
Tetap maju kedepan, hingga cemoohan itu berubah menjadi tepuk tangan.
○•○
Suasana kali ini hanya keheningan yang menyelimuti Keluarga Purnama setelah kepergian pengacara, Notaris, dan ketiga anak kecil tadi pergi. Kini mereka hanya diam sembari berpikir.
Apakah mereka harus merelakan ketiga anak mereka untuk tinggal sendiri tanpa orang tua di luar
negeri? Tentunya bagi semua orang tua tidak rela anaknya tinggal sendiri di negeri orang. Cukup lama tidak ada yang berbicara, sampai akhirnya Nyonya Purnama membuka suara.
“Angga, Noval, Camelia?” panggil Nyonya Purnama yang sontak membuat ketiga anak itu mendongakkan kepala mereka.
“Kalian mau kan keluar negeri? Lakukan ini bukan karena syarat warisan nak, tapi demi Almarhum Kakek kalian. Kakek kalian pasti sudah merencanakan yang terbaik untuk kalian. Apa kalian mau?” tanya Nyonya Purnama.
“Jika ini demi kebahagiaan kakek, Angga mau kok Uti. Kita bertiga akan berusaha yang terbaik demi kakek.”
“Iya Uti, Noval juga gak mau kalah. Noval bakal buat keluarga kita bahagia.”
Sepertinya Angga dan Noval memiliki pemikiran yang sama. Mereka menyetujui syarat itu selain demi kakek, mereka juga melakukan ini jika semisal Camelia menolak. Mengingat dia adalah cucu perempuan dan sudah memiliki tunangan kecilnya. Itu pasti berat untuk Camelia meninggalkan Indonesia.
“Camelia juga akan pergi Uti. Camelia akan jadi yang terbaik. Kalian semua tenang saja, Camelia pasti akan baik baik saja. Camelia janji tidak akan cengeng atau manja lagi.” Ucap Camelia lantang dengan tangan kanannya yang mengepal seolah menantang syarat syarat yang diberikan kakeknya.
“Apa kamu yakin nduk? Kamu iki cah wadon. Beneran kamu berani?” tanya Uti sedikit tidak percaya.
“Iya Mel, kamu mau ninggalin mama?” kata Nyonya Jasmine mulai terisak.
“Mama jangan khawatir, aku kan Camelia. Tidak akan ada yang berani melawan Camelia. Mama tenang saja. Nanti Camelia bakalan sering hubungi mama kok.” Ucap Camelia sembari berjalan memeluk mamanya.
Sebenarnya terlalu berat bagi Tuan Erda dan Nyonya Jasmine melepaskan anak sulung mereka, tapi
mau bagaimana lagi. Syarat di wasiat itu harus diusahakan terpenuhi, ditambah lagi tekad Camelia yang tidak mungkin tergoyahkan lagi. Memang tidak diragukan lagi, putri sulungnya itu mempunyai ego yang kuat. Tuan Erda tahu jika Camelia selalu ingin menjadi yang terbaik, mau tak mau mereka harus merelakan Camelia pergi.
“Lalu bagaimana dengan Priya? Kalian mau LDR an?” kali ini bukan Tuan Erda, Nyonya Jasmine maupun Nyonya Purnama, melainkan Angga.
“Santuy kak, lagian aku sama Priya kan memang LDR an beda sekolah.” Ucap Camelia sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
“Kalian semua tenang saja. Camelia pasti baik baik saja. Lagian Camelia kan titisan Dewi Fortuna yang selalu beruntung. Lebih baik sekarang kita mengurus surat pemindahan sekolah Camelia, Kak Angga sama Kak Noval. Bagaimana? Lebih cepat kan lebih baik.” Lanjutnya.
Memang Camelia benar, satu minggu itu waktu yang sangat singkat bagi Keluarga Purnama. Banyak yang harus mereka siapkan untuk kepergian ketiga cucu kesayangan Keluarga Purnama. Waktu satu minggu ini sama sekali tidak di sia sia kan oleh Camelia, Angga, dan Noval. Mereka harus meluangkan banyak waktu dengan keluarga dan teman sebelum mereka meninggalkan Indonesia selama beberapa tahun.
○•○
Karena waktu sudah menunjukkan semakin sore, kini keluarga Purnama kembali ke kediamaan mereka masing masing kecuali Noval dan keluarganya karena mereka memang baru hari ini kembali ke Malang.
Sesampainya di kediaman Tuan Erda, Nyonya Jasmine meminta Camelia dan Aldo untuk beristirahat.
Sementara Tuan Erda dan Nyonya Jasmine harus mengurus beberapa dokumen perusahaan dan berkas-berkas kepindahan Camelia.
Di kamar Camelia, ia hanya bisa tersenyum sambil menangis. Bagaimana lagi, diumurnya yang belum genap 14 tahun, dia harus meninggalkan keluarga, sahabat, teman dan tentu saja Priya.
Camelia menatap sendu fotonya bersama teman teman sekelasnya. Teman-teman yang dia kenal selama kurang lebih 6 bulan ini. Merasa lelah menangis, Camelia segera mengambil ponselnya untuk memberitahu Priya bahwa ia harus berangkat ke Paris dalam waktu dekak. Mengapa tidak bertemu langsung? Camelia terlalu lemah untuk bertatap muka dengan Priya
*Camelia.Putri
Priya?
Alvano.Priyatama
?
Camelia.Putri
Aku mau ngomong serius sama kamu
Alvano.Priyatama
Apa?
Camelia.Putri
Aku mau pindah sekolah ke Paris
Alvano.Priyatama
Camelia.Putri
Enggak, aku betah kok.
Cuma aku mau nurutin permintaan Almarhum Kakek doang. Dan lagi, aku juga butuh pengalaman hidup.
Alvano.Priyatama
Kenapa lo gak sekolah di sekolahan gue saja? Nanti kalo di luar negeri, gue jadi susah ketemu lo
Camelia.Putri
Kan bisa video call.
Alvano.Priyatama
Iya bisa, tapi kan nggak kaya ketemu langsung
Camelia.Putri
Yaudah kamu pindah saja ke tempat dimana nanti aku bakal sekolah
Alvano.Priyatama
Hah? Nggak mungkin
Camelia.Putri
Kalo begitu, kamu tunggu saja sampe aku pulang.
Alvano.Priyatama
Berapa lama?
Camelia.Putri
Maybe bisa sampe 9-10 tahun
Alvano.Priyatama
Lama
Camelia.Putri
Enggak, kalo kamu kuat tunggu, kamu tunggu saja.
Kalo enggak, banyak cewek yang lebih dari aku.
Alvano.Priyatama
Nggak lah, gue sukanya sama lo. Gue bakalan nungguin lo.
Kapan lo berangkat?
Camelia.Putri
Gak tahu lagi, sampe surat perpindahannya selesai kayaknya.
Maaf aku gak bisa ketemu kamu seminggu ini. Aku harus packing, urus surat pindahan dan pastinya ngeluangin waktu buat ortu.
Alvano.Priyatama
Y
Lo ati ati disana. Kabarin gue terus. Jangan jelalatan itu mata. Sudah, gak usah dibales. Cukup read doang.
Read*.
Camelia menuruti perkataan Priya. Setelah dirasa cukup, Camelia segera membaringkan tubuhnya dan beristirahat mengingat sekarang sudah pukul 20.48
Tbc.