My Life Is Confusing

My Life Is Confusing
Keluar



Seperti biasa, kamar Camelia tidak terkunci sehingga mempermudahkan Vino.


Vino berjalan menuju ke sisi kanan ranjang, terkadang ia membenarkan rambutnya karena terasa risih.


"Camelia, bangun."


Suaranya ia rubah selembut mungkin, dan dalam sekali panggilan Camelia menggeliat lalu kedua kelopak matanya ia kerjapkan untuk menyesuaikan cahaya di kamarnya.


Camelia mendudukkan tubuhnya lalu bersandar di kepala ranjang. Camelia masih belum mengumpulkan nyawanya hingga akhirnya ia palingkan wajahnya menatap sang teman yang kini berada di sampingnya.


"HUAHAHAHAHAHHAHAHA"


Camelia tertawa dengan kencang bahkan kedua tangannya ia lipat di perut dan kemudian berguling-guling di atas kasur.


"Berhenti tertawa, cepat mandi dan sarapan."


Vino cemberut, ia merasa benar-benar merasa bodoh disini. Ia adalah seseorang yang akan terus bersama Camelia sampai dia dewasa. Kalian harus tau syarat yang diminta oleh Camelia.


○•○


--- Flashback ---


"Ada syaratnya."


"Apa?"


"Besok lo harus berpakaian seperti cewek jangan lupa pakai high heels dan wig rambut panjang."


"Apa? Lo bercandakan? Mana mungkin gue memakai itu semua, gue ini cowok."


"Darimanya lo itu cowok? Bahkan mereka semua aja bilang lo itu manis. Gue gak mau tahu besok lo harus berpenampilan layaknya cewek. Gue beri waktu 10 jam."


○•○


"Tunggu."


Camelia mendekati Vino yang hendak keluar dari kamarnya.


"Ada apa?"


"Ada yang kurang."


Vino meneliti dandanannya sendiri, ia merasa sudah memakai apa yang Camelia inginkan.


"Gue udah pakai wig dengan rambut panjang, gue udah pakai gaun dengan perpotongan di atas lutut, lihat kaki gue udah kepasang sepatu jinjit ini. Apalagi yang kurang?"


"Lo harus memakai buah dada buatan."


"Gue gak mau, ini aja udah cukup bikin gue malu. Cepatlah mandi gue tunggu di ruang perpustakaan. Katanya lo mau belajar jadi CEO."


Vino keluar dari kamar Camelia dengan wajah yang marah dan malu.


Camelia hanya melihat kepergian Vino dengan tertawa terbahak-bahak.


'Ini belum cukup, lo gak tau kalo gue itu jail tingkat dewa.'


○•○


Walaupun sekarang adalah hari Minggu, Camelia dan Vino tetap tidak ingin melewatkan kesempatan untuk belajar. Mereka tau, jika mereka harus segera beradaptasi dengan lingkungan disini. Oleh karena itu, Camelia harus memanfaatkan waktunya dengan baik.


"Vin, gue bisen belajar terus didalem ruangan. Gue pingin keluar."


Berkali-kali Camelia memuji kemolekan tubuh sang teman, ia tak pernah melepaskan pandangannya ketika Vino sedang menjelaskan. Sungguh, Camelia ingin sekali memposting foto lucu temannya ini. Ingin rasanya Camelia mematahkan kaki putih Vino yang keliatannya jenjang dan halus. Bagaiman bisa seorang cowok memiliki kaki seperti itu? Pinggang Vino yang juga ramping, membuat Camelia kebingungan. Apakah selama ini Vino diet? Itulah yang terpikirkan oleh Camelia saat ini.


Camelia memang gila, gila karena rencananya sendiri.


"Kita bahkan belum ada sejam di ruangan ini. Kapan-kapan aja lho."


"Gue pengennya sekarang, atau gue gak mau belajar sama sekali."


Vino menghela nafasnya dan sedikit memijat keningnya. Ia sedikit pusing akan tingkah salah satu temannya ini.


"Baiklah, tunggu disini gue akan ganti pakaian."


"Lo tetep seperti itu."


"Ini memalukan, gue gak bisa pakai ini di luar."


Camelia lalu berdiri berjalan menghampiri sang teman yang sedang membelakangi papan tulis.


"Itu yang gue inginkan Vin."


Tanpa persiapan, sudut gaunnya sudah ditarik oleh Camelia keluar dari ruangan dan berjalan menuju pintu.


"Nona Camelia, anda mau kemana? Dan disamping Anda siapa? Apakah dia teman baru Anda? Bukankah masih ada Den Vino?"


"Ahh Bibi Min, aku dan Vino akan berjalan-jalan di luar dan orang yang berada di sampingku adalah Vino."


"Oh mon Dieu... Benarkah?? Cantik sekali, bahkan Bibi Min saja tidak bisa mengenali."


"Kalau begitu kami permisi."


Camelia kembali menarik ujung gaun Vini sampai halaman depan.


"Bisa enggak sih lo lepasin ujung gaun gue? Nanti kalo sobek gimana?"


"Gue enggak akan ngelepasin sebelum lo ikut gue ke Menara Eiffel."


"Iye iyee... udah lepasin."


○•○


Kini mereka sampai di Menara Eiffel, salah satu destinasi wisata yang paling terkenal di Paris. Mereka hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai di Menara Eiffel, itupun mereka berangkat sendiri.



Rasanya kurang pas jika Camelia belum mengungungi menara ini ketika ia sedang berada di Paris.


Menara Eiffel merupakan menara yang indah dari besi di Champ de Mars di Paris, Perancis.


Dinamai setelah insinyur Gustave Eiffel, orang yang merancang dan membangun bangun menara.


Ketika Gustave Eiffel membangun Monumen paling dikenali di Paris untuk pesta sedunia di tahun 1889, banyak orang menganggap skeptis sebagai bangunan struktur besi besar.


Sekarang, Menara Eiffel mempunyai peran penting dalam siaran televisi dan radio.


Dan dianggap sebagai arsitektur yang luar biasa dan menarik lebih banyak pengunjung dari tempat wisata berbayar lainnya di Paris ini.


○•○


Tbc.