
Hujan turun deras begitu maghrib tiba, Raditya terpaksa menepikan motornya sejenak untuk berteduh.
Berharap di bagasi ada jas hujan milik Wawan ternyata tidak ada membuat Raditya harus rela meneruskan perjalanannya ke tempat Mona setelah hujan agak reda.
Tampak bajunya sudah sedikit basah karena berdiri di dekat motor untuk membuka bagasi lebih dulu sambil hujan-hujanan.
Raditya tampak berjongkok di depan sebuah toko yang sepertinya sudah tutup lama jika melihat rolling door nya penuh oleh coretan tidak jelas anak-anak remaja.
Spanduk yang terpasang di sana juga sudah tampak lusuh dan lapuk, bahkan ada yang copot sebagian.
Raditya mengambil satu batang rokok dari bungkus dan menyalakannya.
Sambil menatap nanar hujan yang turun di depannya, Raditya memikirkan semua kejadian sore tadi antara cerita versi Tari dan versi Wawan yang berbeda.
"Istriku melihat Mona saat baru datang bersama Shanum, ia membawa dua kantung kresek oleh-oleh, kata istriku banyak emak-emak menyapa Shanum dan Mona tersenyum ramah pada para Emak-emak, istriku ada di sana Dit."
Kata Wawan bercerita saat Raditya meminjam motor tadi ke rumahnya.
"Lalu kenapa tiba-tiba ia memukuli Tari?"
Tanya Raditya.
"Ada yang bilang sih, kemungkinan Mona mendengar sesuatu yang membuatnya marah, mungkin istrimu bercanda tentang Mona, atau justeru mengatai Mona yang bukan-bukan."
"Mengatai soal apa?"
Gumam Raditya.
"Ya mana aku tahu, tanyalah pada istrimu."
Ujar Wawan.
Raditya menghela nafas.
"Aku sudah tanya, tapi dia bilang Mona datang sudah dalam keadaan marah, dia bilang terimakasih dan cuma menyampaikan kalau aku sudah mulai kerja jadi tidak akan mengantar obat lagi, tapi tiba-tiba Mona memukulinya."
Mendengar hal itu Wawan tertawa.
"Mana ada orang mendengar hal seperti itu langsung mengamuk Dit, ada-ada saja."
Wawan menggelengkan kepalanya.
"Itu sebabnya aku ingin dengar langsung dari Mona, aku ingin tahu cerita versi Mona seperti apa."
Kata Raditya.
"Ya memang sebaiknya kamu datang dan luruskan masalahnya, lagipula tadi saat aku mengantar Mona ke mobilnya, Mona sempat bilang padaku jika bisa jadi ia akan menyeret kasus ini ke jalur hukum."
"Hah?!"
Raditya menatap Wawan.
Wawan tampak mengangguk.
"Sudah kubilang, harusnya kamu jangan main-main dengan perempuan seperti Mona, dia bukan perempuan biasa, jangan hanya karena ia terlihat baik dan lembut, lalu dia juga dalam posisi lemah, lalu kamu merasa bisa mengerjai dia seperti perempuan dari media sosial lainnya. Dit... Dit... dia sudah jelas berbeda."
Kata Wawan.
Raditya menghela nafas lagi, ia sesungguhnya sadar sejak awal saat mengambil keputusan untuk mendekati Mona, tapi...
"Sungguh aku tak benar-benar berniat mempermainkannya, semua terjadi begitu saja, lalu aku harus bagaimana? Sementara masing-masing dari kami merasa saling terikat satu sama lain, aku merasa terikat dengannya, sementara dia merasa terikat dengan Shanum, sementara Shanum jelas terikat denganku."
Kata Raditya.
Pelahan hujan mulai sedikit reda, Raditya melihat jam digital di hp miliknya telah mendekati angka tujuh petang.
Raditya yang merasa hujannya sudah mulai tak begitu deras akhirnya memilih untuk lekas meneruskan perjalanannya ke apartemen Mona.
**---------------**
Shanum yang tak mengerti masalahnya hanya bisa menangis karena dimarahi dan disuruh pergi ikut Mona saja.
Tari yang tampak seperti menggila namun tak berani melakukan apapun karena takut ditalak lagi akhirnya hanya bisa menangisi menahan kesal.
Tari masuk kamarnya, lalu membuka hp nya, ia membuat tulisan di akun media sosial Raditya untuk menjelekkan suaminya dan juga Mona.
[Aku sudah tahu semua kebohongan kalian]
[Bidadari murahan. Pura-pura baik dan berhati mulia, tapi merusak rumah tangga orang]
Tari terus membuat tulisan-tulisan tidak jelas,
[Cari saja tuh berondong atau cowok lain dibayar dua ratus ribu juga mau, jangan suami perempuan lain diganggu]
[Dasar munafik]
Dari semua postingan Tari, jelas saja tulisan-tulisannya itu mengundang respon yang cukup ramai dari banyak orang, terutama saudara, teman dan tetangga baik yang ada di sekitar ia tinggal dan juga yang ada di rumah orangtuanya karena kepo.
[Pelakor ya Ri? Sabar ya...]
[Hmm lagi musim Ri, ati-ati]
[Doain saja semoga pelakor mati secepatnya]
Dan, begitu banyak komentar dari mereka yang jadi terpancing ingin tahu masalah Tari dan Raditya.
Tari yang sejatinya sedang tak butuh dikomentari dan hanya ingin meluapkan emosi saja, setelah menulis begitu banyak unek-unek ia lalu menutup akun media sosial Raditya dan kemudian mematikan hp nya.
Perempuan itu menangis, ia merasa dikhianati, ia merasa cintanya yang begitu suci murni dirampas dengan begitu jahat oleh perempuan yang sebetulnya kelebihannya tidak lebih dari hanya memiliki uang saja.
"Kau sudah janji akan meninggalkannya, kau sudah janji, kenapa sekarang kau pergi kepadanya lagi?"
Tari menatap nanar foto pernikahannya yang digantung di dinding kamar.
Fotonya yang sudah sekian tahun lalu, yang dimana dulu Tari merasa begitu dipuja Raditya, begitu dicintai dan diperjuangkan.
Tari menangis tersedu-sedu, mengingat masa lalu di mana pertama kali mereka diperkenalkan. Raditya yang merupakan sahabat kakak sepupu Tari, yang lantas akhirnya menjadi laki-laki pertama yang mendekatinya dan berhasil mengajaknya pergi tanpa dimarahi orangtua.
Tari yang hanya seorang gadis pingitan, yang tak kenal dunia luar selain apa yang ia lihat di sekitar rumahnya saja.
Banyak pemuda yang menyukainya, banyak pemuda yang menginginkannya, namun akhirnya memang hanya Raditya yang mampu menarik simpatinya, yang mampu membuatnya membuka hati dan bahkan akhirnya menjadikannya benar-benar jatuh hati.
Tari bahkan rasanya masih ingat saat pertama kali membonceng motor Raditya, saat pertama kali diajak jalan-jalan di mall oleh Raditya, saat pertama kali dibelikan baju oleh Raditya.
Hingga kemudian Raditya datang membawakannya cincin untuk dipakai sebagai pengikat, rasanya juga Tari masih bisa merasakan betapa ia begitu bahagia kala itu.
"Kamu akan jadi satu-satunya perempuan dalam hidupku, tidak akan ada yang lain."
Begitu dulu Raditya berkata.
Tari menatap foto pengantinnya lagi.
Ketakutannya memuncak manakala ia membayangkan Mona dan Raditya akhirnya nanti bisa menikah.
Bagaimana jika itu terjadi?
Bagaimana jika itu nanti akan terjadi?
Apa yang harus aku lakukan?
Tari tampak bangun dari posisi berbaringnya, menyeka air matanya yang membasahi pipinya hingga basah kuyup.
Sakit di dadanya begitu luar biasa meski hanya baru membayangkannya saja.
Apapun alasannya Tari sungguh tak rela. Sungguh. Sungguh.
**---------------**