
**Aku mungkin akan menemukan pangeranku
Suatu hari nanti, tapi ayah akan selalu
Menjadi rajaku sampai kapanpun
○•○
>.< Happy reading** >.<
Pagi ini matahari bersinar sangat terang, membuat semua makhluk bangun dengan semangat. Tidak terkecuali Camelia. Hari ini adalah hari terakhir bersekolah di Empress JHS. Selain itu, dia juga sangat bersemangat karena kepergiannya bersamaan dengan keberangkatan kedua kakak sepupunya sehingga bisa dipastikan semua anggota keluarga Purnama akan datang.
Setelah selesai dengan kegiatannya berendam di bathup, Camelia segera bersiap siap memakai seragamnya. Dapat dipastikan dia akan sangat merindukan bersekolah ke Empress JHS.
Merasa sudah tidak ada yang tertinggal, Camelia segera berjalan turun untuk sarapan dengan keluarganya.
“Pagi semua!” sapa Camelia.
“Pagi kak.”
“sudah enggak ada yang ketingalan kan?” tanya Tuan Erda dan dibalas dengan anggukan oleh Camelia.
“Kalau begitu, nanti kopernya tinggal masuk ke bagasi doang. Nanti semua keluarga bakalan nganter kalian bertiga. Semoga kamu betah ya nak. Jangan lupa kabari.” Ucap Tuan Erda sembari memeluk Camelia.
“Iya ya, sudah. Nanti Camelia telat lagi!”
Sarapan kali ini berbeda dengan sarapan beberapa hari yang lalu. Sarapan kali ini diselingi canda tawa menutupi kesedihan mereka saat ini.
Ke sekolah, Camelia diantar oleh kedua orangtuanya beserta Aldo menggunakan mobil.
“Sekolah yang pinter!”
“Buat kesan yang baik!”
“Inget ini hari terakhir ssekolah!”
“Jangan buat masalah!”
Kurang lebih seperti itulah nasehat kedua orangtuanya kepada Camelia. Camelia merasa sangat beruntung memiliki mereka. Meskipun terkadang mereka sangat menyebalkan, Camelia tetap menyayangi mereka.
○•○
Karena hari ini adalah hari Selasa, jadwal pelajaran pertama Camelia adalah Bahasa Daerah. Salah satu mata pelajaran yang dibenci oleh Camelia. Selain karena pelajarannya sulit, guru mata pelajaran
Bahasa Daerah juga termasuk guru terkiller yang ditakuti oleh murid kelas 7 sampai kelas 9.
Sesampainya dia di depan ruang Bahasa Daerah, Camelia disambut oleh rentetan pertanyaan dari sahabat-sahabatnya. Siapa lagi jika bukan Cleo, Firya, Rina dan Azzarah.
“Mel, ngapain lo kok nggak masuk kemaren?” tanya Cleo.
“Tauk ihh.. gue kira lo telat. Eh, malah enggak dateng.” Kata Firya.
“woi, lo kenapa gak masuk?” Kali ini Rina menulang pertanyaan Cleo.
“Lo sakit Mel?” tanya Azzarah.
“Santuy guysss... Alhamdulillah gue sehat-sehat kok. Lagian yaahh, gue kemarin gak masuk itu gara-gara ada acara keluarga. Keluarga besar gue pada dateng.” Balas Camelia tidak berbohong.
Puas mendengar jawaban Camelia, kini mereka berlima bersiap menuju lapangan karena waktu imtaq pagi sebentar lagi akan dimulai. Hal ini tentu akan masuk dalam list hal yang dirindukan oleh Camelia. Pasalnya, dia masih tidak tahu dimana ia akan bersekolah.
Menurut Notaris yang mengurus surat wasiat itu, saat di bandara nanti akan ada seorang supir yang nantinya akan mengantar mereka menuju ke kediaman barunya.
Jangan ditanya Camelia sedang ngapain, yang pasti lagi ngadem di kantin sambil menyeruput es teh, surga dunia banget sudah.
Matanya tertuju ke arah lapangan saat kelas 8F tengah berolahraga, ntah ada angin apa Camelia tiba-tiba terpesona melihat Kak Galang tengah melakukan teknik bonce pass pada bola basket. Bahkan ia menghiraukan perkataan keempat sahabatnya.
Tiba tiba terlintas ide jail di otaknya mumpung dia masih sekolah disini, dia memesan 2 jus melon kepada pelayan untuk kepada Galang dkk, sebelum itu Camelia sempat mencampurnya dengan banyak garam sehingga minuman tersebut terasa hambar.
inget ya guysss, Hambar ya bukan ambyaaarr
Karena tindakan Camelia tersebut, teman-temannya sudah bisa menebak kejadian yang akan datang.
Mereka memilih untuk tetap diam membiarkan Camelia beraksi karena dilarangpun dia akan tetap melakukannya.
Camelia berjalan menuju pinggir lapangan dengan membawa tiga jus melon, lalu Camelia segera nyamperin Galang dkk yang tengah beristirahat di kursi pinggir lapangan.
“Hay kak?” sapa Camelia tersenyum sopan.
“Ngapain lo disini?” selidik Galang dengan mata memicing.
“Lo gak istirahat Mel?” sahut Aditya sembari mengibaskan tangan di udara.
“Gue lagi males istirahat, menu kantin begitu begitu doang.”
“Enggak bawa uang?” sahut Aditya.
“To the point.”
“Oh iya ini gue bawain minuman buat kalian.” Sambil menyodorkan masing-masing gelas kepada mereka.
“Tumben ini ada apa?” curiga Galang.
“Pikiran jelek mulu lo kak sama gue.” Cerca Camelia.
“Yaudah sih, tinggal minum saja. Lagian gue juga haus.” Cibir Aditya.
“Eh... gue cabut dulu ya? Ada urusan mendadak.” Cengir Camelia sembari ngacir dari sana keburu di gaplok sama Galang dkk.
“Makasih ya!” teriak Aditya seneng, orang belum merasakan.
Lalu mereka berdua pun meminum jus tersebut, dan diluar dugaan mereka pada muntah-muntah semua karena jus tersebut sangatlah asin.
“Anj*r, Camelia ngerjain kita!” umpat Aditya mengelap bibirnya yang basah.
“Dasar cewek gila! Beraninya ngerjain kita. Awas saja kalo ketemu!”
“Bgsd Camelia, gue haus bukannya nyembuhin malah tambah parah.” Kesal Aditya.
Mereka pada mengumpat ga jelas begitu, yaiyalah coba kalean di posisi mereka pasti ngedumel sendiri.
“Pokoknya kalau kita ketemu Camelia kita harus buat perhitungan sama tu bocah!” geram Aditya tak terima dengan ini semua.
“Gue ada ide.” Ucap Galang yang membuat Aditya mendekat.
“Ga usah deket deket anj*r bukan mukhrim!”
“Sesama spesies ga boleh begitu.”
“Cepetan apa ide lo sekarang?” Sahut Aditya sudah tak sabar.
“Bagaimana kalo kita nanti pas rapat OSIS nyindiri dia sekalian kita eva sampai benar benar sadar itu anak.”
“Wah sip setuju gue.”
“Yaudah kita tunggu bagaimana reaksinya nanti.”
Entah apakah rencana mereka berdua akan berhasil, tapi mereka berdua sudah membayangkan bagaimana raut wajah ketakutan Camelia.
Tbc.