
"Eh, Mel?" Panggil Vino.
"Hm?"
"Lo kok dingin banget sih tadi? Lo enggak suka ama Mr. Gafin?" Tanya Vino.
"Enggak, bukan gitu. Mr. Gafin emang seru sih orangnya, cuma status dia kan masih 'orang asing' makanya gue gak mau terlalu deket dulu." Jawab Camelia.
Vino yang mendengar jawaban Camelia hanya manggut-manggut paham. Walaupun dia masih bingung kenapa Camelia harus bersikap seperti itu.
"Ya udah, lo enggak laper apa? Gue pengen makan mie nih. Buatin gih?" Pinta Camelia.
"Iye siap Noona."
Beruntung, di rumahnya sekarang menyediakan mie instan. Sehingga mereka masih bisa memasak sendiri saat Bibi Min tidak ada.
"Kami pulang."
Camelia dan Vino yang mendengar teriakan Paman Jae buru-buru melepaskan apron dan berlari menghampiri Paman Jae dan Bibi Min yang sudah duduk di ruang tamu.
"Paman, Bibi, kalian sudah pulang?" Ucap Camelia
Kini mereka berempat duduk di ruang tamu. Untuk mie? Tentu saja Vino sudah mematikan kompornya.
"Non? Den? Gimana tadi belajarnya?" Tanya Paman Jae
"Lumayan." Balas Camelia.
Vino yang mendengar hal itu hanya mengernyitkan dahinya, "Menurutku sangat menyenangkan, Paman. Mr. Gafin sangat menyenangkan. Bahkan Vino aja selalu tertawa mendengarkan lelucon recehnya."
Camelia dan Vino menceritakan tentang pengalaman pertama mereka homeschooling di Prancis. Mereka terlihat sangat antusias menceritakan pelajaran Bahasa Prancis bersama Mr. Gafin.
Paman Jae dan Bibi Min yang terlihat kebingungan, hanya sesekali menanggapi sambil tersenyum dan tertawa mendengarkan Tuan dan Nona mudanya itu.
○•○
Sore ini Paman Jae dan Bibi Min mengajak Camelia juga Vino untuk berkeliling kota Paris. Karena kemarin malam Camelia dan Vino terlalu lelah, maka hari ini adalah waktu yang tepat untuk berjalan-jalan.
Mendengar hal itu, membuat Camelia sangat bersemangat. Dia memutuskan menggunakan dress berwarna merah jambunya. Cukup menggunakan heels dengan tinggi hanya 7 cm berwarna hitam membuatnya terlihat sangat manis. Tidak lupa dengan anting circle dan rambut yang dikucir seperti ekor kuda, membuatnya semakin sempurna.
Merasa sudah tidak ada yang ketinggalan, Camelia segera turun ke bawah. Vino yang melihat penampilan Camelia, hanya bisa tertegun. Satu kata yang dapat mendeskripsikan penampilan Camelia sekarang. 'Cantik.' Itulah yang ada difikiran Vino sekarang.
Terlihat Camelia yang semakin mendekat, membuat Vino tersadar dari lamunannya. Dia segera menyusul Paman Jae ke mobil.
○•○
Karena mereka berempat datang saat matahari mulai tenggelam, pemandangan di Musee du Louvre ini sangat indah. Bisa dibilang asthetic.
*Louvre atau Louvre Museum adalah museum terbesar di dunia dan monumen terkenal yang bersejarah di Paris, Perancis.
Bangunan ini terletak di tepi kanan Sungai Seine di arondisemen ke-1.
Museum ini bertempat di Istana Louvre, awalnya dibangun sebagai benteng saat akhir abad ke-12 di bawah pemerintahan Philip II.
Sisa-sisa benteng indah terlihat di ruang bawah tanah dari museum.
Bangunan ini diperpanjang berkali-kali untuk bentuk Istana Louvre hingga sekarang.
Jadi jangan lupa untuk mampir hanya sekedar berfoto ke Musee du Louvre yang sangat luar biasa ini*.
○•○
Camelia terlihat sangat senang sekarang. Terbukti dia sering mengeluarkan senyum termanisnya. Bahkan sesekali dia juga tertawa. Sangat berbeda waktu ada Mr. Gafin tadi.
Di sisi lain, Vino hanya bisa pasrah. Dia harus mengikuti Camelia kemana pun dia pergi. Bukan karena takut Camelia akan menghilang, tetapi sekarang dia berganti profesi sebagai fotografer Camelia. Hal ini karena ruang penyimpanan di ponsel Camelia sudah penuh sehingga ponsel miliknyalah yang menjadi korban.
Sejujurnya, Vino sama sekali tidak keberadan dengan itu. Dengan menjadi fotografer Camelia, membuatnya dapat menyimpan beberapa foto perempuan cantik itu. Hanya saja, Camelia adalah tipe orang cerewet. Blur sedikit saja, sudah membuat Vino kena amukan Camelia. Itulah yang dia tidak suka.
Sekarang sudah terkumpul lebih dari 170 foto Camelia dalam kurun waktu 1 jam 38 menit. Vino hanya tersenyum simpul saat melihat foto-foto Camelia. Tak sedikit pula, hanya foto-foto aib Camelia yang sengaja dia potret.
Saat Camelia sedang asik dengan suatu hal, maka dia akan fokus pada hal itu. Namun, Camelia tetap tidak melupakan kehadiran Vino, Paman Jae dan Bibi Min. Sekarang waktunya Camelia untuk mengajak ketiga orang itu untuk berfoto bersamanya. Banyak sekali momen yang mereka abadikan bersama. Camelia merasakan bahwa ia mendapatkan keluarga barunya disini.
○•○
Setelah puas berkeliling, kini mereka berempat memutuskan untuk makan malam. Kali ini mereka makan malam di salah satu restoran di sekitar Musee du Louvre. Mereka menyantap makanan mereka dengan lahap. Mungkin karena energi mereka terkuras habis setelah mengelilingi Musee du Louvre.
Sebelum mereka kembali pulang, Camelia tidak lupa membeli beberapa barang untuk hiasan maupun sekedar oleh-oleh.
Camelia membeli banyak sekali barang, bahkan sekarang dia merasakan tasnya sudah mulai berat. Tapi, dia juga sangat senang. Sudah lama dia tidak shopping tanpa ada yang menegurnya. Jadi, dia bisa sedikit boros untuk saat ini.
○•○
Karena hari juga sudah mulai larut, Paman Jae mengajak Bibi Min, Camelia dan Vino untuk segera pulang. Apalagi besok masih ada kelas Mr. Gafin untuk Camelia dan Vino. Tentu saja, Camelia sangat bersemangat untuk belajar. Dia ingin sekali cepat pulang dan bertemu orangtuanya. Juga Priya.
Ngomong-ngomong tentang Priya, Camelia sama sekali belum memberikan kabar untuknya. Mungkin Camelia melupakan bahwa Priya masih menunggu kabarnya.
Tbc.