MONA

MONA
41. Tak Mengerti



Mona akhirnya sampai di apartemennya, pikirannya kini ruwet seperti benang kusut.


Ternyata, berani sekali Raditya dan Tari main-main dengannya.


Mona berjalan ke dapur, ke arah kulkas dan mengambil satu orange jus dalam kemasan.


Dibukanya kemasan itu dan segera ia teguk hingga habis.


Segar dari orange jus yang ia minum sejenak mampu membuatnya lebih tenang, ia lalu balik berjalan ke ruang TV, duduk di sofa setelah ia melepas sepatunya asal saja, melempar tasnya ke atas sofa begitu saja.


Mona berusaha berpikir, apa yang harus ia lakukan sekarang, ia tidak mau begitu saja melepaskan mereka.


Mereka harus merasakan sakit yang sama, mereka harus mendapatkan ganjaran atas apa yang mereka lakukan.


Apa yang dikatakan Raditya padanya dulu harus menjadi kenyataan.


Tidak!


Kali ini tidak.


Kali ini Mona tidak bisa memaafkan begitu saja.


Kali ini ia ingin Raditya dan Tari sungguh-sungguh mendapatkan efek jera.


Mona kemudian terpikir akun media sosial Raditya, ia akan lihat siapa saja yang merupakan teman dekatnya yang banyak berkomentar di akunnya.


Mona segera mengambil hp nya, dibukanya akun media sosialnya.


Mona kemudian ingat, jika ia sudah memblokir akun Raditya.


Mona membuka blokir akun Raditya, dicarinya satu persatu setiap nama yang sering muncul dan berinteraksi dengan Raditya saat masih aktif di media sosial.


Setelah ia mendapatkan beberapa nama, ia mencatatnya dengan rapi, mana yang paling memungkinkan untuk bisa memberikan informasi tentang Raditya secara akurat.


Setelah satu persatu nama ia kantongi, lalu ia pantau di dalam akun media sosialnya ada apa saja, dan seberapa besar kemungkinan tempat tinggal mereka itu dekat.


Intinya Mona ingin semua Informasi tentang Raditya yang kini menghilang akan bisa ia dapatkan.


Di mana ia tinggal, di mana ia bekerja, dan Mona jelas akan melakukan sesuatu untuk itu.


Mona juga akan mencari tahu di mana Shanum sekolah.


Hingga hari tanpa terasa telah gelap di luar sana, Mona beranjak dari duduknya, melangkah mendekati kaca jendela ruang apartemen untuk melihat pemandangan di mana kini tampak banyak kerlip lampu bangunan yang berdiri di sekitar apartemen ia tinggal.


Hanya dalam kegelapan kita bisa melihat indahnya kerlip lampu, indahnya cahaya bulan, indahnya sinar bintang, tapi...


Mona menatap langit yang gelap,


Ia tampak menghela nafas karena dadanya terasa sesak.


Entah kebodohan apa yang membawanya pada mimpi buruk hingga dua kali dalam hidup.


Entah kebodohan apa yang membuatnya menjadi seperti terjebak pada takdir yang akhirnya lagi-lagi bertemu dengan orang yang tak mampu menghargai dirinya apa adanya.


Padahal, selama ini, seingat Mona, ia tak pernah menyalahi siapapun, tak pernah mencoba memanfaatkan kebaikan siapapun.


Mona selalu berusaha baik pada orang lain karena ia juga ingin mendapatkan kebaikan dari Tuhan.


Tapi...


Kenapa?


Kenapa ia bertemu orang-orang yang tak memiliki keinginan yang sama dengannya?


Kenapa ia bertemu dengan orang-orang yang yang tega dan jahat padanya?


Kenapa ia harus bertemu dengan orang-orang yang sama sekali tak mampu menghargai niat baik orang lain dan malah justru menyalahinya?


Dan parahnya, kenapa harus Mona? Kenapa harus Mona yang sedang hancur berkeping-keping?


Kenapa di saat Mona yang untuk mengobati luka jiwanya sendiri saja sedang sulit?


Kenapa?


Mona dadanya terasa begitu sakit.


Sakit.


Sakit sekali.


**-------------**