
Tari baru selesai mandi dan akan berganti baju yang hari ini ia rencanakan ingin tampil cantik saat Raditya pulang, manakala hp nya berdering memanggil dirinya.
Tari yang mengira itu panggilan dari Raditya yang mengabarkan akan segera pulang dan bertanya ingin dibelikan apa langsung cepat melompat ke sisi tempat tidurnya di mana di sana hp nya tergeletak.
Tapi...
Perempuan itu sejenak mengerutkan kening, karena tidak biasanya kakak perempuannya menelfon.
Tari yang sebetulnya tak begitu akur dengan kakaknya itu akhirnya malas-malasan ia mengangkat panggilan sang kakak.
"Di mana kamu?!"
Terdengar langsung suara kakaknya yang ketus bertanya begitu Tari mengangkat panggilannya.
Ah lihatlah, belum apa-apa sudah main bentak saja, kebiasaan. Gerutu Tari dalam hati.
"Heh, ditanya diem bae!"
Kesal sang kakak.
"Aku di rumahlah,"
Jawab Tari tak kalah ketus,
"Raditya di mana dia?! Kalau di rumah cepat kalian pulang ke rumah Bapak!"
Kata kakaknya Tari, nadanya benar-benar tidak enak didengar.
Tari mendengus.
Ia selalu merasa bahwa perangai kakaknya itu tidak baik dan menyebalkan. Maka itu pula pastinya kakaknya itu nikai cerai, nikah cerai terus.
"Bang Radit lagi kerja, kalau pulang ya dia harus makan dulu, mandi dulu, dan kalau capek banget ya istirahatlah. Kita ke rumah Bapak besok saja."
Kata Tari akhirnya, yang tentu saja hal itu malah memancing emosi sang kakak makin menjadi-jadi.
"Heh! Kamu pikir aku nyuruh kalian pulang ke rumah Bapak buat main? Buat diajak ngobrol sambil minum teh! Ini soal kalian yang bikin masalah besar!!!"
Bentak kakak Tari.
"Masalah apa nih Kak? Tidak jelas banget sih, wong aku sama Bang Radit tidak ada masalah apapun kok. Kami seperti biasa harmonis saja."
"Diamlah kamu! Ada perempuan bernama Mona ke sini tadi, Ibu sakit ini gara-gara saking malunya dengan kelakuan kalian!! Cepat pulang!!!!"
Kakak Tari benar-benar naik pitam.
Sementara Tari yang mendengar nama Mona di sebut langsung gemeteran di tempatnya.
Dan kakak Tari pun kemudian menutup telfonnya.
Tari duduk di tepi tempat tidur, matanya menatap kosong, sementara tangannya menggenggam hp yang baru saja ia bicara dengan kakaknya.
Di luar kamar Shanum dan Azka terdengar sedang bermain dengan suara yang muncul tenggelam di antara suara TV yang menyala.
Tak lama berselang, Raditya pulang dengan membawa satu bungkus martabak telur.
Kedatangannya tentu saja disambut kedua anaknya, yang langsung mengambil martabak yang dibawa Raditya.
Setelah menyerahkan martabak telur yang ia bawa pulang pada kedua anaknya, ia pun mencari Tari yang ada di kamar dan tampak masih memakai lilitan handuk.
Melihat Raditya masuk ke dalam kamar, Tari menatap Raditya.
"Kenapa tidak berpakaian?"
Tanya Raditya heran.
"Mona."
Kata Tari menyebut nama Mona.
Nama yang beberapa hari terakhir tak pernah mereka bahas lagi karena setiap kali menyebut nama itu maka mereka merasa sangat tidak aman menjalani hidup.
Tapi, malam ini...
"Ada apa? Kenapa kamu sebut namanya?!"
Raditya kesal karena pulang kerja langsung harus mendengar nama Mona yang akan jelas seketika saja membuat dirinya panik.
"Mona ke rumahku!"
Tari dengan suara dan tubuh gemeteran berdiri menghadapi Raditya.
"Apa maksudnya?!"
Tanya Raditya.
"Dia ke rumah orangtuaku!! Sekarang Bapak ingin kita ke sana, Ibu sakit."
Kata Tari dengan wajah mulai pucat, begitu juga dengan Raditya.
**------------**