My Life Is Confusing

My Life Is Confusing
Videocall



Meskipun menyakitimu sesakit ini, aku tidak pernah menyesal! Karena aku sudah menyiapkan sakit itu dari awal!


○•○


Hari-hari berganti terlalu cepat, bulan silih berganti. Tak terasa kepulangan Tuan Erda, Nyonya Jasmine dan Aldo tidak lama lagi. Satu bulan lebih tepatnya. Itu berarti sebuah berita besar akan terjadi setelahnya.


Waktu-waktu seperti sekarang, Tuan Erda sudah mulai menyiapkan apapun yang dibutuhkan untuk putrinya kelak. Begitu pula dengan Nyonya Jasmine dan Sekretaris Jo.


"Ayah?" panggilnya.


"Kenapa hmm?" Tanya Tuan Erda.


Saat ini mereka tengah melakukan videocall, menikmati malam jum'at mereka.


"Ayah sama Mama habis urusan bisnisnya selesai langsung pulang ke Indo kan?" Tanya Camelia.


"Iya." balas Tuan Erda.


"Enggak ditunda dulu yah? ma?" tanya Camelia. Nyonya Jasmine menggeleng, sontak membuat Camelia mengerucutkan bibirnya.


"Semakin cepat kan semakin baik. Semakin cepet Ayah, Mama sama Aldo pulang. Semakin cepet kita bisa ngumpul lagi." balas Nyonya Jasmine.


"Iya juga sih. Tapi ma, Camelia belum siap dengerin wasiatnya Almarhum Kakek." kata Camelia.


"Itu kan wasiatnya Almarhum Kakek buat Camelia. Dan pastinya apa yang direncanakan almarhum kakek itu baik buat kamu." kata Tuan Erda.


"Kalau Camelia bisa menuhin semua wasiatnya Almarhum Kakek, apa Camelia bisa bahagia?" tanya Camelia.


"Bisa, itu sebabnya Almarhum Kakek udah buat rencana lewat wasiat itu. Biar nanti Camelia enggak salah jalan." balas Tuan Erda.


"Kalau kamu bisa menuhin wasiat Almarhum Kakek, bukan kamu aja yang bakalan bahagia. Almarhum Kakek, Uti, Ayah, Mama bahkan seluruh keluarga besar Purnama juga pasti bahagia." lanjutnya.


"Camelia bakalan menuhin wasiatnya Almarhum Kakek. Camelia janji." balasnya.


"Ayah sama Mama udah ada persiapan pulang?" tanya Camelia.


"Udah." balas Nyonya Jasmine.


"Ini udah mulai nyusun-nyusun barang." lanjutnya.


"Kan masih lama Ma?" kata Camelia.


"Satu bulan itu enggak lama sayang." balasnya.


"Hmmm Yah?" kata Camelia dengan nada manjanya.


"Kamu enggak buat masalahkan sewaktu Ayah sama Mama di Los Angeles?" tanya Tuan Erda.


"Emang Ayah tau sesuatu? Iya, Camelia emang buat masalah. Tapi itu kan juga bukan sepenuhnya salah Camelia. Kalo bukan situasi dan kondisi, Camelia enggak akan buat masalah. Ayah sama Mama percaya kan sama Camelia? Camelia mah kalo dihukum ya pasrah-pasrah ajakalau dipaksa." balas Camelia.


"Iya yah. Wa'alaikumussalam." ucap Camelia.


○•○


Pagi ini Camelia berangkat sekolah dengan Bintang teman sekelas sekaligus mantan pelariannya Camelia. Kenapa Bintang? Karena Bintang menawarkan jemputan untuk Camelia, itupun karena mamanya Bintang yang nyuruh. Berhubung karena Camelia sedang tidak ada mood untuk naik kendaraan sendiri. Akhirnya ia bilang ya-ya saja.


"Gimana keadaan lo? Udah sehat kan?" Tanya Bintang di perjalanan.


"Ya udah baikan sih sebenernya. Cuma ya gitu, kadang masih sensitif aja nih kulit kalo kena panas. Sebenernya enggak masalah sih, tapi ya gimana ya?" balas Camelia.


"Gue faham kok tentang itu." kata Bintang yang masih fokus sama ponselnya.


"Eh.. btw lo kok tau kalo gue sakit?" tanya Camelia.


"Ya kan gue paparazi" balas Bintang yang diakhiri dengan gelak tawa.


"Ada-ada lo, serius gue." kata Camelia.


"Gimana gue enggak tau cobak? Waktu KO-kulikuler tuh Pak Botak ngomongin lo." balas Bintang.


"Berarti yang sekelas udah tau dong? Kenapa Pak Hamidi ngomongin gue sih?" tanya Camelia.


"Nah itu karena lo anak kesayangannya." balas Bintang.


"Hah? Masak sih? Terus kenapa gue kok baru tau?" tanyanya lagi.


"Kalau urusan kenapa lo baru tau itu tergantung tingkat kepekaan lo aja. Kalau lo peka artinya lo sadar. Kalau lo enggak peka yaudah sih biarin. Toh lo juga keliatannya bodo amat." balas Bintang


Ah iyaaa, singkat ceritanya. Bintang udah bener-bener bisa move on dari Camelia. Kini dirinya sedang menjalin hubungan dengan teman seangkatan dari kelas lain. Walaupun dari kelas lain, mereka tetap dekat.


"Ya kalau itu mah gue juga tau Bin. Cuma gimana ya, kalau sekelas udah pada tau bukannya mereka nanti iri ya terus nanti pasti mereka bakalan jauhin gue. Iya kan? Gimana nanti kedepannya dong Bin. Seharusnya Pak Hamidi juga mikir." kata Camelia


"Jangan terlalu nganggep gampang masalah ini. Tapi jangan juga nganggep masalah ini terlalu berat buat lo. Sekarang gini aja deh Mel, lo lebih baik enggak usah mikirin temen-temen pada ngejauhin lo. Positif thinking aja, mungkin mereka iri sama lo tapi lo juga harus tetep friendly sama mereka." kata Bintang.


Camelia diam hingga mereka sampai di sekolah.


Tbc


○•○


Terima kasih buat para readers yang udah nyempatin baca 🙏


Terus ikuti kisah Camelia yaa~


Jangan lupa comment, like and rate ya guysss biar author semangat nulis ceritanya 😁