My Life Is Confusing

My Life Is Confusing
Biasa



Ketika kita tak lagi mampu mengubah sesuatu, itulah saat dimana kita ditantang untuk mengubah diri kita.


______________________________________________


Sekarang tinggal Camelia, Rizka, Nadin, Nathan, Marvel, dan Zaki karena Nayfa dan Feby ternyata ada panggilan perwakilan kelas.


"Yuk guys!" ucap Nadin.


"Yuk!" kata mereka ketika hendak menuju parkiran.


Tapi, tiba-tiba...


"He cabe!" Camelia memutar bola matanya malas ketika melihat orang tesebut.


"Oh... hai jal*ng!" kata Rizka pedas.


"Ck dasar jal*ng ngatain jal*ng" kata Diva menyeringai.


"Bukannya kita yang harus ngomong gitu ya?" ucap Nadin dengan senyum miring.


"MAKSUD LO APA?! HAH?!?!" bentak Diva.


"Lah kalo lo enggak merasa jal*ng harusnya lo enggak usah ngomel dong!" kata Nadin menyeringai.


PLAKKK


Terdengar 1 tamparan keras mengenai pipi kanan Nadin yang membuat pipinya menjadi merah.


Hal itu tentu saja membuat mereka terkejut, bukan hanya Camelia, Rizka, dan Nadin saja bahkan Zaki, Marvel, dan Nathan yang berada dibelakang mereka juga ikut terkejut.


"MAKSUD LO APA HAH?!?! NGAPAIN LO TAMPAR TEMEN GUE?!?!?!" Bentak Camelia emosi.


"Hahahah temen lo itu jal*ng jadi pantes buat digituin." kata Diva.


"HEH!!! LO NYEBUT TEMEN GUE JAL*NG, TERUS LO SENDIRI APA?! WANITA SEWAAN!" Bentak Rizka.


"Berani lo yah?" kata Diva sembari menjambak rambut Rizka tapi tangannya dicekal terlebih dahulu oleh Camelia.


Sebenernya daritadi Nathan ingin membantu Nadin. Apalagi saat ditampar, tak sengaja dia melihat gadis itu menahan air matanya untuk jatuh.


Tapi Marvel melarangnya, biarkan mereka melihat seperti apa kelanjutannya.


"Ohhh pembelaan terhadap teman? Uwuuu cocweet saking cocweetnya gue sampai pengen muntah." kata Diva sambil menirukan tampang ingin muntah.


Sebenarnya Nadin dan Rizka tidak takut dengan Diva, tapi percuma juga dia bac*t si Diva enggak bakalan pernah ngalah.


Tapi, habis sudah kesabaran Camelia.


Camelia menarik kerah seragam Diva dan mendorongnya membuat Diva menatap tembok dan meringis. Camelia menyeringai.


"Jal*ng inget tadi gue udah sabar ngehadepi lo tapi untuk selanjutnya kalo lo berani nyentuh temen-temen gue, walaupun cuma seujung kuku, gue bakaln balas lo sepuluh kali lipat. Inget itu!" ancam Camelia.


Setelah sukses membuat Diva bergidik ngeri, Camelia segera menarik tangan Rizka dan Nadin untuk pulang. Meskipun tadi pagi mereka berangkat bersama, kini Nadin dan Rizka sudah pulang duluan tanpa menunggu Camelia. Itupun karena Camelia sendirilah yang memintanya.


○•○


At 8:00 P.m


Ini waktu yang tepat untuk Camelia segera menyelesaikan semua PR-nya dibandingkan dia harus membuka ponselnya. Karena kejadian sepulang sekolah tadi, Camelia sama sekali tidak mempunyai mood untuk melakukan sesuatu. Bahkan dia saja baru selesai mandi setelah adzan Isya'.


"Non Camelia? Turun dulu non, makan malam." teriak Bibi Bell dari lantai bawah yang masih bisa didengar oleh Camelia.


"Iya Bi." Teriak Camelia lalu turun untuk makan malam.


"Hai Bibi Bell?" sapa Camelia seperti biasanya diiringi dengan senyumannya.


"Hai juga Non."


Makan malam kali ini terasa sepi karena malam ini Camelia harus makan sendiri sementara Bibi Bell terlihat sibuk dengan urusan dapur. Seperti biasanya tidak ada suara kecuali suara dentingan sendok, selesai makan Camelia pamit ke kamar untuk tidur.


"Bibi Bell? Camelia mau tidur dulu yah?"


"Iya Non, selamat malam." ucap Bibi Bell.


Camelia pun segera menaiki tangga menuju ke kamarnya. Sampai di kamarnya, dia mengeluarkan sepatu barunya yang dibelikan omnya di Inggris minggu kemarin, lalu Camelia tersenyum miring.


Besok gue pake sepatu ini ahhh mau pamer sama mak lampir wkwkwk -batin Camelia cengengesan dan segera tidur. Waktu Camelia tidur, dia tidak pernah mematikan lampunya karena dia takut gelap.


______________________________________________


Updatenya segini dulu okey 😉


Makasih buat like and commentnyaaa~


Thor makin semangat nih updatenyaa 😄