada Priya.


*Camelia :


Priya sudah pulsek?


Priya :


Udh, knp?


Camelia :


Maaf aku baru kabarin kamu.


Hari ini aku berangkat ke Paris dan sekarang aku sudah didalem pesawat.


Priya :


Lebih cepet dari dugaan gue, hati hati semoga selamat sampai tujuan.


Sekarang ngapain?


Camelia :


Iya, makasih Priya.


Lagi mikirin kamu


Priya :


Knp mikirin? Biar gue saja yang mikirin lo


Camelia :


Takut saja kalau pas aku di Paris nanti Priya lupain Camelia terus pindah ke lain hati.


Priya :


Nggak akan cebol. Di Indonesia enggak ada spesies kayak elo


Camelia :


Ih jahat 🙁


Priya :


Percaya sama gue.


Camelia :


Iya Priya, Camelia mah orangnya percayaan.


Priya :


Ututut jadi sayang :*


Camelia :


Camelia juga sayang.


Read*.


Setelah mengirim pesan itu, Camelia langsung melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu di mobil tadi. Dari belakang terlihat Vino dan Pak Jae yang memperhatikan Camelia. Mereka sudah berjanji pada Tuan Purnama jika mereka akan menjaga dan melindungi Nona Kecilnya itu. Dan kini mereka berdua juga ikut terlelap.


○•○


Perjalanan Indonesia Paris lumayan memakan waktu. Kini Camelia, Vino, dan Pak Jae telah sampai di Bandar Udara Roissy, Paris, Perancis. Kini waktu menunjukkan pukul 02.55 waktu Paris, jika di Indonesia sudah pukul 07.55 hanya selisih 5 jam. Seperti yang diminta orang tuanya, gadis tersebut mengirimkan pesan kepada Mamanya.


*Mama


Camelia udh smpe*!


Setelah mengirim pesan tersebut. Gadis itu menyimpan handphonenya dan segera menuju Pak Jae dan Vino yang sudah memberhentikan taksi untuk pulang ke rumah yang akan ditinggalinya selama beberapa tahun kedepan.


○•○


Sesampainya di depan rumahnya, Pak Jae segera membayar dan mereka bertiga keluar dari taksi tersebut.


Camelia, Vino dan Pak Jae sudah berdiri di depan pintu rumah berwarna putih abu abu yang sederhana tetapi terkesan elegan dan mewah.


***Ting! Tong!


Ting! Tong***!


Setelah menekan dua kali bel tersebut. Tibalah seorang wanita paruh baya yang sudah membuka pintu.


"Désolé, qui cherchez-vous?" ucap wanita paruh baya tersebut. (Translate : Maaf cari siapa?)


Kaget. Itu yang menggambarkan ekspresi wanita paruh baya tersebut.


“Nona..” ucapnya lirih. Ia segera mengambil pegangan koper yang sedari tadi melekat di tangannya.


Sementara Camelia hanya tersenyum tipis bahkan sangat tipis hingga orang lain tidak bisa melihatnya. Ia juga mempersilahkan wanita itu mengambil kopernya.


“Ayo masuk Nona” ucap Bibi Min. Mereka berempat masuk ke rumah tersebut.


Rumah tersebut terlihat sangat berbeda dengan rumahnya dulu.


“Nona mari saya antar naik ke atas Nona. Sebaiknya Anda ganti baju setelah itu langsung istirahat. Saya akan merapikan barang barang Nona.” Ucap Bibi Min sambil tersenyum ke arah Camelia.


Camelia hanya mengangguk kemudian berjalan ke arah tangga disusul Bibi Bel.


Sekarang Camelia sedang berada didepan pintu berwarna putih polos. Ia perlahan membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya.



Indah. Batin Camelia


Camelia segera membersihkan badannya dan segera beristirahat. Camelia merasa sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh.


○•○


Lain halnya dengan Camelia, kini Bibi Min, Pak Jae, dan Vino tengah berada di dapur. Pak Jae merasa ada yang salah dengan Nona Kecilnya itu.


“Pak, apa Nona Camelia tidak menyukai kita?” tanya Vino. Note : Vino adalah adik kandung dari Veno kakak kelas pelarian Camelia.


“Tidak Den, mungkin Nona terlalu lelah sekarang.” Jawab Pak Jae.


“Yang dikatakan Bapak itu benar, sekarang lebih baik Den Vino tidur ya? Ini masih terlalu larut.” Kata Bibi Min dan dibalas anggukan oleh Vino. Kamar Vino segera menuju kamarnya yang terletak di sebelah kanan kamar Camelia.


Tbc.