
Brak!
Kakak Tari melempar semua catatan yang diberikan oleh Mona dan dibendel dengan rapi di depan Tari dan Raditya yang akhirnya langsung datang.
Shanum dan Azka dibawa masuk oleh adik Tari ke bagian dalam rumah yang terpisah.
Beberapa kakak Tari yang lain, termasuk kakak ipar juga hadir karena Ibu jatuh sakit.
Tari dan Raditya menatap bendelan kertas di depan mereka dengan mata nanar.
"Memalukan keluarga, siapa yang mengajarimu menjadi penipu!"
Bentak sang kakak.
Tari matanya menatap kakaknya dengan tatapan protes,
"Kak, aku tidak menipu."
Kata Tari.
Kakaknya memalingkan wajah, sungguh rasanya muak ia mendapati adiknya yang sudah jelas semuanya ada buktinya masih berusaha mengelak.
"Bagaimana bisa kalian secara tidak tahu malu melakukan ini pada orang lain. Para pekerja di luar negeri, dan Nyonya Mona yang harusnya bisa jadi pelanggan obat herbal dan jelas sekali ia orang baik, kalian kerjai sedemikian rupa."
Kakak Tari marah luar biasa, ia sangat malu dan juga merasa kesal karena semua yang mereka lakukan membuat Ibu sakit.
Sementara itu Ayah Tari menatap Tari sama dengan tatapan kecewa.
Ia jelas menyesalkan dengan semua yang telah terjadi.
Tak berbeda dengan saudara Tari yang lain, bahkan Ayah jelas jauh lebih malu lagi.
Ayah memandang Raditya, menantunya yang dulu ia terima pinangannya atas anak gadisnya yang paling cantik itu karena Ayah pikir Raditya akan bisa jadi suami dan kepala keluarga yang baik.
"Katakan, kenapa kamu melakukan semuanya?"
Tanya Ayah pada Raditya.
Raditya yang terus menunduk tak sanggup melihat wajah mertua dan wajah saudara-saudara iparnya itu rasanya kini sudah pasrah akan seperti apa akhirnya.
"Jangan katakan kau sengaja menipu perempuan-perempuan itu untuk uangnya diberikan pada isteri dan anakmu."
Kata Kakak Tari.
Raditya diam saja, ia bingung harus mengatakan apa.
"Semua yang ada di chat kamu, dan semua jumlah uang yang masuk rekeningmu, itu apa sebetulnya rencanamu dengan semuanya?"
Kakak Tari yang lain ikut bersuara,
Dan berisik semua saudara Tari setelah itu memaki Raditya, hingga Raditya benar-benar terpojok,
"Laki-laki tak berguna."
"Makanya jadi laki itu kerja, jangan nganggur terus, akhirnya begitu pikirannya jadi tidak bener."
"Itu kalau semua perempuan yang kamu rayu benar-benar minta dinikahi trus kamu mau bagaimana? Mau kamu nikahi semuanya?"
Mereka begitu berisik.
"Tidak akan."
Tiba-tiba Tari yang menjawab.
"Tidak akan Bang Raditya menikah lagi!"
Kata Tari.
Kakak Tari yang ikut menemui Mona dengan kedua orangtuanya menatap Tari dengan sinis.
"Harusnya kau juga tidak memperbolehkan suamimu membohongi perempuan lain, apalagi perempuan yang sedang sakit. Otakmu di mana!"
Marah Kakak Tari.
Mendengar kata-kata kasar Tari, tampak Raditya yang semula menunduk saja terpaksa menatap Tari dengan tatapan tidak suka,
"Kenapa kamu bicara begitu tentang Mona."
Raditya pada Tari,
"Memangnya kenapa? Memang dia bodoh kan? Kamu hanya bicara soal Shanum sedikit dia langsung berharap banyak, kalau dia tidak bodoh mana mungkin..."
"Tari! Sudah cukup, sudah cukup kita melakukan salah, kita sudah janji akan memperbaiki semuanya sama-sama, setelah semuanya bisa berakhir tanpa ada masalah besar lagi, kita sudah sama tidak akan menjelekkan mereka lagi."
Kata Raditya.
"Lho aku cuma menjelaskan pada kakak karena dia menyalahkanmu."
Tari ngotot.
"Memang aku salah Ri, tidak apa-apa aku akan akui aku salah."
"Kamu nggak sepenuhnya salah, perempuan itu juga salah karena bodoh dan gatel."
"Tari!!!"
Kakak Tari membentak.
"Kamu juga menulis yang tidak benar di media sosial dan bisa dituntut pencemaran nama baik."
Kesal rasanya sudah Kakak Tari melihat adiknya yang keras kepala luar biasa.
"Semua salahku Kak, semua nyatanya salahku, aku memang tidak bisa memungkiri aku memanfaatkan mudahnya mereka percaya dan memberikan empati. Aku memanfaatkan kebaikan mereka. Terutama Mona, dia sebetulnya tidak pernah meresponku sebelum akhirnya aku menawarkan obat herbal dan dia melihat foto Shanum."
Raditya akhirnya jujur.
"Sebetulnya aku tidak ada niat buruk dari awalnya, semua terjadi begitu saja. Karena kebetulan memang hutang menumpuk di luar, sementara aku juga nganggur, pokoknya semuanya karena momennya kebetulan dan akhirnya semua terjadi begitu saja."
Kata Raditya.
"Hutang menumpuk, hutangmu?"
Tanya Kakak Tari yang pertama.
"Ya ada hutangku di warung, ada hutang Tari juga di beberapa bank harian, bank mingguan, di beberapa warung, beberapa tetangga, saudara, bahkan juga teman."
Semua menatap Tari.
"Bukannya kamu selalu minta kami bantu untuk beli beras dan lain-lain? Lalu hutang itu untuk apa?"
Tanya kakak Tari.
"Kamu sering minta beras ke Ibu juga kan?"
Kakak Tari bicara lagi.
Raditya yang mendengar jadi bingung.
Tampak Raditya menatap Tari yang kini terlihat gelisah di tempat ia duduk,
"Maksudnya bagaimana?"
Tanya Raditya benar-benar kebingungan,
"Tari itu seminggu sekali dijatah kakak-kakaknya untuk jajan anak selama kamu nganggur, setiap bulan ada beras, minyak dan telur dari Ibu."
Kata Kakak Tari.
Raditya melongo...
Ditatapnya Tari sang isteri yang kini berusaha menghindari tatapan Raditya.
Dan...
**-------------**