My Life Is Confusing

My Life Is Confusing
Pamitan



Tak terasa sekarang sudah jam pelajaran ke 9 sudah dimulai. Kini saatnya mereka jam kokulikuler.


Biasanya saat jam kokulikuler, semua murid akan pergi menuju kelas BM (Bakat Minat) sesuai jurusan Olimpiade mereka masing-masing.


Mengingat kedua orang tuanya juga belum datang, Camelia berpikir jika dia akan berpamitan pada teman temannya saat pulang sekolah.


Jam BM antara satu olim dengan olim lainnya berbeda. Memang sudah wajar jika olim IPA lebih pendiam daripada olim IPS. Mungkin memang sudah takdir Allah seperti itu. Buktinya hal ini juga terjadi pada kelas Camelia. Kelas BM ini adalah kelas campuran antara kelas 7B dan kelas 8F sesuai olim mereka.


Karena campuran, membuat kelas olim IPS terasa lebih ramai. Semua tidak ada yang berdiam diri, selalu ada yang berlarian bahkan sampai jalan jalan ke kantin. Tentu saja hal ini sangat dilarang oleh guru-guru bahkan kepala sekolah. Tapi sepertinya mereka terlalu lelah untuk memperingatkan kelas olim IPS ini.


Para kelas 8 sekarang lebih memilih menuju ke kantin. Sementara Camelia dkk lebih memilih menetap di ruang IPS 1. Seperti biasa mereka akan melakukan kenakalan. Meskipun di kelas 7B hanya ada 2 perempuan dan dan 5 laki laki tidak membuat kelas terasa sepi. Bahkan sekarang, Camelia dkk sedang menyalakan TV yang ada di ruang IPS 1. Walaupun di kelas tersebut ada CCTV yang senantiasa menyala, mereka tidak merasa takut sekalipun. Hal ini karena mereka sudah melakukannya berulang kali dan tentunya Andre selaku ketua kelas juga masuk dalam olim IPS sehingga mereka tidak merasa takut.


○•○


Entah apa karena faktor mereka terlalu senang bermain sampai lupa waktu atau karena jam berputar lebih cepat, kini bel pulang sudah berbunyi. Jika biasanya para murid masih ada di kelas BM karena pastinya mereka akan keluar lebih telat dari kelas lain, kini berbeda. Semua para penghuni 7B sudah kembali ke ruang IPS 1. Tidak ketinggalan Wali Kelas mereka, Pak Hamidi.


Tetapi, dibelakang


Pak Hamidi sudah ada kedua orang tua Camelia yang menunggu di depan pintu. Tuan Erda memberikan kode kepada Camelia agar dia bisa memulai berpamitan. Setelah mendapatkan kode


itu, Camelia segera menuju ke Pak Hamidi untuk meminta izin.


Karena Camelia adalah anak teladan, semua murid di 7B tidak merasa asing jika Camelia maju ke depan. Mungkin akan menyampaikan beberapa informasi tentag event ataupun tugas. Tapi kali ini berbeda, Camelia maju ke depan untuk berpamitan kepada teman temannya.


“Assalamu’alaikum teman-teman.”


“Wa’alaikumussalam.”


“Kalian pasti merasa sudah biasa jika saya maju ke depan kan? Sekarang saya ingin menyampaikan beberapa kalimat yang tidak pernah saya ucapkan sebelumnya.” Ucap Camelia.


“Hari ini saya ingin berpamitan kepada kalian semua. Ter..”


“APA?!?!” belum sempat Camelia menyelesaikan perkataannya, ucapannya sudah dipotong oleh Cleo. Hal ini justru membuat Cleo mendapatkan lirikan tajam dari satu kelas.


“Terima kasih teman teman karena kalian sudah mau berteman dengan saya. Kalian sudah memberikan banyak pengalaman walaupun kita belum genap satu tahun berteman. saya juga berterimakasih kepada Pak Hamidi, Bapak sudah mengajarkan saya banyak ilmu yang tentunya akan senantiasa saya ingat. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian semua jika saya melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak. Terimakasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.”


“Tunggu.. tunggu.. Lo mau kemana pakai acara pamitan segala?” tanya Cleo yang mulai geram.


“Sorry Cle, mulai hari ini gue bakalan pindah sekolah. Hari ini hari terakhir gue sekolah di sini.” Balas Camelia menahan air matanya.


“ENGGAK! LO BOHONG KAN?” Kali ini bukan Cleo, tapi Firya yang berteriak. Camelia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan sembari menundukkan kepalanya. Dia tidak kuat jika harus bertatapan dengan teman-temannya.


“Tidak anak anak, kali ini Camelia tidak berbohong. Camelia akan segera berangkat keluar negeri setelah ini. Pesawatnya akan terbang beberapa jam lagi. Sebaiknya kalian segera berpamitan, orang tua Camelia sudah menunggu diluar” Ucap Pak Hamidi berusaha menguatkan murid muridnya.


Tanpa ada aba aba, Cleo, Firya, Rina dan Azzarah maju kehadapan Camelia lalu memeluknya. Tangisan mereka berlima sudah tidak bisa dibendung lagi dan terjadilah menangis berjamaah.


Karena waktu sudah tidak bisa ditolerir, pelukan mereka berlima akhirnya terlepas. Sekarang berganti teman teman sekelas Camelia yang berjabat tangan dengannya.


“Zar, gue minta tolong. Bilangin permintaan maaf gue ke anggota OSIS waktu rapat ya? Jangan lupa bilangin juga ke grup Bar Bar. Tenang saja, nomor HP gue tetap kok.” Ucap Camelia kepada Zara dan dibalas anggukan.


Sebelum berangkat, Camelia dan teman-teman sekelasnya menyempatkan diri untuk berfoto sebagai kenang-kenangan bersama Camelia.



Setelah drama menangis berjamaah, kini waktunya Camelia untuk meninggalkan kelasnya. Diluar dugaan, pesawatnya akan terbang dalam 4 jam lagi. Inilah yang membuat Camelia harus segera pergi menuju bandara.


Tbc.