
Definisi bahagia itu banyak, tergantung orang yang merasakannya.
○•○
Ini hari kedua Camelia dan Vino akan belajar bersama Mr. Gafin dan mereka berharap pelajaran hari ini lebih menyenangkan dari kemarin. Dan semoga pelajaran hari ini tidak terlalu sulit untuk difahami.
Camelia menghampiri Paman Jae, Bibi Min, dan Vinodi ruang makan, dengan riang ia mengambil sarapannya sendiri.
Tanpa berkata, Camelia segera mengambil nasi dan lauknya. Dia memang tidak bisa sarapan tanpa nasi.
"Ini hari kedua Mel, gue harap pelajaran kali ini gampang dan pastinya seru. Nah, ayo kita makan." Ucap Vino.
"bien sûr c'est Vin." -tentu saja Vin.
Vino kemudian tersenyum dan menarik kursi disampingnya untuk Camelia.
"Bibi memasak omlet dan nasi goreng? Hm.... ini pasti sangat lezat." Kata Camelia.
Camelia menyendok sesuap nasi goreng kedalam mulutnya lalu mengunyahnya.
Bibi Min merasa senang karena Camelia menyukai masakannya, "Bibi juga sudah buatkan makan siang, Non. Nanti kalau Nona lapar, Nona tinggal memanaskannya saja. Hari ini saya dan Paman Jae akan keluar lagi. Takutnya mengganggu belajarnya Nona."
"Benarkah? Bibi sungguh mengerti aku." Ucap Camelia dengan mulut yang masih mengunyah makanan.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin agar Nona nyaman saat melakukan aktifitas." Kali ini bukan Bibi Min yang berbicara, tetapi Paman Jae.
"Hm... baiklah, terimakasih." Ucap Camelia menunjukkan senyum termanisnya.
"Hari ini kalian akan pulang sore?" Lanjutnya.
"Iya Nona. Tapi, jika Nona ingin kami segera kembali akan kami usahakan." Jelas Pak Jae.
"Ah.. tidak apa-apa, aku hanya bertanya Paman. Tidak usah terburu-buru. S'amuser Paman." Kata Camelia -S'amuser \= Have fun.
○•○
Mr. Gafin kini sudah berada di depan pintu rumah milik Camelia, ia sedikit ragu untuk memencet bel rumah itu.
"Mr. Gafin, kenapa Anda berada di luar? Silahkan masuk."
Paman Jae tanpa sengaja bertemu Gafin saat ia akan memanaskan mobil.
"Merci Paman."
Dengan enggan Gafin memasuki rumah tersebut dan berdiri di ruang tamu hingga Paman Jae masuk kembali kedalam.
"Anda bisa langsung masuk ke perpustakaan. Sebentar lagi Nona Camelia dan Den Vino akan menyusul."
Dengan langkah berat Gafin menaiki tangga menuju lantai atas dan berhenti di ruangan yang kemarin ia datangi, ia segera meletakkan tas dan buku-bukunya di atas meja.
Hingga akhirnya ada seseorang yang mengetuk pintu tersebut beberapa kali, Gafin meraih kenop pintu perpustakaan, dengan gerakan pelan ia dapat melihat Camelia dan Vino yang sudah berada di depan pintu membawa alat tulis dan buku mereka masing-masing.
Camelia dan Vino segera masuk ke perpustakaan dan meletakkan tas, alat tulis, dan bukunya di bangku mereka. Dengan reflex mereka menata semua barang-barang mereka hingga tertata rapi.
Tanpa sepengetahuan Camelia dan Vino, ternyata Gafin memperhatikan gerak-gerik yang dilakukan kedua muridnya tersebut.
'Wow... walaupun Camelia terlihat dingin, ternyata dia adalah orang yang suka kerapian. Vino juga kelihatannya seperti itu.' Ucap Gafin dalam hati.
Camelia dan Vino telah selesai menata barang-barang mereka. Bahkan mereka sampai lupa mengucapkan salam kepada guru mereka itu.
"Bonjour Mr. Gafin." Ucap Camelia dan Vino serempak.
"Bonjour."
15 menit berlalu, waktu kini menunjukkan pukul 9 dan ketiga orang berbeda umur itu sedang sibuk dengan buku mereka masing-masing.
Gafin mengambil buku paket yang bertuliskan Sejarah, ia membuka beberapa lembaran awal hingga akhirnya berhenti di bab pertama.
"Camelia, Vino. Buka buku Sejarah diatas mejamu, setelahnya kamu baca sampai halaman 5."
Gafin menatap Camelia yang ternyata asik dengan buku Sejarah tersebut. Gafin memajukan tubuhnya hingga ia sadar jika ia sudah berhadapan dengan Camelia. Terlihat Camelia hanya acuh, ia mungkin akan menerima resiko karena terlalu dekat dengan Camelia.
"Camelia, apa kau menyukai pelajaran Sejarah?"
Lagi-lagi Camelia mengacuhkan pertanyaan sang guru. Bahkan ia hanya melanjutkan membaca bukunya.
"Aku menyukainya."
Gumaman Camelia terdengar hingga ke telingan Gafin.
"Jika kau menyukainya, aku bisa memberikanmu beberapa buku Sejarah yang sudah tidak aku baca. Apa kau mau?"
Camelia hanya mengangguk tanpa berterimakasih pada Gafin, ia membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman melanjutkan bacaannya.
Camelia melanjutkan membacanya, membiarkan Gafin yang masih berada beberapa meter dihadapannya.
Gafin berjalan menuju kursinya dan mendudukkan tubuhnya, ia menyandarkan tubuhnya di kursi.
Gafin mengnengadahkan kepalanya, menatap langit-langit ruangan. Gafin terus mempertanyakan hal apa yang bisa membuat murid pribadinya ini agar tidak menatapnya dingin seolah-oleh membencinya, namun yang ia dapatkan hanyalah jawaban buntu.
Hingga beberapa menit kemudian, Gafin melanjutkan pelajaran dengan menjelaskan tentang Sejarah.
Tbc.