
Flashback,
Mona menatap tajam Raditya,
"Bawa Sasa padaku, aku akan urus dia jika kalian ingin menyia-nyiakannya."
Kata Mona.
Mona lantas berusaha bangkit dari berbaringnya, namun Raditya segera menahan tubuh Mona.
"Kamu harus istirahat Hany, kamu masih belum pulih betul,"
"Aku baik-baik saja, aku akan minta pulang hari ini."
Kata Mona memaksa duduk.
Cairan infus tinggal setengah, setelah beberapa waktu lalu seorang suster menggantinya dengan yang baru.
"Kamu bawakan aku dompet tidak kemarin?"
Tanya Mona, suaranya sudah tak lagi ketus, meskipun tak lantas ia memasang wajah manis.
"Tidak, aku tidak membawa apapun."
Mona menghela nafas,
"Kamu tolong kembalilah ke apartemen, bawakan aku baju ganti, dompet, dan hp ku. Kemarin masuk dengan dibantu satpam? Minta mereka bantu lagi, kunci ada di kamar, semuanya ada di meja."
Kata Mona.
Raditya mengangguk.
Pagi memang telah menjelang, setelah semalaman Mona memarahinya karena masalah Shanum, akhirnya Mona kini mulai biasa lagi pada Raditya.
Meskipun tentu saja, hanya sebatas tak ketus lagi, dan...
Mona bagaimanapun orang yang menghargai setiap pertolongan sekecil apapun, apa yang dilakukan Raditya dengan menyelamatkan dirinya membawa ke Rumah Sakit sudah cukup untuk Mona memiliki sedikit alasan untuk kembali bersikap biasa lagi pada Raditya.
"Aku akan ke apartemen sebentar, lalu aku akan ke sini lagi."
Kata Raditya.
"Pake mobilku, jemput Sasa dulu, baru ke sini, pastikan dia tidak kenapa-kenapa.".
Tandas Mona.
Raditya tersenyum, tampak laki-laki itu mengangguk.
Raditya bersiap pergi, manakala Mona memanggilnya,
"Ya..."
Raditya mendekat ke arah Mona,
"Di dompet sepertinya ada lima ratus ribu, kamu ambil yang empat ratus.
"Untuk bayar apa?"
Tanya Raditya,
"Pakai saja, mungkin harusnya kamu sudah menjual beberapa obat tapi karena mengurusku jadi tak dapat uang."
Kata Mona.
Raditya matanya tampak berkaca-kaca.
"Hany... Kenapa kamu begitu baik?"
Lirih Raditya.
"Baik dan bodoh, pastinya kamu anggap sama bukan? Sampai aku dibohongi soal statusmu, ah bukan soal statusmu yang membuatku marah, tapi kepercayaanku yang kamu anggap main-main yang membuatku benar-benar marah."
Raditya tiba-tiba bersimpuh,
"Jika kamu memintaku bersujud, aku akan melakukannya Hany, sungguh..."
"Aku tidak butuh, lagipula sujud itu hanya kepada Tuhan, kenapa harus aku menerima sujudmu. Ajak saja Sasa ke sini, aku hanya membutuhkannya."
Kata Mona lagi.
"Sedemikian sayangkah kamu dengan Shanum, anakku Hany?"
Raditya menatap Mona.
Mona menghela nafas.
"Mauku sudah tidak, tapi aku bukan tipe orang yang dengan mudah melupakan seseorang, apalagi anakmu, dia tak salah apa-apa, bagaimana aku bisa ikut menghukumnya?"
Mona suaranya tergetar.
"Ajak dia ke sini, biar aku pastikan dia tidak apa-apa."
Raditya mengangguk,
"Baiklah Hany, apapun yang kamu minta, aku akan lakukan semua yang kamu minta..."
Kata Raditya.
Dari apartemen Mona, barulah Raditya pulang ke rumahnya untuk menjemput Shanum yang dikabarkan oleh Uwak jika Shanum badannya sedikit demam.
Flashback berakhir.
**---------------**
Mona duduk di atas tempat tidur kamar perawatannya di Rumah Sakit, jam sarapan dan minum obat sudah lewat, rencananya ia akan pulang siang ini setelah nanti dapat ijin dari dokter yang menanganinya.
Dokter Yunita, dialah yang pertama kali mengetahui Mona memiliki kista yang ukurannya sudah cukup lumayan besar dan juga menvonis Mona tak akan bisa memiliki anak karena tak ada satupun sel telur yang bisa ditemukan pada Mona.
Sekitar pukul sepuluh lebih lima belas menit, saat dokter itu akhirnya tiba di ruangan Mona, menyunggingkan senyuman manis pada pasiennya yang mereka cukup kenal baik.
"Bagaimana Nyonya, sudah lebih baik sekarang?"
Tanya dokter Yunita.
Mona mengangguk dan tersenyum sekilas,
"Sudah lebih baik dok, setidaknya tak sesakit sebelumnya."
Jawab Mona.
dokter Yunita tersenyum,
"Anda ini luar biasa sekali, mau sampai kapan tidak mau operasi?"
Dokter Yunita menatap Mona yang tertawa kecil,
"Entahlah dok, rasanya masih sulit untuk saya memutuskan untuk menjalani operasi."
"Kista tidak akan terlalu mengganggu jika ukurannya kecil, tapi Nyonya Mona ukurannya sudah cukup besar, yang saya khawatirkan..."
"Dia akan berubah jadi kista ovarium ganas? Memiliki sel kanker."
Mona tersenyum karena telah memotong kalimat dokternya.
Dokter Yunita menghela nafas, nyatanya pasiennya yang satu ini memang cukup keras kepala.
"Hidup lama juga sudah tak ada arti, saya memilih sakit saja dan pergi dengan tenang nanti."
Ujar Mona.
Dokter Yunita menggelengkan kepalanya,
"Sungguh sulit bagi saya memahami banyak perempuan meski kita sama-sama perempuan."
Ujar dokter yang cantik dan masih muda itu,
"Semalam saya pulang dari orangtua, setelah pulang dari Rumah Sakit, bertemu perempuan yang hampir membuat anaknya mati kedinginan. Duduk di halte sendirian, hanya karena suaminya tak pulang."
Dokter Yunita tampak terkekeh,
"Hanya demi laki-laki yang tak bertanggungjawab, kenapa sampai nyaris mencelakakan diri dengan duduk sendirian di halte, belum lagi anaknya kedinginan, sungguh untuk saya itu sangat menyedihkan. Seorang Ibu kehilangan kekuatannya, anak-anak mau bagaimana jika sudah begitu..."
Dokter Yunita lantas menatap Mona,
"Dan saya jadi ingat pasien-pasien saya yang menangis histeris seperti anda manakala divonis tak akan bisa memiliki anak, saya berpikir, kenapa banyak perempuan ditempatkan dalam posisi yang terbalik-balik."
Mona tersenyum miris,
"Mungkin perempuan itu hanya memiliki suaminya dalam hidupnya, atau hanya terfokus pada suaminya saja."
Kata Mona.
Dokter Yunita mengangguk.
"Anda juga begitu Nyonya, terfokus pada vonis tak akan punya keturunan, sampai anda mengabaikan kesempatan hidup lebih sehat dari Tuhan dengan menolak oprasi."
"Oprasi juga tak menjamin saya akan punya anak nantinya."
"Setidaknya anda tidak lagi kesakitan, anda bisa lebih bisa hidup dengan baik, dan siapa tahu, ternyata nanti ada sel telur lagi yang muncul, entahlah, kadang Tuhan memiliki rencana sendiri bukan?"
Dokter Yunita menatap Mona, berharap pasiennya mau merubah keputusannya demi kesehatan diri Mona sendiri.
Mona terdiam, ia tahu mungkin ini yang dinamakan putus asa, atau entahlah.
"Cobalah dipikirkan dengan sungguh-sungguh Nyonya, nanti setelah anda bisa merubah keputusannya, hubungi saya segera, saya mohon, demi kebaikan anda sendiri."
Kata dokter Yunita.
Mona akhirnya mengangguk,
Bagaimanapun, mendapat perhatian sebesar itu dari dokter yang bukan saudara dan juga bukan sahabat tentu adalah karunia.
Mona menghargai sikap tulus dokter Yunita kepadanya,
"Saya doakan anda akan berumur panjang Nyonya, saya tahu anda menjadi donatur salah satu yayasan yang sama dengan saya, bumi ini masih butuh banyak orang baik, sehatlah."
Kata Dokter Yunita menyemangati.
**---------------**