MONA

MONA
36. Hitam Putih



"Besok, pergilah ke tempat Mona dan minta maaf, selesaikan semua yang kamu mulai."


Kata Raditya pada Tari.


Tari menatap Raditya,


"Aku?"


Tanya Tari,


"Tentu saja kamu yang harus minta maaf, kamu yang membuat Mona semarah itu, kamu yang tidak menjaga mulut dan jari."


Marah Raditya.


"Semuanya jelas kamu yang mulai Bang, kamu yang lebih dulu bersama dia, kamu yang minta uang sama dia, kamu yang berhubungan sama dia."


Kata Tari.


"Tapi kamu yang bikin semuanya runyam, kamu yang ikut campur dan membuat semuanya kacau. Kamu menyulut api hingga semuanya terbakar."


Raditya benar-benar tak habis pikir dengan Tari yang keras kepala dan sama sekali seperti tak merasa bersalah,


"Bang, dimanapun yang namanya isteri akan sama sepertiku, tak rela dan tak tenang jika suaminya dekat dengan perempuan lain!!"


"Tapi sudah kubilang Mona berbeda, fokus dia bukan padaku, tapi pada Shanum! Kamu ini bodoh atau apa!!!!!"


Raditya kali ini kesal bukan main, ia menghindari menampar Tari lagi akhirnya lebih memilih memukul dinding hingga tangannya lecet.


Tari menangis,


"Aku tak peduli, bagaimanapun caranya, kamu harus minta maaf pada Mona. Jika tidak mau masuk penjara dan bercerai, kamu harus minta maaf padanya, pastikan Mona memaafkanmu."


Kata Raditya.


"Apa? Bercerai katamu? Memangnya siapa dia berani dan merasa berhak menyuruh kita bercerai?"


"Dia jadi berhak karena ulahmu! Itu pilihan jika memang kamu tak mau masuk bui!!"


"Kamu pikir aku bodoh? Kalian sengaja membuat rencana ini agar bisa bersama? Begitu maksudnya? Aku tidak akan minta maaf dan aku tidak akan masuk penjara, justeru kalian yang akan masuk neraka!! Kalian yang merusak rumah tangga, Mona perempuan itu jelas iblis yang pura-pura jadi bidadari, hanya iblis yang mau rumah tangga manusia rusak!!!!!!"


Tari histeris, Raditya kepalanya rasanya jadi mau pecah.


"Terserah kau!!"


Raditya malas meladeni lagi, ia memilih keluar dari kamar,


Shanum dan Azka yang terbangun karena mendengar keributan dari kamar orangtuanya, kini menangis di depan kamar mereka sambil jongkok.


Raditya melihat keduanya dengan sedih, Raditya baru akan mendekati Shanum dan Azka, manakala Tari tiba-tiba berlari dan lebih dulu meraih Shanum dan Azka.


"Mereka milikku, tak akan aku biarkan perempuan itu menyentuh Shanum lagi!!! Tidak akan! Tidak Akan!!!!"


Tari histeris lagi.


Raditya dadanya rasanya akan pecah melihat semuanya,


Laki-laki itu demi menjaga agar tak sampai ada pertengkaran yang lebih besar akhirnya memilih keluar dari rumah, ia berjalan menuju pos kamling yang biasanya di jam malam seperti sekarang masih ada beberapa orang yang ngopi-ngopi sambil main catur dan main gitar.


Entah apa yang harus ia lakukan pada kedua perempuan yang ada di antara dia saat ini, Mona yang jelas tak akan menerima alasan apapun lagi, Tari juga yang tak mau menyadari kesalahannya.


Raditya berjalan gontai, andai ia bisa mati malam ini, mungkin akan lebih baik.


**--------------**


Pagi menjelang,


Mona di apartemen terlihat sudah mandi dan sarapan, ia tampak melakukan aktifitas seperti biasanya.


Bangun, bebenah, mandi, sarapan dan kini bersiap ke kantor.


Diah sudah menelfonnya sejak jam lima pagi untuk ikut nebeng ke kantor demi berhemat.


Diah memang belum bisa beli mobil karena ia bekerja sambil membiayai adiknya kuliah dan sekolah, bahkan sepertinya tahun ini adiknya yang baru datang dari kampung juga akan kuliah di kota ini, sekalian menemani Diah tinggal di apartemen.


Sekitar pukul setengah tujuh pagi, saat bel pintu terdengar berbunyi.


Mona bergegas menyambar blazer, tas dan juga kunci mobilnya, dan berjalan cepat menuju pintu.


Diah tampak sudah menunggu sambil tersenyum manis begitu Mona akhirnya membuka pintu unit apartemennya.


"Tumben naik dulu, tidak tunggu di lobby."


Kata Mona yang menutup kembali pintu unit apartemen nya dan menguncinya.


"Ingin memastikan kamu baik-baik saja."


Sahut Diah membuat Mona tertawa kecil.


"Sudah ku bilang aku sudah sehat dan baik-baik saja."


Ujar Mona yang kemudian berjalan beriringan dengan Diah menuju lift.


"Bukan soal sakit perutmu, tapi soal semalam, status itu, di akun media sosialmu, yang dapat tagg dari akun bernama Raditya."


Kata Diah.


Mona yang mendengarnya sejenak jadi menghentikan langkahnya, ia menatap Diah yang jadi ikut menghentikan langkahnya.


Tanya Diah.


"Jangan bilang sudah banyak yang melihatnya."


Kata Mona.


Diah menghela nafas,


"Beberapa orang kantor pasti sudah melihat Mon, Mbak Lis bahkan langsung kirim chat ke aku."


"Ah ya?"


Diah mengangguk.


"Dia sepertinya benar-benar khawatir."


Kata Diah.


"Ya, i know."


Mona lantas kembali melangkah menuju lift, Diah mengikuti.


"Siapa sebetulnya Raditya? Laki-laki beristri?"


Tanya Diah, meski sebetulnya ia takut terlalu jauh mencampuri urusan Mona, tapi ia juga khawatir sahabat serta saudara jauhnya yang baik itu akan terjebak ke dalam toxic relationship.


"Yah."


Sahut Mona santai, yang lantas berdiri di depan pintu, dan menekan tombol turun.


Dia berdiri di sampingnya.


"Kenapa kamu bisa dekat dengan suami orang?"


Lirih Diah takut ada yang dengar.


Tentu ini pertanyaan terlalu sensitif, dan ini pasti sesuatu yang bisa membuat orang berpikir negatif tentang Mona.


"Kamu pikir aku gila? Kalau aku tahu sejak awal dia ada isteri, aku tidak akan pernah memberikan dia kesempatan."


Kata Mona.


Diah menghela nafas.


"Aku sudah menduga, pasti kamu awalnya dibohongi."


Ujar Diah.


Mona nyengir saja.


"Apa aku seperti orang bodoh? Karena begitu mudah dibohongi?"


Tanya Mona seolah iba pada dirinya sendiri.


Diah menepuk-nepuk punggung Mona.


Pintu lift terbuka, keduanya masuk ke dalam lift yang kosong.


"Kamu bukan bodoh Mon, semua orang tahu kamu salah satu pegawai yang cerdas di kantor kita. Kamu hanya kadang terlalu baik dan polos, karena polos kamu jadi kadang terlalu naif."


Kata Diah lagi.


Pintu lift tertutup, dan lift bergerak menuju ke lantai satu.


"Semua sudah terjadi, terus mau bagaimana?"


Kata Mona rasanya matanya jadi mau menangis.


"Sabar Mon, soal status itu kalau kamu merasa namamu dicemarkan, kamu bisa bawa ke jalur hukum misal kamu mau. Sekarang ini kita punya hukum yang cukup bagus,"


Kata Diah.


Mona tersenyum,


"Aku sudah mengancam mereka kok, tenang saja, aku ingin mereka nanti belajar jadinya."


"Kamu berarti memang akan bawa ini ke jalur hukum?"


Tanya Diah.


Mona tertawa kecil,


"Aku baru mengancam mereka, kuharap mereka akan benar-benar takut dan jera."


"Lakukan saja Mon, aku rasa itu sudah keterlaluan, harusnya dia mikir akun media sosialmu bukan akun yang untuk main-main seperti mereka, kamu di sana juga berinteraksi dengan beberapa orang penting dari notaris dan dinas lain."


Kata Diah yang merasa malah lebih emosi.


Mona menghela nafas,


"Mereka punya dua anak yang masih kecil-kecil Di, jika aku benar-benar memasukkan mereka ke penjara, itu akan jadi pukulan untuk anak-anak."


Lirih Mona.


**-------------**