
"SIM?"
Mona mengerutkan kening memandang Raditya yang duduk di sofa yang ada di seberang meja.
Tampak Raditya mengangguk.
"Ya, mumpung ada tawaran pekerjaan yang aku bisa dapat penghasilan tetap setiap hari, demi anak-anak."
Kata Raditya.
Mona melirik Shanum yang terlihat berbaring di sofa di dekatnya.
Shanum berbaring sambil nonton TV animasi produksi Malaysia.
"Sudah cukup lama aku bekerja dengan penghasilan tak menentu, mungkin karena itulah Shanum jadi sakit lambung, sering telat makan."
Tutur Raditya,
"Ya Ayah mana yang mau anaknya sampai telat makan, jika ada uang buat apa sampai anak-anak lapar."
Kata Raditya.
Mona menghela nafas.
"Aku tidak bisa memberi cuma-cuma, kau tahu jika aku belum sepenuhnya memaafkanmu kan?"
Mona menatap tajam Raditya.
Tampak laki-laki itu mengangguk pelan,
"Bagaimanapun aku berhutang karena ditolong dilarikan ke Rumah Sakit."
Lirih Mona, lalu...
"Berapa banyak butuhnya?".
Tanya Mona akhirnya, yang tentu saja membuat Raditya senang luar biasa.
"Aku akan pinjami sebagai ucapan terimakasih dan juga karena demi Sasa."
Kata Mona.
Raditya mengangguk.
"Ya Hany, aku mengerti, aku janji, aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh demi Shanum, aku juga akan mengembalikan uang untuk itu sekaligus juga uang yang tadi untuk berobat Shanum."
Ujar Raditya.
Mona menggeleng,
"Untuk berobat Shanum tidak perlu diganti, aku ikhlas."
Kata Mona.
Raditya tersenyum,
"Kamu memang sungguh perempuan yang sangat baik Hany..."
Mona mendengus,
"Simpan saja kalimat itu untuk istrimu di rumah."
Tandas Mona yang kemudian berdiri dari duduknya, ia berjalan ke kamar untuk mengambil hp,
Mona keluar lagi dari kamarnya, dilihatnya Raditya sudah berpindah tempat duduk di sebelah Shanum.
Sayup terdengar Raditya membujuk Shanum untuk pulang, tapi Shanum tidak mau.
"Shanum ingin di rumah Ibu Mona saja."
Ujar Shanum.
"Nanti Ibu sedih bagaimana?"
Tanya Raditya.
"Kata Ayah tadi di mobil Shanum boleh tinggal sama Ibu Mona? Pokoknya Shanum mau di sini saja."
Shanum merengek, ia sungguh-sungguh tak mau pulang.
Shanum enggan untuk pulang mengingat ia lapar tapi diabaikan Ibunya sampai ia ketiduran, begitu tidur malah juga ditinggal pergi.
"Ehm..."
Mona yang lama-lama kesal melihat Raditya tampak berusaha memaksa Shanum pulang akhirnya mendekati mereka.
"Nomor rekeningmu mana?"
Tanya Mona yang lalu duduk di sofa yang tadi diduduki Raditya.
Raditya menatap Mona.
"Sekarang?"
Tanya Raditya.
Mona mengangguk.
"Ya sekarang, masa harus nunggu tahun depan."
Kata Mona.
Raditya sekilas tertawa.
Raditya lalu mengeluarkan hp nya, dilihatnya nomor rekening miliknya yang saldonya mentok lima puluh ribu.
Raditya menyebutkan nomor rekeningnya,
"Sebentar, berapa dulu kamu butuhnya?"
Tanya Mona.
Raditya lantas memberikan rincian membuat SIM termasuk yang nanti diperlukan serta biayanya.
"Bilang saja langsung berapa nominalnya? Aku masih malas untuk berhitung."
Kata Mona.
Tampak Mona bersiap mentransfer uang yang dibutuhkan Raditya.
"Aku tidak akan melupakan semua kebaikan mu hany..."
Kata Raditya begitu tampak pemberitahuan nominal uang yang dikirimkan Mona.
Mona hanya menghela nafas.
"Biarkan Sasa tinggal di sini dulu, nanti setelah obatnya habis, akan aku antar sendiri dia pulang."
Ujar Mona.
Raditya menatap Shanum sejenak, terfikir olehnya apa yang akan ia katakan pada Tari saat nanti pulang tak membawa Shanum.
Tapi...
Shanum tiba-tiba bangkit dari posisinya berbaring, ia turun dari sofa dan kemudian berjalan ke kamar mandi.
"Dia akan baik-baik saja di sini, kamu kalau mau pulang tidak apa-apa, pulanglah, aki juga ingin istirahat."
Ujar Mona sambil berdiri.
Raditya yang melihat Mona sepertinya memang mengantuk karena mungkin efek setelah minum obat akhirnya berdiri juga.
Raditya pamit pada Mona, begitupun pada Shanum yang baru keluar dari kamar mandi.
"Ayah pulang ya Num."
Kata Raditya pada Shanum.
Mata Raditya berkaca-kaca, rasanya bercampur aduk tak menentu.
Karena melihat Shanum tak bereaksi apapun, Raditya akhirnya benar-benar pergi.
Mona mengantar hingga pintu dan segera menutup pintu apartemennya dan menguncinya dari dalam.
Tak ada senyuman manis, tak ada lambaian tangan yang mengantar kepergian Raditya.
Mona jelas sangat dingin sekarang, tapi Raditya jelas mengerti dengan perubahan sikap Mona yang demikian.
Tak apa, tak masalah, bukankah yang penting ia bisa mendapatkan pinjaman dengan mudah?
Pinjaman yang tak perlu diembel-embeli bunga, atau waktu Jatuh tempo, atau kata-kata panjang lebar yang ujungnya tidak enak didengar.
Raditya berjalan menuju lift, tepat saat hp nya ada panggilan masuk dari Tari.
"Kenapa belum pulang? Ada yang nagih."
Terdengar suara Tari di sana.
"Siapa?"
Tanya Raditya sambil masuk ke dalam lift.
"Dari mingguan."
Kata Tari.
"Bilang saja tidak ada, minggu depan saja."
Ujar Raditya.
Tiba-tiba hp di tangan Tari seperti diambil alih,
"Bang Radit, kapan ini mau bayar, sudah empat minggu janji-janji melulu."
Marah si penagih yang memakai hp Tari.
"Duh iya Bang maaf, kebetulan memang lagi sepi sekali ini permintaan obat herbalnya."
Raditya mencoba memberi alasan.
"Tidak bisa Bang, pokoknya saya tunggu ini di rumah, hari ini saya harus dapat setoran daro Abang."
"Waduh jangan begitulah Bang."
Raditya mengurut keningnya.
Ia padahal sudah sengaja melebihkan pinjaman ke Mona untuk membuat SIM adalah untuk melunasi hutangnya di warkop dan juga untuk membayar hutang di satu tempat yang jika tidak bisa akan menimbulkan masalah baru.
Tapi...
"Pokoknya saya tidak mau tahu Bang, empat minggu ini harusnya sudah masuk setoran enam ratus ribu, masa Bang Radit hanya titip dua puluh lima ribu dan itupun cuma sekali, abang niat bayar atau tidak?!"
Marah si penagih.
"Mumpung kita masih pake cara baik-baik Bang, tolong jangan main-main."
Ujar si penagih lagi.
Lift berhenti di lantai dasar, Raditya keluar dari lift di mana di sana tampak beberapa orang menunggu untuk naik.
Raditya melangkahkan kakinya terus menuju lobby, lalu keluar dari gedung apartemen di mana Mona tinggal itu.
"Ya baiklah Bang, ini saya mau pulang, tunggulah."
Kata Raditya akhirnya.
Biarlah nanti gampang untuk bayar hutang pada seseorang itu ditunda lagi sebentar, siapa tahu nanti setelah bekerja di meubel, ia bisa pinjam uang pada bos nya.
Raditya terus ke arah jalan raya, mencari angkutan dan kemudian naik angkutan untuk pulang ke rumah.
Sementara itu, Mona di balkon kamarnya diam-diam mengawasi Raditya yang pergi menggunakan angkutan.
Mona sudah memutuskan untuk melepaskan harapannya memiliki keluarga kecil dengan Raditya.
Biarlah ia menikmati kebersamaan dengan Shanum seperti ibu dan anak angkat saja, toh nyatanya Mona tetap bisa menyayangi Shanum.
**-------------**