
Ia sebenarnya ingin menjenguknya tetapi ia ragu jika sendiri, karena Nesya baru sekali bertemu dengan Deo dan yang kedua kalinya ia bertemu dengan Deo tapi sayang Deo tidak bisa melihatnya.
ka Nesya berfikir akan mengajak Aensley dan Zeyn, tapi ia sangat malu dengan Zeyn jika Zeyn mengejeknya.
"*Apa aku kesana sendiri"
"Tapi aku malu, dan malu"
"Emmm yaudah deh aku jenguk aja*"
Setelah berfikir sekitar sepuluh menit ia langsung mengganti baju dan akhirnya ia memtuskan untuk menelfon Zeyn lebih dulu.
Druttt... Druttt... Druttt
Handphone milik Zeyn berdering karena ka Nesya menelfonnya, Zeyn tidak mengangkatnya karena sedang bermanja manja dengan istrinya.
"Sayang angkat dulu, siapa tau penting" ujar Aensley
"Itu tidak penting sayang"
Aensley kesal, akhirnya ia melepaskan pelukannya dan mengambil handphone milik suaminya di nakas.
📞 *Zeyn
"Halo ka ada apa,?" tanya Aensley di telfon
"Emm Aensley apa Zeyn tidak ada,?" tanya balik ka Nesya
"Ada ka, sebentar*"
Aensley langsung memberikan handphonenya kepada Zeyn, lalu Zeyn duduk dan mulai berbicara.
"*Ada apa kakak ku, apakah kangen dengan adik tercinta,?" tanya Zeyn meledek
"Dih ogah banget gua kangen sama Lo"
"Terus kenapa nelfon hah" ketus Zeyn
"Santai woy santai, gua mau ngomong penting sama Lo" jawab ka nesya yang tak kalah ketusnya
"Yodah buru"
"Zeyn gua pengen jenguk temen Lo, tapi gua malu kalo sendiri, Lo mau nggak nemenin gua"
"Udah gedek berangkat aja sendiri, kemaren gua udah, gua gamau Aensley kenapa Napa" jawab Zeyn cepat
"Ya ampun, yaudah lah gua berangkat sendiri" ketus ka Nesya, lalu mematikan ponselnya*
Setelah ka Nesya mematikan ponselnya Zeyn senyum senyum sendiri dan melempar handphonenya ke kasur.
"Kamu kenapa sayang,?" tanya Aensley bingung
"Nesya mau jenguk Deo" kata Zeyn
"Sama kakak gada sopan santunnya ya, dasar adek gada akhlak" ketus Aensley
"Loh ko marahin aku si sayang" Zeyn bingung
"Ya kamu sama yang lebih tua itu manggilnya kakak bukan nama doang, nanti kalo anak kita ngikutin kamu gimana coba, kalo nanti dia udah gedek dia masih kesel sama kamu manggilnya bukan papa malah zeynnn, Zeyn" kata Aensley panjang lebar
"Hehe iya iya maafin aku" kata Zeyn lalu memeluk Aensley
"Sayang jangan tiru keburukan papa ya" ujar Zeyn pada baby nya yang ada di dalam perut
***
Ka Nesya sudah berangkat di antar oleh supir, karena orangtuanya tidak mengizinkan Nesya mengendarai mobil di malam hari sendiri.
Ka Nesya sudah membawakan buah ada buah apel, buah Pear, buah jeruk dan lain lain yang sudah di parsel.
Akhirnya ka Nesya sampai di Rumah Sakit, lalu ia berjalan santai, ia bingung harus bagaimana nanti di dalam.
Ka Nesya sudah sampai di depan pintu, saat ia akan membuka pintu, bunda Deo sudah membukanya lebih dulu.
"Loh ini kakaknya Zeyn kan,?" kata bunda Deo memastikan
"Hehe iya Tante" jawab ka Nesya malu malu
"Jangan malu Nesya, gaboleh" gumam ka Nesya
"Ayok sayang masuk" ajak bunda Deo
Ka Nesya mengikuti bunda Deo, lalu duduk di sofa dekat dengan ranjang Zeyn.
"Ko udah tidur si, kenapa pucet banget si, makin kurus lagi" gumam ka Nesya yang menatap Deo bingung, kenapa berubah
"Sayang terimakasih sudah mau menjenguk Deo, maaf ya Deo belum bisa berterimakasih padamu langsung, karena Deo koma" jelas bunda Deo membuat ka Nesya tercengang menatap bunda Deo
"K_oma" ucap ka Nesya gelagapan
"Iya sayang" jawab bunda Deo dengan senyum palsunya
"Ya ampun separah itukah, lekas membaik Deo" kata ka Nesya dalam hati
"Sabar ya Tante, nanti Deo bangun lagi ko" kata ka Nesya menguatkan bunda Deo
Sepertinya bunda Deo sangat menyukai ka Nesya, sampai bunda Deo menitipkan Deo pada Nesya, karena bunda Deo akan keluar membeli makanan, tetapi itu bohong karena bunda Deo ingin Nesya lebih dekat dengan anak semata wayangnya walaupun dengan keadaan koma.
Bunda Deo meninggalkan ruangan, hanya tinggal dua orang di ruangan itu, nampaknya Deo tahu bahwa ada ka Nesya sedang ada di situ.
Setelah bunda Deo meninggalkannya, ka Nesya menghampiri Deo yang sedang berbaring tanpa ada gerakan.
Ka Nesya memegang telapak tangan Deo dengan gemetar.
"Deo lekas membaik ya"
"Tidak usah berterimakasih padaku"
Mata Deo lagi lagi mengeluarkan air mata, membuat ka Nesya panik dan takut.
Ka Nesya langsung melepas tangannya yang memegang tangan Deo, ia keluar mencari bundanya tapi ia tidak menemukannya, padahal bunda Deo hanya menyewa kamar sebelah untuk istirahat dan melihat mereka melalui Cctv.
Ka Nesya akhirnya kembali ke kamar Deo, lalu memanggil Dokter dengan telpon yang ada di ruangan Deo.
Dokter datang dan memberitahu jika hal seperti ini adakah hal yang wajar, karena pasien bisa merasakannya.
Dokter pergi dan ka Nesya sangat tenang
Ka nesya duduk di sebelah Deo, lalu menatapnya dalam dalam.
"*Jika kau bukan sahabat adik ku, aku ingin menjadi pacarmu" kata ka Nesya dalam hati
"Tapi sayangnya kau sahabat adik ku, jika aku menjadi pacarmu pasti dia akan menertawakan ku*"
Pintu terbuka ka Nesya kaget ia langsung berdiri dan mengadu kepada bunda Deo.
"Tante tadi Deo menangis" ujarnya seperti anak kecil yang mengadu kepada mamanya
"Itu sudah biasa sayang"
"Emangnya tadi Nesya bilang apa sama Deo,?" tanya bunda Deo
Akhirnya ka Nesya menjelaskan ia mengatakan apa kepada Zeyn, lalu ayah Deo datang dan duduk di sebelah istrinya.
"Halo om, saya Nesya, kakaknya Zeyn" kata ka Nesya memperkenalkan diri dan bersalaman
"Oh iya, saya ayahnya Deo, ayo dimakan makanannya" kata ayah Deo
"Di keadaan ini om masih terlihat santai, dan menawarkan saya untuk makan, saya tidak tega dengan anak om"
"Maaf Tante, Om Nesya pamit dulu" kata ka Nesya
"Iya sayang, terimakasih sudah mau Menjenguk anak Tante" kata bunda Deo lalu memeluk Nesya
"Iay Tante sama sama, lusa Nesya akan kesini lagi" ucapnya
"Hah gua ngomong apasi, nanti dikira gua cinta lagi, tapi emng iya hehehe"
Ka Nesya sudah sampai rumah, ia merebahkan tubuhnya, lalu memikirkan Deo lagi.
Tak butuh waktu lama untuk memikirkannya, ia menyudahi fikirannya yang kemana mana dan langsung ia masuk ke kamar mandi untuk gosok gigi dan mengganti baju tidur.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai, jangan lupa like, Vote, Faforitkan dan bintang limanya 👌😗