MONA

MONA
28. Kamu Lebih Cantik



"Ngapain si Rini?"


Tanya Raditya sambil masuk ke dalam rumah,


"Tidak apa-apa, cuma mampir saja."


"Jangan terlalu dekat sama dia, sukanya gosipin orang."


Kata Raditya yang lantas duduk di atas karpet rumahnya,


"Buatkan kopi Ri."


Raditya memerintah.


Tari bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu sebentar untuk menutupnya.


"Jangan suka ke tempat Rini juga,"


Kata Raditya lagi,


"Kenapa sih, musuh amat sama Rini, pernah ditolak apa dendam sampai sekarang?"


Ujar Tari sambil melangkah ke arah dapur.


"Dasar tidak bisa dibilangi, selalu saja dibantah."


Gerutu Raditya sambil mengeluarkan bungkus rokok dan mulai mengambil satu batang untuk dinyalakan.


Azka mendekati Ayahnya,


"Kak Shanum tidak pulang Yah?"


Tanya Azka.


Raditya mengelus kepala Azka,


"Kak Shanum sakit, biar sembuh dulu, jadi Azka tidak ketularan."


Kata Raditya.


Azka mengangguk.


Raditya lalu memberikan selembar uang seratus ribuan kepada Azka,


"Bilang Ibu beli nasi pecel lele."


Kata Raditya.


"Azka mau ayam."


Pinta Azka.


"Iya, Azka lauk ayam tidak apa-apa."


Raditya tersenyum.


Azka tentu saja menyambut dengan senang.


Raditya lantas mulai menikmati rokoknya, tampak Tari muncul membawa segelas kopi untuk Raditya.


"Beli nasi pecel lele Ri."


Kata Raditya.


"Uang habis."


Ketus Tari.


"Jawabnya biasa saja, tidak usah ketus begitu, selalu saja bikin kesal."


"Kalau kesal terus sama aku ya sudah sana sama Mona saja."


Kata Tari malah seakan sengaja memancing emosi Raditya lagi.


Tentu saja Tari begitu karena kepikiran kata-kata Rini, sudah memang Tari pada Mona rasanya selalu panas, ditambah pula dapat omongan Rini.


Meskipun, jika melihat sikap Mona yang baik dan biasa saja Tari sebetulnya bisa menenangkan diri, tapi tetap saja begitu melihat Raditya yang selalu membela dan seakan mementingkan sekali Mona membuat darah Tari akan kembali bergejolak lagi.


Raditya ditempatnya menghela nafas.


"Kalau Mona bersedia, tentu saja aku akan dengan senang hati menikahinya."


Kata Raditya kesal sambil menggilas rokoknya yang sebetulnya masih tersisa lumayan panjang.


"Lebih baik aku mandi, beli nasi pecel itu anakmu lapar, uangnya sudah kukasih!"


Kata Raditya lagi.


Tari dadanya terasa begitu sesak mendengar semua kalimat Raditya.


Ingin ia menjerit sekuat tenaga, supaya langit dan bumi tahu bagaimana hatinya kini serasa retak dan nyaris pecah berserakan.


"Bu, nasi ayam, ayo Azka lapar."


Azka mendekati Ibunya yang sedang susah payah menahan sakit di dadanya.


Tangan kecil Azka yang menarik-narik ujung daster Tari membuat Tari menatap sang anak.


"Ayo Bu."


Kata Azka lagi.


Ya, manalah ia perduli apa yang tengah berkecamuk di dalam dada Ibunya.


Yang Azka tahu tentu saja ia hanya ingin segera pergi beli nasi ayam untuk makan.


Tari akhirnya mengalah, toh ia juga merasa lapar.


Azka memberikan uang yang tadi diberi Ayahnya pada sang Ibu.


Tari menerimanya dengan hati nelangsa.


"Ibu ganti baju dulu."


Kata Tari.


Tari bergegas menuju kamar, lalu ganti baju untuk bersiap pergi.


Setelah menyisir rambut panjangnya segala macam, Tari keluar dari kamar dan kembali menemui Azka yang menunggunya sambil mainan bungkus rokok Raditya.


"Ayo."


Tari mengulurkan tangannya, Azka pun segera meraih tangan itu untuk kemudian keluar dari rumah.


"Mau ke mana Bu Tari?"


Tetangga sebelah rumah bertanya.


"Beli nasi Bu."


Jawab Tari.


Tetangga sebelah rumah Tari itu mantuk-mantuk sambil tersenyum.


Tari menggandeng Azka berjalan lewat gang samping rumah yang sedikit gelap jika sudah lewat maghrib.


Gang yang akan menjadi jalan pintas untuk sampai ke jalan kampung, lalu jika mereka ambil lurus terus sekitar berjalan lima menit maka akan langsung ke jalan raya utama di mana di sana banyak orang jualan makanan kaki lima macam nasi goreng dan pecel lele.


"Tari."


Tiba-tiba dari belakang Tari terdengar suara memanggil.


Tari menoleh dan tampak Edi, suami Rini yang juga merupakan teman tongkrongan Raditya sejak bujangan itu berjalan seperti berusaha menjajari langkah Tari.


"Bang Edi, aku pikir siapa."


Tari tersenyum.


"Mau ke mana? Kok sama Azka doang."


Tanya Edi.


"Mau beli nasi, Ayahnya Azka ingin pecel lele, Azka juga lagi mau nasi ayam."


Jawab Tari.


"Wah kebetulan, aku juga mau beli nasi ayam nih, kalau begitu bareng saja."


Kata Edi.


Tari mengangguk.


Mereka lantas berjalan beriringan sambil bicara ngalor ngidul.


"Raditya masih jualan obat herbal? Ada obat kuatnya tidak?"


Tanya Edi.


Tari menggeleng.


"Tidak tahu Bang, tanya saja langsung ke Uwak. Ayahnya Azka kayaknya sudah tidak akan jualan lagi soalnya."


"Lho kok gitu."


"Ya soalnya Ayahnya Azka kan mau kerja di gudang meubel."


"Ooh sudah mau kerja lagi dia?"


Edi mantuk-mantuk.


"Iya, lagi nunggu SIM kayaknya."


"Hmm iya, pas kapan itu di tempatku ada lowongan juga dia tidak bisa masuk karena kendala SIM nya. Aku suruh urus katanya tidak ada biaya, kalau aku pas pegang sih aku kasih pinjam."


Ujar Edi.


Tari mengangguk.


"Iya, Bang Edi padahal kan duitnya banyak, Rini saja lagi-lagi dapat paket belanja online."


Kata Tari.


"Kalau Tari mau bilang saja tidak apa, nanti Abang lah yang bayar."


Ujar Edi.


Tari yang mendengar terlihat senang.


"Beneran ini Bang?"


"Ya bener lah, atau kalau mau beli baju, sandal itu Abang tahu tempatnya yang bagus tapi harganya lumayan tidak mahal-mahal."


"Di mana?"


"Ya nanti kalau Tari mau bisa Abang antar."


"Oh boleh boleh..."


Tari semangat.


"Yang penting tidak usah cerita ke Raditya atau ke Rini, soalnya Rini suka kalap kalau diajak belanja, kalau Raditya sudah jelas dia tidak mengerti kalau perempuan itu butuh juga jalan-jalan, belanja, supaya tidak jenuh di rumah lagi-lagi hanya mengurus rumah dan anak."


Kata Edi yang dibenarkan Tari dari anggukkan kepalanya.


Hingga kemudian tanpa terasa mereka sampai di jalan raya utama, dari arah mereka muncul tinggal belok kiri sekitar dua meter sudah terlihat orang jualan pecel lele.


"Oh iya, aku siang tadi pas antar bos lihat Radit di resto yang lumayan mahal lagi bareng Shanum dan perempuan yang aku baru lihat, kalau boleh tahu siapanya Ri?"


Tanya Edi kepo.


Tari menggeleng,


"Bisa tidak Bang, kita tidak perlu bahas perempuan itu? Aku malas."


Kata Tari.


Edi mengulum senyum, ia merangkul bahu Tari sambil mengusapnya lembut meski hanya sekilas.


"Baiklah Ri, tidak usah bahas lagi."


"Terimakasih Bang Edi."


Tari memaksakan satu senyuman.


Edi menatap Tari, lalu...


"Kamu tenang saja Ri, dibandingkan dia, kamu jauh lebih cantik, jadi kalau Raditya sampai ada sesuatu dengan perempuan itu, jelas Raditya akan rugi."


Kata Edi.


Tari mendengarnya tersenyum.


Secara jujur, saat Tari melihat Mona datang pun ia sudah tahu betul jika ia jauh lebih cantik dibandingkan Mona yang biasa saja.


Satu-satunya kelebihan Mona sebagai perempuan jelas hanya bisa mandiri secara finansial.


Selain itu, dia hanyalah perempuan biasa saja, tidak cantik, penampilan juga standar..


"Pokoknya kamu harus percaya diri Ri."


Ujar Edi.


Tari mengangguk.


**----------------**