MONA

MONA
43. Bersiaplah



Satu hari, dua hari, tiga hari, bahkan nyaris satu minggu, semua terasa baik-baik saja dan berjalan dengan normal tak ada yang terjadi.


Raditya berangkat dan pulang bekerja dengan tanpa kendala, Shanum juga berangkatlah dan pulang sekolah seperti biasa, Tari mengurus rumah juga seperti ibu rumah tangga lain dari mencuci, menyapu, mengepel dan memasak.


Tari juga sudah mulai bisa berbaur dengan tetangga sekitar yang hanya beberapa orang saja karena memang nyatanya tak banyak orang berani tinggal di sekitar tanah pemakaman.


Untuk selama waktu ini Tari merasa ia akhirnya yang menang, ya sekali lagi, ia merasa menang karena bisa menyingkirkan perempuan-perempuan yang bersama suaminya.


Tak peduli berapa uang yang telah suaminya ambil dari para perempuan itu, yang penting saat perempuan itu ingin hubungan lebih, Raditya harus bisa ditarik lagi oleh Tari.


"Jadi Bang Radit supir di gudang meubel yang besar itu?"


Tanya salah satu tetangga,


"Iya Bu,"


Tari mengangguk bangga, mereka berbincang di halaman depan rumah tetangga Tari yang tadi ada tukang jualan sempolan lewat dan mereka para emak-emak beli untuk anak-anak mereka yang merengek minta dibelikan.


"Gajinya gede dong kerja di situ."


Kata Ibu tetangga lainnya.


"Hehe... ya makanya bulan depan kami berencana mau piknik kalau habis gajian."


Ujar Tari,


"Waah senang sekali ya, punya suami ganteng, kerjaannya gajiannya besar, eh ngajak piknik juga."


Seorang tetangga tampak memuji-muji.


"Iya lho, coba suami saya, diminta antar ke pasar saja belum apa-apa sudah marah."


Mendengarnya Tari jadi tertawa,


"Ah masa sih, kalau Bang Radit malah selalu menawarkan aku mau diantar ke mana."


Kata Tari membuat tetangganya semakin cemburu saja,


Dan...


Hari hari selalu berlalu seperti itu, Tari tampak seolah benar-benar menjadi isteri yang paling bahagia di dunia.


Foto profil akun media sosialnya langsung ia ganti bersama Raditya, begitu juga untuk foto profil di akun aplikasi chat nya.


Status story pun tak kalah hebohnya, Tari memenuhi seluruh akunnya dengan semua yang berhubungan dengan foto yang kesannya ia dan Raditya sangat mesra dan romantis.


Tari tampaknya benar-benar berusaha menjadikan seluruh dunia melihat bahwa ia adalah perempuan yang bahagia memiliki dan dimiliki Raditya.


Ia juga ingin menunjukkan bahwa hanya ada dirinya di dunia Raditya.


Sekalipun banyak perempuan lain sempat hadir, tapi nyatanya mereka hanyalah mainan, mereka hanyalah objek keisengan, mereka hanyalah selingan yang kapan saja memang harus dicampakkan.


Ya...


Mereka hanyalah perempuan yang sudah seharusnya dicampakkan, tak terkecuali Mona.


Mana dia?


Katanya dia akan mengurus semuanya, tapi nyatanya semua baik-baik saja sampai hari ini.


Tari sungguh-sungguh merasa menang.


**------------**


"Mon... Mau ikut pesta sushi nggak?"


Tanya Diah saat jadwal pulang kantor.


Mona yang sedang membereskan barangnya di meja kerjanya menggeleng.


"Gampanglah Di, kapan-kapan saja, hari ini aku agak sibuk."


Kata Mona.


"Lah sibuk apa? Besok kan week end, ayolah santai sedikit."


Kata Diah pula berusaha membujuk.


Tentu sebagai sahabat dan juga saudara jauh, Diah khawatir Mona terus tenggelam dalam dunianya yang sempit dan sepi.


Diah ingin menarik Mona keluar dari dunia yang sengaja ia tutup rapat dari banyak orang.


Tapi...


Nyatanya Mona seperti masih mencoba menutup diri, dan masih sangat sulit memaksanya keluar dari zona nyamannya.


Diah pun akhirnya menyerah, ia pamit pergi lebih dulu karena akan pergi dengan teman-teman kantor mereka yang lain.


Setelah kantor sepi, Mona akhirnya keluar dari kantor yang tinggal security.


Dua security di depan kantor memberi salam pada Mona yang melewati mereka.


Mona menuju mobilnya, masuk ke dalam mobil dan setelah itu menyiapkan diri menuju ke suatu tempat.


Sebelum ia menuju ke tempat yang akan ia datangi, Mona lebih dulu mengirim pesan berantai ke beberapa akun media sosial yang sudah ia kumpulkan beberapa hari ini.


Akun-akun media sosial itu yang berhubungan langsung dengan Raditya dan Tari sengaja ia kirimi satu pesan tentang menghilangnya pasangan suami isteri yang telah bersekongkol melakukan penipuan.


Sepanjang Mona diam dan membiarkan Raditya serta Tari menikmati hari tenang, Mona yang merupakan orang yang teliti sekali barhasil menemukan tiga perempuan yang juga sempat ada hubungan dengan Raditya sebelum dirinya.


Ketiga perempuan itu dua diantaranya masih mau ditanya, sementara yang satu sudah malas dan tidak mau bahas soal Raditya lagi.


Dari kedua perempuan itu, Mona juga berhasil mendapatkan bukti transfer mereka pada Raditya yang jumlah uangnya cukup besar juga.


Merasa semakin banyak bukti sebagai senjata untuk menyerang, Mona kini langsung menuju ke tempat yang paling ingin ia datangi.


Yaitu, tempat kerja Raditya, dan juga rumah orangtua Tari.


**------------**