
Gafin telah selesai menyampaikan materi tentang Sejarah, lumayan membosankan. Namanya juga pelajaran Sejarah, pasti membuat ngantuk. Gafin melirik jam tangannya dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, Gafin melihat ke arah kedua muridnya. Di satu sisi Camelia terlihat masih mencatat di bukunya. Dan disisi lain, Vino juga sedang mencatat sembari berusaha menahan kantuknya.
Gafin mengakhiri pelajarannya hari ini. Gafin keluar lalu menuruni tangga hingga akhirnya ia bertemu kembali dengan kedua muridnya.
"Saya akan pulang sekarang, jangan lupa untuk mengulang materi hari ini nanti malam."
"Iya Mr. Gafin, mari kita antarkan ke depan. Hari ini Bibi Min dan Paman Jae akan pulang sore." Ucap Vino pastinya.
"Baiklah. Terimakasih Vino, Camelia. Setelah ini apa kalian akan pergi?" Tanya Gafin begitu mereka sampai di halaman depan.
"Sepertinya iya, kita mau pergi ke Victory cafe." Balas Vino.
"Kalau begitu, saya permisi. Terimakasih Vino, Camelia."
"Apa tak sebaiknya Mr. Gafin makan dulu? Saya akan memanaskan makan siang untuk Anda." Kata Vino.
"Terimakasih. Saya sudah bawa bekal sendiri. Sekali lagi terimakasih."
Setelah kepergian Gafin, Camelia dan Vino segera mengunci pintu dan menuju ke halte. Mereka berdua akan pergi sesuai rencana, yaitu ke cafe.
○•○
Camelia dan Vino sampai tujuan, Camelia sedikit merapikan pakaiannya. Dengan langkah tenang, Camelia dan Vino memasuki cafe yang baru pertama kali mereka datangi, mereka disambut oleh pelayan yang berada di samping pintu masuk.
Camelia mengedarkan pandangannya dipenjuru cafe hingga ia menemukan bangku yang kosong.
"Vino, disitu."
Camelia menunjuk sebuah bangku kepada Vino dan segera duduk di bangku tersebut.
Vino yang merasa terpanggil, segera mengikuti Camelia duduk di bangku yang terletak di pojok belakang cafe sebelah jendela.
"Siapa mereka?"
"Wajahnya manis sekali."
"Mereka manis sekali."
"Senyumannya saja membuatnya bertambah manis."
"Benar katamu."
"Mereka terlihat sangat-sangat manus ketika tersenyum."
Begitulah omongan para pengunjung cafe saat melihat Camelia dan Vino berjalan menuju bangku mereka.
"Kenapa sih mereka?"
Camelia membuka pembicaraan kepada Vino dan ia tak mau jika dirinya terus-terusan mendengarkan gombalan dari para pengunjung cafe.
"Entahlah. Sudah lupakan. Lo pengen pesen apa? Pesen saja. Gue yang traktir."
"Cih... emang lo enggak bokek? Nanti endingnya gue juga yang bayarin."
"Bisa enggak sih lo enggak usah ngomong kayak gitu? Gue malu nih."
"Lo memohon ke gue?"
Camelia menengadahkan pandangannya dari ponselnya ke Vino yang kini sedang menunduk.
"Iya, gue mohon. Lagian nih, gak etis kalo cewek yang bayarin cowok."
Camelia mendekatkan dirinya ke Vino sedangkan para pengunjung cafe hanya duduk dan memperhatikan apa yang dilakukan Camelia.
"Ada syaratnya."
Bisik Camelia di telinga kiri Vino.
"Apa?"
Ucapan Vino terdengar samar bahkan terdapat getaran disana, meskipun begitu Camelia dapat menangkap suara tersebut bahkan kini ia mengeluarkan smirknya saat melihat orang di depannya mulai terlihat takut kepadanya.
○•○
Camelai dan Vino menghempaskan tubuhnya di sofa, kediaman mereka terasa lenggang karena Bibi Min dan Paman Jae masih pergi.
Camelia beranjak dari duduknya menuju kamar, ia merasa lelah dan butuh makan. Camelia dan Vino lupa memakan masakan yang sengaja dibuat Bibi Min untuk makan siang dan malam ini mereka belum juga mengisi perutnya. Kecuali saat tadi di cafe, itu pun mereka hanya memesana sandwich dan moccacino saja.
Camelia mengambil handuk dan bergegas masuk ke kamar mandi. 10 menit ia habiskan untyk membersihkan diri, setelahnya ia berjalan menuju dapur. Terlihat Vino yang sedang membuka kulkas dan memanaskan makanan yang sudah dimasak oleh Bibi Min.
○•○
Malam ini Camelia dan Vino akan tinggal berdua karena sang pengurus mereka sudah menghubungi mereka untuk memberitahu bahwa mereka akan menginap di rumah saudara mereka.
○•○
Vino kini sudah berada di kamarnya, ia terlihat fokus menatap langit-langit kamarnya.
Vino menghembuskan nafas beratnya, ia kembali mengingat kejadian di Victory Cafe siang tadi, dimana ia harus memenuhi semua syarat Camelia.
Vino baru saja 3 hari menjadi teman Camelia dan ia mendapat banyak hal baru yang membuat hidupnya berubah.
Besok ia akan memulai memenuhi syarat temannya itu, dan ia benar-benar bingung harus memulainya dari mana.
○•○
Esoknya Vino bergegas untuk membangunkan Camelia, dan hari ini dia sudah bertemu dengan Bibi Min dan Paman Jae. Mungkin mereka kembali waktu langit masih gelap.
"Den Vino sungguhan mau bangunin Non Camelia? Memangnya Non Camelia belum bangun? Apa perlu saya bangunkan?" Tanya Bibi Min dari depan pintu kamar Vino.
"Tak usah Bi, biar saya saja." Jawab Vino.
Tbc.