MONA

MONA
Amarahnya Siska



********


(Keesokan harinya di kota)


Mona pun sudah mulai bangkit dengan keterpurukannya dengan menyibukkan dirinya untuk berkerja di puskesmas tersebut. Dokter Dina pun ikut senang dengan Mona yang rajin bekerja. Mona juga terkadang membantu memapah pasien kakek tua yang berobat di sana.


*********


Sementara itu Siska pun sampai di rumah Kemal.


"Sebel...sebel." ujar Siska yang datang marah marah.


"Kamu kenapa sih? Datang datang marah gitu! Bukannya peluk dan cium aku." Balas Kemal genit.


"Ish udah deh! Aku itu lagi gak mood mesra mesraan! Aku tuh kesal sama kamu tau nggak?" Ujar Siska kesal.


"Kesal kenapa sih? Bukannya kamu senang Mona sudah tidak suci lagi?" Balas Kemal.


"Iya aku senang! Cuma penduduk kampung nggak percaya sama aku karena aku nggak punya bukti! Lagian kenapa kamu nggak jual aja sih dia ke tempat hiburan." Balas Siska.


"Aku nggak nyangka kamu sebenci itu sama dia? Lagian Aku sama Andre itu cuma mau senang senang aja sama dia." Ucap Kemal.


"Apa? Jadi kamu juga ikutan? Kata kamu Andre doang!" Ucap Siska marah.


"Ya namanya juga laki laki sayang.. lagian kamu di kampung jadi ya aku ikutan aja.. yang penting kan di hati aku cuma kamu sayang!" Balas Kemal.


"Udahlah, sekarang kita cari dimana Mona! Karena si Mona nggak kembali ke kampung!" Ujar Siska.


Siska yang sangat kesal dengan Mona berusaha untuk mencari Mona sampai ketemu.


Sudah seminggu mencari Mona tidak juga ketemu, Siska pun semakin kesal.


"Sebenarnya kemana sih itu cewek kampung? Udah seminggu belum juga ketemu." Ujar Siska.


"Ya mana aku tau sayang! Udah mati kali dia." Balas Kemal.


"Aku juga berharap begitu... Cuma selama mayat dia masih belum ada berarti dia masih hidup.." ujar Siska.


"Udahlah, nanti juga pasti ketemu. Lagian dia mau kemana, si Andre juga ikut nyari si Mona." Balas Kemal.


"Dia ikut nyari juga.. baguslah! Pokoknya si kampungan itu harus ketemu." Ujar Siska.


*******


"Nak, saya lihat kamu tidak pernah keluar atau jalan jalan.. kamu nggak bosan?" Tanya dokter Dina.


"Ndak Bu, saya ndak bosan di sini.. lagian saya masih takut keluar." Jawab Mona.


"Jadi begitu! Saya paham kamu masih trauma! Cuma kamu harus bangkit dari keterpurukan kamu. Kenapa kamu tidak laporkan polisi saja?" Ujar dokter Dina.


"Saya ndak paham Bu bagaimana lapor polisi." Balas Mona.


"Ya sudah, saya harap kamu bahagia ya.." ucap dokter Dina senyum.


Mona masih belum bisa bahagia kalau belum ketemu orang tuanya. Melihat Mona yang masih murung lalu dokter Dina bertanya lagi.


"Kok masih murung.. kenapa nak?" Tanya dokter Dina.


"Saya bingung Bu, gimana ya caranya saya beritahu orang tua saya kalau saya baik baik saja." Jawab Mona murung.


"Apa di kampung kamu ada telpon?" Tanya dokter Dina lagi.


"Di kampung yang punya telpon cuma pak kades Bu, saya juga tidak tau nomor telponnya berapa." Ujar Mona.


"Kalau begitu kenapa tidak kirim surat saja. Kamu tau kan alamat lengkap rumah kamu di kampung." Ujar dokter Dina.


"Oh iya ya, cuma saya tidak tau cara mengirimkan surat nya Bu." Balas Mona.


"Kamu tenang aja, nanti saya bantu kok." Balas dokter Dina lagi.


Mona pun sedikit lega karena akhirnya dia bisa kasih kabar ke orangtuanya. Sewaktu Mona mau memasukkan surat ke amplop dokter Dina datang dan memberikan Mona sedikit uang.


"Ndak usah Bu, saya kan baru seminggu bekerja." Ujar Mona sungkan.


"Nggak apa, ini jumlahnya nggak banyak kok. Anggap saja kamu di gaji per Minggu." Balas dokter Dina.


"Terima kasih banyak ya Bu.. maaf kalau saya selalu merepotkan." Ujar Mona.


"Tidak kok.. kamu kan bekerja di sini." Balas dokter Dina lagi.


Lalu dokter Dina pun pergi untuk menangani pasien, sementara Mona sedikit tersenyum bahagia dia bisa mengirim sedikit uang untuk orang tuanya.