
Mona berdiri di depan sebuah rumah sederhana yang lampu terasnya menyala redup. Diketuknya pintu rumah itu beberapa kali, hingga akhirnya ada yang membuka pintu dari dalam.
Seorang laki-laki paruh baya mengenakan sarung dan baju koko putih serta kopiah menatap Mona dengan tatapan asing, tentu saja ia tak mengenal Mona, pun juga Mona sebenarnya tak mengenalnya.
Tapi...
"Cari siapa ya?"
Tanya laki-laki separuh baya itu. Mona tersenyum dan mengangguk sopan,
"Mencari Bapak Jafar dan Ibu."
Kata Mona.
Laki-laki separuh baya itu mengerutkan kening, bingung kenapa Mona tahu dirinya,
"Saya ada penting, terkait anak anda Bapak, serta menantu anda."
"Anak saya? Anak saya ada tujuh, siapa maksudnya?"
"Tari."
Jawab Mona cepat.
"Tari dan Raditya, saya ada kepentingan soal kedua orang itu."
Mendengar nama Tari disebut, tentu saja laki-laki paruh baya itupun akhirnya mempersilahkan Mona masuk.
Mona dipersilahkan duduk di atas karpet yang digelar di ruang depan, ruang yang sempit dan sederhana.
"Saya panggil isteri saya dulu."
Ujar laki-laki paruh baya tersebut pada Mona, setelah memastikan Mona duduk lesehan di atas karpet.
Mona mengangguk santun, ia tak lupa juga menyunggingkan senyuman.
Mona, sosoknya memang sejatinya sangat lembut, melihat orangtua Tari dan kondisi rumahnya membuat hatinya nelangsa.
Tapi Mona harus melakukan ini, supaya Tari dan Raditya belajar banyak dari apa yang mereka lakukan.
Mona tampak sibuk menyiapkan beberapa berkas sambil menunggu tuan rumah kembali menemuinya,
Hingga tak lama berselang, laki-laki paruh baya yang tak lain adalah Ayah Tari itu pun akhirnya kembali dengan seorang perempuan paruh baya.
Mona tampak berdiri sebentar untuk menyalami Ibu nya Tari.
Tampak senyum tersungging dari bibir Ibunya Tari pada Mona.
"Maaf Bapak, Ibu, kalau saya mengganggu."
Kata Mona.
Dari dalam kemudian muncul lagi seorang perempuan lain yang lebih muda, ia tampak menyalami Mona dan kemudian ikut duduk di samping Ibunya.
"Ini kakaknya Tari,"
Kata Bapak.
Mona tersenyum pada perempuan yang katanya kakak Tari itu.
Mona lantas meletakkan satu bendel kertas yang sengaja telah ia jilid rapi di hadapan Bapak dan Ibunya Tari, serta kakaknya Tari.
Kata Mona, bersamaan dengan kakak Tari yang mengambil bendelan kertas yang baru Mona letakan di atas karpet.
"Sebetulnya, saya tadinya tidak ada niat datang ke sini dan melibatkan keluarga atas apa yang telah dilakukan salah satu anak dan menantu Bapak dan Ibu, saya sebelumnya ingin langsung mengurus ini ke pihak yang berwajib dan menyeret mereka ke jalur hukum. Tapi, menimbang banyak sekali hal, termasuk adalah anak-anak, maka saya akhirnya memutuskan datang ke sini."
Kata Mona.
Kakak Tari yang sudah membuka beberapa halaman tampak langsung menutupnya lagi, ia menatap Mona yang tersenyum ke arahnya.
"Saya adalah korban dari yang kesekian kali, atas penipuan yang dilakukan menantu anda Bapak dan Ibu. Penipuan yang dilakukan lewat jejaring sosial, di mana korban menantu anda kebanyakan adalah tenaga kerja wanita yang tengah bekerja di luar untuk merubah nasib."
"Terkecuali saya, yang memang tidak langsung ada hubungan apapun selain saya menjadi pelanggan obat herbal yang ia jual. Saya jadi dekat karena anaknya yang bernama Shanum. Mengaku telah menjadi duda, saya berharap Shanum bisa jadi anak saya kelak. Tapi, tentu saja bukan itu poinnya."
Mona diam sejenak, mengatur irama nafasnya agar tetap tenang dan bisa bicara dengan lancar dan jelas,
"Menantu anda dan anak anda, memang terbiasa memanfaatkan empati orang lain untuk meminjamkan, memberikan sejumlah uang. Jika dari para pekerja wanita sebelumnya adalah memberikan uang untuk menantu anda, maka saya adalah untuk anak-anak karena saya memang tidak bisa punya anak dan itulah kelemahan saya."
"Tari, anak anda berdua tahu persis apa yang dilakukan suaminya, tapi dia sengaja membiarkan selama suaminya tidak akan serius dengan perempuan yang ia perdaya."
Mona menatap Ayah dan Ibu Tari yang tampak matanya menatap nanar Mona,
"Anak anda, Tari, sengaja membiarkan karena ikut mengambil keuntungan dari penipuan yang dilakukan suaminya. Lalu setelah nanti dilihat suaminya semakin intens dengan perempuan yang dimanfaatkan, ia akan menyerang si perempuan dan bersikap seolah ia adalah korban, seorang isteri sah yang suaminya akan direbut perempuan lain."
Kata Mona.
"Saya sengaja mencetak semua bukti transfer saya ke rekening Raditya, dan bukti chat dia saat minta uang. Saya juga ada bukti chat Raditya saat dengan banyak pekerja wanita yang di mana juga ia dulu meminta uang pada wanita-wanita itu dan bukti transfer mereka yang masih mereka simpan."
Ibunya Tari yang mendengar Mona menuturkan semua aib menantu dan anaknya tampak langsung menangis,
"Ja.. jadi apa yang harus kami lakukan Nyonya?"
Tanya kakak perempuan Tari yang kini merangkul Ibu agar bisa lebih tenang.
Mona tersenyum,
"Sepertinya saya tidak perlu menjawab pertanyaan anda, karena pastinya Bapak, Ibu dan anda sebagai kakak pastinya sudah tahu apa yang harus dilakukan pada adik dan suaminya."
"Karena mereka tidak ada itikad baik meminta maaf dan mengganti kerugian secara materi dan non materi, saya terpaksa ke sini agar kalian sebagai keluarga tahu apa yang mereka telah lakukan pada banyak orang. Dan jika, akhirnya saya terpaksa membawa ini ke jalur hukum, kalian juga sudah tahu duduk persoalannya."
"Jangan sampai ke polisi... kasihan anak-anaknya... jangan ke polisi... saya mohon Nyonya... saya mohon..."
Ibunya Tari tampak bersimpuh di depan Mona.
Mona menatap Ibunya Tari yang menangis, begitu juga Ayah Tari yang matanya langsung memerah menahan air mata.
"Kedua teman dan masih saudara Tari yang saya temukan akun media sosialnya, dan saya cetak juga, itu mereka juga bisa saya ikut perkarakan membantu pencemaran nama baik karena mereka membagikan tulisan Tari tentang saya."
"Masih banyak sekali bukti yang saya miliki, ini hanya sebagian kecil saja, saya hanya ingin membuktikan bahwa saya serius menangani kasus ini. Saya tidak bisa menerima perlakuan mereka pada saya, bermain-main dengan hidup saya, menganggap tidak bisa memiliki anak adalah sesuatu yang bisa mereka manfaatkan sebagai cara memeras keuntungan dari saya. Saya tidak bisa memaafkan begitu saja atas apa yang mereka lakukan pada saya."
Mona lantas berdiri,
"Katakan pada mereka selesaikan masalah mereka dengan saya, apapun caranya mereka harus selesaikan, karena setelah saya serahkan semuanya pada kepolisian, maka urusan mereka tentu bukan lagi hanya dengan saya, tapi dengan hukum."
Tandas Mona tegas.
**-------------**
.