
Pagi ini gue bangun dari tempat tidur yang sangat mewah. Bibi Min seperti biasa melayani gue seperti biasa.
“Bonjour Non, Anda mau mandi sekarang? Kami akan menyiapkan air hangatnya” ucap Bibi Min.
“Gak usah biar saya sendiri” ucap Gue.
Gue paling enggak suka Bibi Min yang mengerjakan tugas gue, dan mengurusi gue. Gue lebih suka ngelakuin tugas gue sendiri. Gue merasa gak bebas di rumah ini. Apalagi semenjak usia gue sudah menginjak 17 tahun, semua orang baik Bibi Min, Paman Jae, Vino bahkan keluarga gue di Indonesia
sekarang lebih overprotektif sama gue.
“Anda sudah selesai Nona?” ucap Bibi Min.
“Iya, Bibi bisa keluar dari sini.” Ucap gue.
“Tapi Non...”
“Biar saya sendiri mengurusi semuanya.” Ucap gue.
Bibi Min pun keluar dari kamar gue. Gue gak betah kayak gini terus. Gue ingin lihat dunia luar, tapi enggak semudah yang gue bayangkan. Pasti ada bodyguard yang Ayah siapin buat selalu jagain gue agar tidak keluar dari ruma besar ini. Ditambah sekarang Vino sudah diperbolehin untuk masuk SMA
layaknya anak normal lainnya, sungguh buat gue iri. Gue turun ke bawah untuk sarapan pagi.
“Pagi Bi, Paman.” Sapa gue.
“Pagi Non.” Ucap mereka serentak.
Sudah pagi begini, gue masih melihat mereka sibuk dengan aktifitas mereka dan jangan tanyakan Vino. Tentu saja itu anak sudah ada di sekolahnya. Karena merasa jengah, gue putusin buat nelfon ortu gue daripada cuma diem saja.
“Halo Ma? Mama lagi sama Ayah kan?” Ucap gue
“Apa Sayang? Silahkan ngomong saja.” Ucap Ayah.
“Aku mau sekolah di tempat yang sudah disiapin Kakek.” Ucap gue
Mama dan Ayah seketika terdiam.
“Sayang lebih baik, kamu home schooling.” Ucap Mama
“Ma, aku sudah gede. Aku ingin lihat dunia luar.” Ucap gue
“Di luar dunianya sangat keras sayang. Sangat menakutkan.” Ucap Ayah
“Tolong dengerin aku Ma, Ya. Aku mohon kali ini saja kalian mendengarkan permintaan aku Ma.” Ucap gue
“Tapi sayang kami tak mau kamu kenapa kenapa.” Ucap Mama.
“Kalian tidak sayang padaku, apa kalian tidak tahu pengorbanan Kakek agar aku sekolah di sana? Walaupun kalian mengkhawatirkanku bisakah kalian mendengarkan permintaanku kali ini saja?”
Tanpa mendengar perkataan mereka gue langsung matiin telefonnya.
◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾◾
Gue membuka pintu kamar, dan membanting pintu dengan keras. Gue duduk di atas kasur dan menangis.
“Kenapa gue berbeda dengan yang lain hiks... hiks... hiks... kenapa mereka melarang?” ucap gue sambil menangis tersendu sendu.
Itu pasti Bibi Min. Batin gue
“Non Camelia?” panggil seorang pria paruh baya
Gue rasa gak asing dengan suara ini, gue berbalik dan melihat...
“Paman Jaeee” ucap gue sambil noleh ke Paman Jae.
“Paman, bantuin Camelia. Camelia ingin sekolah seperti anak anak yang lain Paman hiks... hiks” ucap gue.
“Sudah jangan nangis, saya pasti bantu kok. Sekarang ikut saya ngajak Bibi Min buat bantuin Nona Camelia. Terus, Non Camelia tinggal telfon saja Nyonya Jasmine.” Ucap Paman Jae.
Kami pun turun ke bawah untuk mengajak Bibi Min. Lalu gue buka HP dan videocall sama Mama juga Ayah.
“Tuan, Nyonya. Dengerin kami dulu yaa” ucap Paman Jae dengan lembut.
“Ooh Jae,apa kabar?” tanya Mama.
“Alhamdulillah kami semua sehat Nyonya.” Ucap Paman Jae.
Gue hanya diam dan mendengar ucapan Paman Jae.
“Tuan, Nyonya. Kami disini, ingin bicara tentang masalah sekolah Nona Camelia. Nona Camelia bolehkan belajar di tempat yang seharusnya?” ucap Paman Jae
“Enggak, Camelia harus home schooling saja.” Ucap Ayah.
“Tuan, Nona Camelia itu sudah besar. Dia harus tau dunia luar itu seperti apa. Sebaiknya Tuan jangan mengurung Nona Camelia seperti Rapunzel.” Ucap Paman Jae.
“Tapi Jae, Camelia tidak tahu apa apa tentang dunia luar, kalau ada apa apa bagaimana?” tanya Mama.
“Itu bisa diurus Nyonya, lagian Nona Camelia adalah gadis yang friendly sekaligus dingin. Jadi, Nona Camelia pasti bisa mengatasinya.” Jawab Bibi Min.
Mama dan Ayah tidak bisa menjawab lagi. Gue menatap Paman Jae dan Bibi Min yang tersenyum menang. Gue tahu mereka pasti banyak akalnya.
“Baiklah, kami akan memberikan izin kalian menyekolahkan Camelia, tapi ingat Camelia harus pulang tepat waktu, kalau pergi ke sekolah harus bawa mobil, tidak boleh makan sembarangan, tidak boleh pergi sendiri, tidak ***...” Ucapan Mana terpotong
“Ma, Camelia sudah gede. Camelia bisa kok jaga diri Camelia sendiri. Gak usah ada bodyguard juga. Mama percaya deh sama Camelia.” Ucap gue.
Mulut gue nyeplosnya hebat banget sudah! Batin gue.
“Oke oke yang penting Jae sama Min kalian jagain Camelia mengerti?” ucap Ayah
“Oke Tuan, nah Nona Camelia Anda siapkan barang barang yang perlu dibawa besok. Besok Nona Camelia sudah bisa sekolah.” Ucap Bibi Min.
“Iya Bi. Makasih Ayaaah, Mamaa. Camelia sayang kalian. Ya sudah Camelia matiin ya?”
“Iya, sana harus siap siap.” Ucap Ayah gue.
Gue pun pergi siap siap untuk keluar dari rumah istana ini. Dan melihat dunia luar
Yeeeeaaay dunia luar, i’m coming...