MONA

MONA
37. Rencana Sendiri



Mona berjalan menuju mobilnya, diikuti Diah yang masih terheran-heran dengan sikap Mona yang seolah biasa saja.


Tapi...


Untuk Diah, sikap Mona yang demikian di tengah apa yang terjadi, justeru membuat Diah merinding.


Mengingat apa yang pernah Diah baca soal salah satu ciri seorang psikopat, adalah ia seolah tak memiliki emosi yang seperti orang kebanyakan.


Mungkin sekali waktu ia bisa begitu histeris, namun sekali waktu lain ia terlihat cukup tenang, namun justeru ini yang tak bisa dibaca dan diprediksi.


"Kenapa kau menatapku begitu?"


Tanya Mona sambil tersenyum, Diah sekilas nyengir.


Diah mengikuti Mona masuk ke dalam mobil Mona, duduk di sebelah Mona.


"Biar urusanku adalah urusanku."


Kata Mona tiba-tiba, tatapannya lurus ke depan, lalu tangannya mulai menyalakan mesin mobilnya.


Diah diam saja,


Mona melajukan mobilnya pelahan meninggalkan pelataran parkir apartemennya.


Sampai setengah perjalanan menuju kantor mereka berkerja, tak ada satupun dari mereka yang bersuara untuk memulai percakapan lagi.


Entah kenapa semuanya terasa menjadi begitu kaku dan dingin,


Hingga akhirnya mobil masuk ke pelataran kantor keduanya bekerja, Mona akhirnya baru membuka suara lagi,


"Jika ada yang membahas tentangku, katakan pada mereka, itu akan jadi urusanku sendiri."


Kata Mona.


Diah mengangguk, lantas turun dari mobil Mona.


Mona menghela nafas, untuk beberapa saat ia memilih bertahan dalam posisinya duduk di belakang kemudi.


Mata perempuan itu terlihat menerawang ke depan, ada yang membayang jelas di pelupuk matanya,


Yah...


Mereka main-main denganku, mereka menganggap aku seperti mainan yang lucu di saat kondisiku seperti ini.


Bagaimana jika sekarang posisinya dirubah? Aku yang bermain-main? Mona menyeringai.


Mona meraih hp nya dari dalam tas nya, mencari nomor Raditya, dan kemudian ia menulis pesan singkat untuk laki-laki itu,


Tentu saja, setidaknya kita harus satu sama, meskipun aku ingin keadaan bisa berubah menjadi tiga banding satu.


Mona terus mengetik pesannya pada Raditya, berharap laki-laki itu akan segera membacanya.


"Baiklah, ayo kita mulai permainannya."


Gumam Mona sambil tersenyum miring,


Mona menekan send, dan kini tinggal menunggu reaksi Raditya setelah menerima pesan dari Mona.


Bagaimana nanti Raditya pada isterinya yang sok cantik itu, yang dengan bangganya bisa mengancam dengan tak memberi jatah untuk sang suami.


Kita buktikan Tari, siapa yang akan menghancurkan siapa.


Kau yang akan hancur sendirian?


Atau aku yang akan ikut hancur karena dendam ini. Batin Mona.


Mona setelah itu memasukkan lagi hp nya ke dalam tas, lalu bersiap turun dari mobil untuk mulai kerja lagi hari ini.


Yah, nyatanya dunia harus terus berputar bukan?


Meskipun mungkin, ada banyak hal tak enak yang terjadi, meskipun mungkin menjalani hidup di saat ini sudah tak lagi sama seperti dulu.


Mona berjalan dari arah mobilnya menuju gedung kantornya yang berdiri angkuh di depannya.


Satpam kantor terlihat menyambut ramah kedatangan Mona,


Mona sekilas mengangguk.


Perempuan itu kemudian absen sebentar, sebelum kemudian benar-benar masuk ke dalam ruangan di mana ia ditempatkan.


Beberapa karyawan notaris yang biasa ke kantor terlihat satu persatu berdatangan membawa berkas.


Mona hanya sekilas saja menyapa para staf Notaris yang terlihat ramah padanya, lalu setelah itu melenggang lagi menuju ke ruangannya sendiri tanpa memperdulikan lagi siapapun yang memandanginya.


**-------------**