
"Jadi kamu diajak makan burger yang gede banget itu Num?"
Tanya salah satu teman Shanum.
Mereka tampak duduk melingkar di teras rumah Shanum sambil main rumah-rumahan dari kertas.
Shanum mengangguk.
"Iya, burger, kentang, ayam goreng, soda. Terus, diajak belanja baju, tas, dan banyaaaaak lainnya."
Cerita Shanum bangga.
"Waaah baik sekali Ibu Mona."
Puji teman-teman Shanum.
Tampak Shanum mantuk-mantuk.
"Ibu Mona tinggal di mana sih Num?"
Tanya teman Shanum lagi.
"Ibu Mona tinggal di gedung tinggiiii sekali, apa namanya?"
Shanum mencoba mengingat-ingat.
"Apar men."
Sahut teman Shanum.
"Ah iya, tinggal di apar men."
Ujar Shanum.
"Waaah, berarti Ibu Mona orang kaya ya Num?"
Teman-teman Shanum begitu kagum.
"Kaya sekaaaaali, uangnya banyaaaak, apa saja yang Shanum mau dibelikan."
Kata Shanum.
"Wah senang sekali."
Semua geleng-geleng kepala.
"Kata Ibu Mona, nanti kalau Shanum bisa rengking satu akan dibelikan sepeda sama diajak liburan lagi."
"Waaaaw..."
Teman-teman Shanum meng uwaw kan.
"Liburannya ke mana Num?"
"Ngg... Ke mana yaa..."
Shanum seperti berpikir, lalu,
"Mungkin ke Jogja lagi, atau mungkin ke..."
Shanum baru akan bicara lagi, saat tiba-tiba Tari dari dalam rumah memanggil,
"Shanuuuum, sudah sore, mandiiii."
Shanum dan teman-temannya saling berpandangan, dan tak usah menunggu terlalu lama, untuk akhirnya teman-teman Shanum beranjak berdiri lalu cepat-cepat bubar angkat kaki dari sana.
Shanum terlihat berdiri juga dengan malas, ia baru akan masuk, saat dilihatnya Ibunya berdiri di ambang pintu sambil mendelik ke arahnya.
"Ibu Mona, Ibu Mona terus, memangnya siapa Ibu Mona? Sudah, tidak usah diingat-ingat lagi!"
Tari suaranya setengah membentak.
Shanum terlihat berkaca-kaca, ia menatap Ibunya.
Perempuan yang telah mengandungnya selama sembilan bulan itu, yang telah melahirkannya dengan penuh perjuangan, kini entah kenapa membuat Shanum takut.
"Pokoknya, jangan lagi cerita soal Ibu Mona, sebut-sebut Ibu Mona juga."
Tari menonyor kepala Shanum, membuat Shanum mengusap kepalanya.
"Mandi sana sudah sore!"
Kata Tari.
Shanum akhirnya buru-buru masuk rumah.
Ia ngeloyor ke arah kamar.
"Sedikit sedikit Ibu Mona, sedikit sedikit Ibu Mona."
Tari terus mengomel.
"Tapi Ibu..."
"Tidak ada Ibu Mona lagi!!"
Bentak Tari pada Shanum.
Bocah kecil itu tampak diam akhirnya.
Tari setelah itu berjalan menuju kamarnya sendiri, tak peduli anaknya menatap dirinya sambil terheran-heran.
Tari sesampainya di kamar langsung duduk dan memegangi dadanya yang sakit
Terlihat Tari yang wajahnya langsung murung, kedua matanya berkaca-kaca, mengingat bagaimana bangganya Shanum membicarakan sosok Mona membuat Tari cukup sakit hati.
Sungguh anak itu seolah tak tahu bagaimana Tari cemburu setengah mati mendengar betapa bangganya Shanum atas Mona.
Tari mengusap air matanya yang menetes di pipi.
Ia ingat pagi tadi Raditya memintanya berkemas, sementara Raditya sepulang bekerja akan mampir ke rumah Uwaknya Wawan.
Raditya mengajak Tari dan kedua anak mereka untuk pindah sementara waktu. Di tempat yang mereka bisa menghindari Mona untuk beberapa saat.
Tari menghela nafas, membayangkan mereka harus pindah karena menghindari Mona membuat Tari sebetulnya begitu menyesal karena telah ceroboh.
Tapi, nasi sudah jadi bubur, dan Tari juga tak mau meminta maaf pada Mona.
Karena bagi Tari, yang salah itu bukan dirinya. Apa yang ia lakukan sebetulnya adalah satu kewajaran. Sesuatu yang dilakukan semua isteri yang takut suaminya dirampas perempuan lain.
**--------------**
.