MONA

MONA
30. Percikan Api



Mona melarikan mobilnya seperti kesetanan, darahnya terasa menggelegak, dadanya panas terbakar.


Sungguh, tak ia sangka, jika Tari perempuan kurus pucat menyedihkan itu, yang ia semula mengasihani dan hampir saja memintanya dengan baik-baik hari ini untuk jadi saudara supaya bisa menyayangi Shanum sama-sama ternyata hanyalah perempuan egois yang memikirkan laki-laki saja.


Apa dia bilang?


Pelakor?


Apa dia waras? Aku bahkan sudah langsung tak peduli dengan Raditya sejak tahu dia masih bersama Tari satu rumah.


Sejak awal pun, sudah jelas aku hanya membutuhkan obat herbal saja yang di jual Raditya, dan perasaan yang kemudian tumbuh pun adalah karena harapan yang ingin punya sebuah keluarga lagi dengan Shanum yang ada di dalamnya sebagai anak. Batin Mona benar-benar geram.


Mona memacu mobilnya lagi lebih cepat.


Andai tadi teman Raditya tak tepat waktu ke rumah Raditya, andai tetangga Raditya dan juga Uwaknya tak tepat waktu juga keluar dari rumah mereka, andai tadi Shanum tak memanggil Ibu sambil menangis, pasti sudah Mona seret Tari sampai jalan raya dengan menjambaknya.


Pelakor...


Dia pikir aku perempuan macam apa? Jika minat jadi pelakor tentu yang aku dekati adalah laki-laki yang punya kedudukan dan uang.


Laki-laki yang akan dengan senang hati membayarkan cicilan apartemennya dan mobilnya, yang akan membayarkan tagihan kartu kreditnya, yang akan membayarkan obat herbalnya.


Dasar bodoh!


Dasar perempuan yang hanya tahunya nonton sinetron dan bukannya kreatif malah hanya sibuk bergunjing.


Mona panas luar biasa, mengingat semua pembicaraan perempuan-perempuan itu sungguh membuat Mona ingin mengamuk sampai lega.


Mobil meluncur dengan cepat, hingga akhirnya masuk ke dalam kawasan parkir apartemen, Mona memarkirkan mobilnya dan segera turun.


Ia harus segera minum, ia benar-benar harus segera minum air putih agar bisa lebih tenang.


Mona masuk gedung apartemennya, tak begitu ia hiraukan bagaimana satpam menyapa dengan ramah. Ini jelas tak biasa untuk Mona, yang biasanya begitu ramah pada orang lain.


Mona berjalan cepat menuju lift, naik ke lantai di mana ia tinggal, lalu terburu menuju ke unit apartemennya.


Hp di tas kecilnya terus berdering, seolah berusaha memaksa Mona mengangkatnya. Mona tak usah melihat pun sudah tahu itu pasti Raditya.


Ya, pasti temannya sudah cerita padanya, atau bisa juga tetangganya, bisa juga Uwaknya, atau bahkan perempuan gila itu. Mona kesal bukan main.


Apa dia bilang, dia lebih cantik, sementara aku yang tidak cantik dan mandul, yang kelebihanku hanya punya uang jadi lebih baik dimanfaatkan saja setelah itu ditinggalkan?


Mona membuka kunci unit apartemennya dengan tangan gemetaran karena terlalu dikuasai emosi, hingga kemudian pintu itu bisa dibuka, Mona segera menerobos masuk ke dalam dan langsung menuju kulkas.


Dibukanya kulkas dua pintu itu dan segera diambilnya satu botol air putih dingin dan segera meneguknya tanpa memakai gelas.


Hampir satu botol air itu habis semua, Mona baru merasa lebih baik, meskipun akhirnya saking kesalnya ia menangis.


Mona terduduk di lantai dapur, bersandar pada kulkas sambil menelungkupkan wajahnya di atas lututnya yang ditekuk.


Kenapa hidup ini begitu mempermainkanku? Kenapa? Kanapaaaaa?!


Batin Mona menjerit.


**----------**


"Tidak mungkin Mona bersikap sekasar itu jika tanpa sebab, bahkan saat tahu aku membohonginya saja ia tak melakukan apapun padaku."


Kata Raditya tak percaya begitu saja dengan apa yang barusan ia dengar dari Tari.


Raditya yang segera pulang begitu ditelfon Wawan yang memberitahu jika Mona nyaris mengamuk di rumahnya memang langsung bertanya pada Tari apa yang terjadi sebetulnya.


Tapi...


"Nyatanya dia memukul dan menjambakku."


Kata Tari sambil masih mengompres pipinya dengan saputangan basah.


"Kau pasti memancing emosinya."


Ujar Raditya menatap kasihan Tari yang wajahnya lebam dipukul Mona.


Meskipun Raditya juga masih heran kenapa Mona yang biasanya lembut dan elegan bisa mengamuk seperti itu.


"Aku tidak bicara apapun, aku bahkan bilang terimakasih karena sudah merawat dan mengantar Shanum pulang. Selebihnya aku hanya bilang mulai sekarang dia kalau mau beli obat langsung ke Uwak saja, karena Ayah Shanum sudah bekerja, eh dia marah tidak jelas, tahu-tahu aku dipukul begini, mungkin karena dia kesal karena tak bisa lagi bertemu dengan mu, ya kan..."


Tari menatap Raditya yang menggeleng,


Raditya tetap tak bisa percaya.


Raditya lantas mencoba menghubungi Mona lagi, ia ingin jelas mendengar dari dua belah pihak, karena jelas tadi Wawan cerita sepertinya Mona tersulut kata-kata tak enak dari Tari dan teman-temannya.


"Siapa tadi teman-temanmu yang datang?"


Tanya Raditya.


Tari menggeleng,


"Tidak ada."


Bohongnya.


"Semua orang melihat kamu bersama dua temanmu, tidak usah bohong!"


Kata Raditya jadi malah emosi karena Tari seperti berusaha menutupi sesuatu.


Raditya menatap tajam Tari sambil ia tetap berusaha menelfon Mona.


"Ya, tadi ada Neti dan Amel, mereka cuma main sekalian ngajak ikut arisan saja, aku ikut dua sebulan lima puluh ribu jadi nanti bayarnya seratus ribu, dapatnya dua juta..."


"Darimana mau bayar kamu? Setoran mingguan saja masih banyak, belum lagi kriditan baju kamu yang dulu juga di Bu Eki harusnya dilunasi, belum warung, mereka bilang hutangmu sudah hampir satu juta tiga ratusan, padahal anak-anak kadang tidak makan karena tidak ada beras, kamu hutang cuma buat beli jajan, mana kenyang anakmu."


Raditya benar-benar tak habis pikir dengan cara isterinya mengatur keuangan keluarga.


Sudah rumah peninggalan orangtuanya yang mereka tempati saat ini juga tidak pernah dapat perawatan, anak-anak juga kurang terurus, hutang menumpuk juga entah untuk apa.


Raditya melihat layar hp nya, sudah dua puluh satu panggilannya pada Mona tak juga dijawab, khawatir Mona kenapa-kenapa, akhirnya Raditya menelfon Wawan.


"Di mana Wan?"


Tanya Raditya.


"Aku baru dari masjid, mau makan nih."


Kata Wawan.


"Aku pinjam motormu ya."


Raditya berdiri dan bersiap keluar, Tari panik dan cepat ikut berdiri.


"Mau ke mana?"


Tanya Tari pada Raditya yang bersiap memakai sepatunya.


"Ke tempat Mona."


Sahut Raditya menjawab pertanyaan Tari.


"Aku ke rumahmu Wan."


Kata Raditya yang kali ini pada Wawan.


"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa kamu pergi saat aku begini?"


Tanya Tari heran.


Raditya menghela nafas seraya memasukkan hp nya ke saku jaket.


"Kamu masih bisa bicara dan jalan kaki, beda dengan Mona, jika sakit ia tidak bisa apa-apa."


Setelah itu Raditya langsung pergi dari rumah,


"Kamu lebih memilih dia? Kamu lebih mementingkan dia?! Baiklah, aku akan pulang saja dengan anak-anak ke rumah Orangtua."


Ancam Tari, membuat langkah Raditya berhenti.


Raditya menoleh pada Tari, lalu...


"Tetap di rumah, aku benar-benar tidak mau mengucap talak satu kali lagi!"


Tegas Raditya, membuat Tari kalah dan hanya bisa memalingkan wajah.


**------------**