
(Di rumah Dokter Dina)
"Vino! Kamu datang berdua saja dengan supir kamu? Mona mana?" Tanya dokter Dina.
"Mona sudah saya antar ke rumah nya Tante! Saya ke sini mau minta tolong Tante!" Ujar Vino gugup.
"Kenapa harus sungkan minta tolong ke Tante, ya pastilah Tante tolongin! Tapi kenapa kamu gugup begitu?" Ujar dokter Dina.
"Sebenarnya begini Tante! Saya mau minta tolong Tante lamar Mona untuk saya!" Ujar Vino.
"What?" Ujar dokter Dina kaget.
"Kenapa Tante? Tante gak setuju ya?" Tanya Vino takut.
"Tante malah lebih dari setuju Nak!" Ujar dokter Dina senang.
"Haha! Syukurlah Tante setuju!" Ujar Vino senang.
"Oke! Tante akan lamar Mona, kalau begitu kita jemput orang tuanya Mona di kampung, lalu kita bicarakan masalah lamaran." Ujar dokter Dina senang.
Vino pun bahagia sekali, lalu Vino menyuruh supirnya untuk menjemput kedua orang tua Mona pada sore itu juga.
Lalu keesokan paginya kedua orang tua Mona pun sampai, namun mereka tidak langsung ke kontrakan Mona melainkan berada di rumah Vino.
Semua sudah berkumpul di rumah Vino, semuanya pun sedang menunggu Mona datang. Lalu tidak lama kemudian Mona akhirnya datang, sontak Mona kaget karena di sana sudah ada bapak dan ibunya.
"Bapak, Ibu! Ada apa ini? Kenapa semuanya berkumpul di sini? Apa ada berita duka?" Tanya Mona heran.
"Bukan berita duka Nak! Melainkan berita bahagia!" Jawab dokter Dina.
"Berita apa?" Tanya Mona lagi penasaran.
"Ndok! Tadi Bu Dina dan Nak Vino sudah melamar kamu! Jadi sekarang tinggal tunggu keputusan kamu! Kamu setuju atau tidak untuk menikah dengan Nak Vino!" Ujar Bapaknya Mona
Mona langsung kaget dan hatinya pun langsung berdebar debar. Mona sebelumnya tidak pernah merasakan gugupnya di lamar. Padahal sebelumnya dia pernah menikah. Lalu Mona hanya berdiri tegang tanpa berkata apapun.
"Ndok! Bagaimana? Kok diam?" Tanya bapaknya Mona lagi.
"Anu... Saya...(deg..deg..deg..) saya... Duh saya mau ke toilet dulu!" Ujar Mona gugup dan langsung berjalan ke toilet.
Vino jadi semakin gugup dan ragu kalau Mona akan menerima lamarannya, karena dia sadar akan fisiknya.
"Jangan sedih dulu dong! Mona kan belum jawab!" Balas dokter Dina.
"Pasti dia menolak Tante! Mana ada wanita yang mau menikah dengan pria lumpuh seperti aku ini." Ujar Vino sedih.
"Siapa bilang saya menolak?" Sambung Mona.
Mona yang berdiri di belakang Vino pun langsung menjawab.
"Saya terima lamaran Mas Vino! Saya juga suka dengan Mas Vino." Ujar Mona malu dan menundukkan kepalanya.
"Alhamdulillah! Lamaran di terima!" Ujar dokter Dina senang.
Mereka semua pun ikut senang dan bahagia. Lalu dua Minggu kemudiaan Vino dan Mona pun menikah dengan sederhana sesuai permintaan Mona.
Semua tampak hadir kecuali Siska. Andre yang hadir pun mengungkapkan selamat pada Mona, Nining juga ikut senang atas pernikahan sahabatnya itu.
"Terima kasih ya sudah mau menjadi istri ku." Ujar Vino senyum.
"Saya yang berterima kasih Mas! Karena Mas Vino sudah melengkapi ibadah saya!" Balas Mona malu.
"Saya sangat bersyukur mempunyai istri yang Solehah seperti kamu! Mona, I love you!" Ujar Vino lembut.
"Apa itu I love you, Mas?" Tanya Mona yang tidak paham bahasa Inggris.
"Hahaha.. (lalu Vino mendekatkan wajahnya lalu membisikkan ke telinga Mona) dan berkata "aku cinta kamu." Jawab Vino.
Pipi Mona langsung memerah malu dan menjawab "saya juga cinta Mas Vino." Ujarnya malu.
******
(Empat bulan kemudian)
Atas buah kesabaran ibunya Siska akhirnya Siska berubah menjadi lebih baik, karena sebelumnya Siska hampir saja mati di bunuh dengan istri dari Om Hengky yang dia pacari itu, mendengar keputusan Siska ingin berubah membuat ibunya Siska bahagia. Lalu Siska menemui Mona untuk meminta maaf dan seperti biasa Mona selalu memaafkan.
Dan tak lupa juga dengan Mona dan Vino. Dari pernikahan mereka akhirnya Mona hamil dua Minggu. Dengan rasa bahagia Mona menunjukkan surat dari dokter. Ketika melihat isi surat tersebut Vino pun sangat bahagia akhirnya dia punya anak.
Dengan rasa syukurnya atas karunia ini, Vino dan Mona tidak lupa menyumbang kan uang kepada fakir miskin dan anak yatim-piatu. Walaupun selama ini Vino juga banyak menyumbangkan uangnya untuk kebutuhan kampung halaman Mona. Vino juga tidak lupa dengan mertuanya itu, Vino merenovasi rumah orangtuanya Mona dengan rumah yang lebih bagus dan layak.
🌸🌸🌸The end🌸🌸🌸