MONA

MONA
35. Bingung



Raditya berjalan gontai menuju rumahnya, didorongnya pintu rumahnya yang tak dikunci.


Rumah tampak sepi, Raditya menuju kamar anak-anaknya yang terlihat keduanya kini tertidur pulas.


Entah apa yang terjadi pada mereka tadi, yang jelas keduanya tidur sambil berpelukan di atas kasur kapuk lepek yang digelar di atas lantai.


Raditya masuk ke dalam kamar anak-anaknya, air matanya berlinang menatap Shanum dan Azka.


Nafas mereka yang turun naik, wajah mereka yang polos, tubuh mereka yang kecil.


Raditya mengambil kain yang tergeletak di atas kasur, diselimutkannya kain itu pada tubuh kedua anaknya.


Sungguh, Raditya sesungguhnya melakukan segalanya hanyalah karena ingin mereka bahagia.


Raditya sesenggukan meskipun ia berusaha sekuat tenaga menahan diri agar suaranya tak sampai didengar Shanum dan Azka yang tertidur.


Setelah menyelimuti anak-anaknya, Raditya kemudian menuju kamarnya bersama Tari.


Disingkapnya tirai kamar yang entah sudah berapa lama tak dicuci itu.


Langkah Raditya terhenti di pintu, menatap Tari yang terlihat tertidur juga.


Meski begitu, Raditya masih bisa melihat wajah Tari yang basah oleh air mata.


Setelah sekian menit mematung, Raditya pun akhirnya membawa langkahnya mendekati Tari, belum lagi Raditya sampai di sisi tempat tidur, Tari tiba-tiba terbangun.


Tari yang melihat Raditya datang, tampak langsung bangkit dari posisinya berbaring.


"Kamu pulang."


Lirih Tari, seolah tak menyangka suaminya akan pulang malam ini.


Tari sudah membayangkan jika suaminya malam ini akan tidur dengan Mona, menghabiskan malam dengan Mona, memanjakan Mona agar tak marah lagi, merayu Mona agar mau mendengarkannya lagi.


Tapi...


Ternyata...


Tari menatap nanar Raditya yang kini terduduk lemas di atas lantai dan menyandarkan tubuhnya di dinding.


"Ke... Kenapa?"


Tanya Tari menatap Raditya yang terlihat seperti orang linglung.


Raditya menghela nafasnya, energinya kini sudah benar-benar habis, marahpun rasanya ia sudah tak ada tenaga.


"Kenapa kamu membuat Mona marah?"


Tanya Raditya.


Tari mengerutkan kening.


"Aku? Apa yang dia katakan? Dia menjelek-jelekkan aku?"


Tari malah belum apa-apa sudah emosi.


"Dengarkan dulu pertanyaanku dan jawab dengan jujur!"


Kata Raditya masih berusaha menahan diri agar amarahnya tidak lebih dulu meledak.


Kedua mata Tari kini tampak mulai meremang,


"Kamu pasti termakan omongan Mona, sudah jelas kamu pulang hanya untuk marah-marah padaku, ya kan?!"


Raditya mendengar Tari bicara dengan suara tinggi melebihi dirinya jadi seperti tersulut,


"Kamu pikir apa yang sudah kamu lakukan pada Mona?! Kamu pikir ini main-main, hah?!!!"


Raditya akhirnya tak tahan lagi.


"Menurutmu apa yang Mona tuntut dari kita sekarang gara-gara ulahmu yang jahat dan kampungan itu hah?!!"


Raditya mendelik ke arah Tari.


"Apa? Apa maunya?!"


Raditya menggelengkan kepalanya.


"Kau kerasukan setan apa sebetulnya? Bagaimana bisa kamu jadi sesombong ini hah?!"


Raditya sungguh kesal bukan main.


"Mengatai Mona mandul, mengatai aku mendekatinya hanya karena uangnya saja, mengatai Mona pelakor, bahkan dengan seenaknya kamu menyindirnya untuk bayar berondong saja daripada ganggu suami orang."


"Nyatanya begitu bukan? Dia janda yang ditinggal suami karena dia mandul. Apa yang diharapkan janda punya uang dari laki-laki sepertimu selain kehangatan di tempat tidur?!"


Plak!!


Akhirnya Raditya tak kuasa menahan tangannya untuk menampar Tari lagi.


Berbeda dari sebelumnya, Tari begitu ditampar Raditya malah semakin histeris dan menggila.


"Tinggalkan dia! Biarkan dia cari laki-laki brondong atau laki-laki bayaran lain!!"


"Tari!! Diam!!"


"Apa!! Apaaaa!!"


Plak!!


Raditya akhirnya menampar Tari lagi, yang kali ini tampaknya tamparan Raditya jauh lebih keras dari yang pertama.


Tari langsung diam dan menangis tersedu-sedu, ia menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur, dan menangis di sana.


"Mona tak serendah yang kau tuduhkan, aku tak tahu darimana otak kotormu itu berasal, tapi yang jelas kau harusnya menyesal menuduh seorang perempuan baik-baik seperti itu."


Kata Raditya.


"Perempuan baik-baik apa yang mau dekat dengan suami orang."


Tari masih berusaha menyahuti kata-kata Raditya dari posisinya menangis di atas kasur.


"Mona menyuruh kita menyerahkan diri pada polisi karena penipuan,"


Tandas Raditya.


Mendengar itu Tari menoleh ke arah Raditya.


"Kenapa begitu? Apa maksudnya?"


Tanya Tari.


"Mona menganggap kita bersekongkol melakukan penipuan untuk mengambil keuntungan yang dinikmati kita, jika kita tidak menyerahkan diri, maka dia yang akan menyeret kita."


"Itu tidak mungkin, itu..."


"Semua karena kecerobohanmu, cemburu membuatmu asal menuduh orang. Aku tak pernah satu kalipun tidur dengan Mona, dia tak pernah meminta hal itu dariku."


Kata Raditya.


"Dia itu sakit, dia juga bercerai dialah yang menuntut cerai, bukan dia ditinggalkan. Dia memilih cerai agar suaminya bisa menikah lagi, dan dia lepas dari rasa tertekan karena sakit yang ia derita dan tuntutan untuk punya anak dari mertua."


Tari diam, kali ini ia tak tahu harus menjawab apa,


"Yang kau lakukan sudah terlalu jauh Ri, kau merusak hubungan baik yang sebetulnya Mona inginkan terjalin denganmu sebagai saudara. Ia sangat sayang pada Shanum, ia peduli pada Shanum, hanya pada Shanum."


Tari lantas pelahan tampak duduk, ditatapnya Raditya dengan tatapan matanya yang nanar.


"Kamu pasti tidak tahu, aku datang malam ini disuruh duduk pun tidak, dia memang sama sekali tak peduli padaku, dia hanya peduli pada Shanum, tapi apa yang kamu lakukan padanya kini harus kita terima konsekwensinya."


Tari tubuhnya gemetaran,


"Kamu membangunkan harimau lapar yang sedang tidur. Apa yang akan kamu lakukan sekarang hah? Apa yang akan kamu lakukan untuk mempertanggung jawabkan semuanya?!!"


Tari terisak, ia bingung harus menjawab apa, hatinya sakit, dadanya sesak, ia marah dengan keadaan yang seolah tak pernah berpihak padanya.


**---------------**